Kisah Pengacara Tolak Gaji Besar Demi Bantu Wanita Yazidi Eks Budak Seks ISIS

BBC Indonesia - detikNews
Sabtu, 04 Jul 2020 07:14 WIB
Rez Gardi
Baghdad -

Rez Gardi di Sekolah Hukum Harvard

Rez Gardi memakai kemampuan hukumnya untuk memperjuangkan keadilan bagi perempuan korban perbudakan dan perkosaan (Rez Gardi)

Rez Gardi menolak tawaran pekerjaan dengan gaji pemula US$ 200.000 atau sekitar Rp 2,9 miliar per tahun. Ia memiliki tujuan lain.

"Di tengah lautan godaan gaji besar dan pekerjaan korporasi yang bagus, saya harus terus mengingatkan diri saya bahwa saya memiliki tujuan hidup yang lebih besar ketimbang hidup mewah," kata Rez Gardi kepada BBC.

"Saya mengambil jurusan hukum karena sebuah alasan tertentu....Saya ingin memahami kekuatan hukum untuk membuat sebuah perubahan yang positif," katanya.

Rez turut memperjuangkan keadilan bagi perempuan yang telah diculik, dijual, dan diperkosa secara sistematis oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS. Ini adalah tujuan hidup pribadi yang signifikan baginya.

"Orang tua saya kabur dari wilayah ini dan membawa saya ke sisi lain dunia, tapi saya masih bisa kembali ke tempat awal mula mereka."

Tumbuh dengan ketidakadilan

Rez Gardi di Irak utara

Rez mengatakan penderitaan orang Yazidi tidak dapat dibayangkan (Rez Gardi)

Rez lahir di sebuah kamp pengungsi di Pakistan pada 1991. Orang tuanya adalah suku Kurdi dari Irak, dan ia tumbuh besar dengan mendengar kisah-kisah anggota keluarga, tetangga, dan teman-temannya yang hilang selama rezim Saddam Hussein.

Ketika ia berusia tujuh tahun, keluarganya pindah ke Selandia Baru. Ia selalu berprestasi dalam pendidikannya dan tahun lalu lulus dari Sekolah Hukum Harvard di Amerika Serikat.

"Saya dilahirkan dalam sebuah keadaan yang membuat saya tertarik kepada kesetaraan, keadilan, dan hak asasi manusia," katanya. "Saya telah mengalami dan menyaksikan ketidakadilan dan penyangkalan terhadap hak asasi manusia jauh sebelum saya mengetahui apa arti konsep tersebut."

'Saya bisa menjadi korban'

Kini ia giat mengumpulkan kesaksian atas ketidakadilan yang terjadi di bagian utara Irak, dekat dengan lokasi kejahatan yang terjadi pada tahun 2014.

Rez dalam sebuah rapat

Rez fokus mengumpulkan kesaksian para perempuan yang belum bicara kepada media (Rez Gardi)

Ketika tentara ISIS meraih kekuasaan di wilayah tersebut, mereka mengasingkan kelompok etnis religius Yazidi untuk alasan tertentu.

Yazidi adalah komunitas yang sudah terbentuk sejak lama dengan anggota sekitar setengah juta orang. Jihadis IS menganggap mereka sesat dan bahkan bukan manusia.

Serangan cepat yang dilancarkan militan ISIS membuat ribuan warga desa yang ketakutan lari ke dekat Gunung Sinjar.

Ratusan orang berlindung di sisi pegunungan, namun banyak orang yang meninggal karena temperatur udara yang panas.

Pria muda Yazidi, yang dianggap mampu berperang, ditangkap dan langsung dieksekusi. Laporan yang dirilis London School of Economics tahun lalu memperkirakan sebanyak "10.000 orang Yazidi dibunuh atau diculik dalam serangan tersebut."

Hidup layaknya neraka dialami oleh perempuan dan anak perempuan yang ditangkap ISIS.

Pengungsi Yazidi menyeberang perbatasan Suriah-Irak

Ribuan etnis Yazidi lari dari serangan Islamic State (Getty Images)

"Ketika saya duduk di depan seorang penyintas dan mendengarkan kisah mereka, saya merasakan kesedihan yang luar biasa karena mereka harus melalui ini semua dan saya merasa sangat marah."

Kebuasan ISIS membuat Rez sangat terkejut.

"Saya berpikir bahwa ini dapat terjadi kepada saya, kakak perempuan saya, ibu saya, dan keponakan saya. Kenapa harus ada seseorang yang mengalami ini?" katanya.

Kejahatan perang

Menghubungkan kejahatan ini ke individu tertentu dan membuktikannya adalah tugas yang berat.

Seorang perempuan Yazidi menangis setelah menyeberang dari Suriah untuk kembali ke Irak

Beberapa etnis Yazidi lari ke Suriah, sebelum kembali ke Irak (Getty Images)

Fokus utama Rez adalah para perempuan yang belum dihubungi oleh media dan kelompok hak asasi manusia lain.

"Perempuan Yazidi dapat mengingat berapa kali mereka diperdagangkan dan di mana mereka ditahan. Mereka juga dapat memberi kesaksian soal perkosaan dan kekerasan seksual yang dialaminya. Mereka dapat mengidentifikasi pria dari ISIS," kata Rez.

ISIS adalah kelompok yang terorganisasi dengan baik dan Rez mengatakan terdapat pola yang jelas dalam upaya mereka untuk menghapus etnis Yazidi.

"Mereka memisahkan pria dari perempuan, lalu perempuan tua dari perempuan muda. Ini karena perempuan muda yang belum menikah dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi sebagai budak seks. Banyak pria dan perempuan tua dibunuh di tempat."

Pengungsi Yazidi saat menyeberang perbatasan Irak-Suriah

Beberapa desa ditinggalkan warganya setelah militan IS bergerak cepat (Getty Images)

Ia berharap, investigasi lebih lanjut akan memungkinkan penuntutan terhadap individu militan IS.

"Ini bersifat rahasia dan sangat sensitif. Saya hanya akan membawa bukti dari perempuan yang mampu memberikannya. Beberapa dari mereka terlalu trauma untuk membicarakan hal ini sekarang."

Hasil kerjanya di lapangan menemukan bahwa tindakan kriminal tidak hanya dilakukan oleh para militan.

"Beberapa orang Arab di area Mosul--pria kaya dan berpengaruh--membeli perempuan."

Kampanye keadilan

Amal Clooney dan Nadia Murad

Nadia Murad (kanan) dan pengacara HAM Amal Clooney saat berbicara di hadapan Dewan Keamanan PBB (Getty Images)

Nadia Murad adalah salah satu perempuan yang ditangkap, disiksa dan diperkosa oleh militan pada 2014. Saat itu ia baru berusia 21 tahun.

Nadia, seorang aktivis yang vokal, menerima penghargaan Nobel perdamaian pada tahun 2018, namun, seperti banyak etnis Yazidi lainnya, ia tidak mendapat keadilan.

"Beberapa tersangka ditahan di Irak, beberapa di Suriah, dan beberapa di Eropa. Bukti yang ada cukup kuat di beberapa kasus untuk dibawa ke pengadilan," kata Rez.

Namun perang saudara masih berkecamuk di Suriah dan sistem hukum Irak juga bermasalah.

Irak tidak memiliki sistem hukum yang memadai untuk menghadapi kasus kejahatan seperti penyiksaan berbasis gender, genosida, dan kejahatan kemanusiaan, menurut lembaga non-profit asal Amerika Serikat, Global Justice Centre.

Prosekusi

Meski memiliki keterbatasan, sebuah pengadilan Irak baru-baru ini menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang militan IS atas tuntutan memerkosa seorang anak perempuan Yazidi, Ashwaq Haji, ketika ia berusia 14 tahun.

Perempuan Yazidi, Ashwaq Haji, dijadikan budak seks oleh Islamic State

Pelaku yang memperbudak dan memerkosa Ashwaq Haji dijatuhi hukuman mati di Irak (Getty Images)

Ashwaq kembali ke Irak dari Jerman, tempat tinggalnya sekarang, untuk memberi kesaksian di pengadilan.

Pada April 2020, sebuah pengadilan di Jerman mulai mendengarkan sebuah kasus yang melibatkan seorang pria yang dituding memperbudak seorang ibu dan anak.

Pria itu kemudian membunuh anak perempuan yang berusia lima tahun tersebut dengan memborgolnya ke sebuah jendela ketika temperatur panas.

Ini adalah kasus pertama di Eropa yang melibatkan korban dari etnis Yazidi.

"Keadilan akan makan waktu bertahun-tahun. Pengumpulan bukti sendiri akan menjadi proses yang lama. Tapi kami telah melihat beberapa kasus sukses. Itu memberi harapan bagi saya."

Pelajaran dari sejarah keluarga

Rez optimistis, meski keluarganya pernah menderita selama rezim Saddam Hussein.

Rez Gardi di sebuah gunung

Rez telah kembali ke negara tempat kelahirannya (Rez Gardi)

"Nenek dan dua adik ibu saya tewas dalam sebuah serangan kimia, dan kejadian itu membuat kakek saya hidup dengan disabilitas. Ibu saya melihat kematian ibunya dan ia harus menjadi kepala keluarga saat ia berusia 10 tahun," katanya.

Human Rights Watch memperkirakan sekitar 50.000-100.000 etnis Kurdi tewas pada 1988. Korban tewas mencapai 180.000, menurut etnis Kurdi.

Eksekusi cepat terhadap Saddam membuat etnis Kurdi tidak bisa mencari keadilan, kata Rez. Saddam tidak pernah dikenai tuntutan resmi atas genosida tersebut, menurut Rez.

Rez Gardi memegang bendera Kurdi

Rez bangga atas darah Kurdinya (Getty Images)

"Inilah kenapa saya dapat merasakan penderitaan Yazidi. Ketika saya berjuang untuk mereka, saya merasa saya berjuang bagi etnis Kurdi yang dibunuh oleh Saddam," tambahnya.

Meski etnis Kurdi merasakan kehilangan yang mendalam, ia melihat bahwa etnis Yazidi adalah komunitas yang lebih rentan.

"Etnis Kurdi Yazidi adalah minoritas dalam sebuah kelompok minoritas, sehingga situasi mereka makin buruk."

Jangan terulang lagi

PBB telah membentuk sebuah komisi investigasi untuk melihat kejahatan yang dilakukan oleh IS.

Rez Gardi saat mengantar paket

COVID-19 telah menghambat Rez bertemu korban dan mengumpulkan bukti (Rez Gardi)

Selain menemukan bukti yang berkualitas, ia berharap memori para warga dunia akan membantunya untuk mengumpulkan dukungan guna memburu para penjahat ISIS.

"Ketika Saddam membunuh anak-anak Kurdi dengan senjata kimia, berita itu butuh waktu lama untuk didengar dunia. Dunia melihat apa yang terjadi pada etnis Yazidi," katanya.

Ia berharap para perempuan Yazidi mendapatkan keadilan, yang akan menguntungkan generasi berikutnya di masa depan.

Selain menyembuhkan para korban, ia yakin keadilan akan memberi efek jera.

"Kita perlu berjuang untuk dunia yang lebih baik guna memastikan hal-hal seperti ini tidak akan terulang lagi."

Tonton juga 'Cetak Rekor! Polisi Italia Sita 14 Ton Amfetamin Buatan ISIS':

[Gambas:Video 20detik]

(nvc/nvc)