Ramai Diboikot Pengiklan, Apakah Facebook Akan Mati?

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 18:34 WIB
Reuters
Jakarta -

Boikot bisa sangat efektif, dan inilah yang sedang dialami Facebook.

Pada akhir abad ke-18, gerakan penghapusan perbudakan di Inggris menganjurkan agar masyarakat tidak menggunakan barang-barang yang diproduksi oleh budak.

Anjuran ini manjur.

Sekitar 300.000 orang berhenti membeli gula, demi menekan penghapusan perbudakan.

Kampanye "Stop Hate for Profit" merupakan salah satu gerakan yang menggunakan boikot sebagai alat politik yang sedang marak saat ini.

Inti kampanye ini adalah bisnis mestinya tak mengambil keuntungan dari konten yang dinilai mempromosikan kebencian.

Gerakan ini menyatakan bahwa Facebook enggan menghapus muatan-muatan berbau rasis dan ujaran kebencian dari platform mereka.

Mereka berupaya meyakinkan beberapa perusahaan besar untuk menarik iklan mereka dari Facebook dan beberapa perusahaan media sosial lain.

Beberapa yang sudah melakukannya adalah Ford, Adidas dan HP.

Mereka bergabung dengan beberapa lagi yang sudah terlebih dulu melakukannya termasuk Coca-Cola, Unilever dan Starbucks.

Situs baru Axios juga melaporkan bahwa Microsoft menunda iklan di Facebook dan Instagram bulan Mei lalu karena adanya kekhawatiran terhadap "muatan yang tak pantas" tanpa menyebutkan dengan rinci apa yang mereka maksud.

Sementara itu, beberapa platforms daring seperti Reddit dan Twitch juga menerima tekanan dan mengambil langkah anti ujaran kebencian mereka sendiri.

Kehilangan kepercayaan

Bisakah boikot mematikan Facebook?

Jawaban singkat: ya, mengingat sebagian besar pendapatan Facebook berasal dari iklan.

David Cumming dari Aviva Investors mengatakan kepada BBC bahwa hilangnya kepercayaan dan anggapan ketiadaan panduan moral bisa "menghancurkan bisnis".

Hari Jumat (26/06), saham Facebook jatuh 8% - menyebabkan Mark Zuckerberg, secara teori, berkurang kekayaannya sebesar Pound 6 miliar.

Mark Zuckerberg

Hari Jumat (26/06), saham Facebook jatuh 8% yang menyebabkan Mark Zuckerberg, secara teori, berkurang kekayaannya sebesar Pound 6 miliar. (Getty Images)

Namun apakah ini akan menjadi ancaman lebih besar kepada masa depan Facebook, masih belum jelas.

Karena ini bukan pertama kali adanya boikot terhadap perusahaan sosial media.

Di tahun 2017, banyak pemilik merek terkenal mengumumkan akan menghentikan iklan mereka di YouTube sesudah adanya sebuah iklan dipasang di video yang rasis dan homofobik.

Boikot ini hampir dilupakan orang sekarang.

YouTube mengubah kebijakan iklan mereka, dan tiga tahun sesudah boikot itu perusahaan pemilik YouTube, Google baik-baik saja.

Ada lebih banyak alasan lagi untuk meyakini bahwa boikot ini tidak berdampak terlalu keras kepada Facebook seperti yang kita bayangkan.

Banyak pengiklan kecil

Pertama, kebanyakan perusahaan ini hanya berkomitmen untuk memboikot selama sebulan, yaitu bulan Juli tahun ini saja.

Kedua, dan mungkin ini lebih penting, kebanyakan pemasukan iklan untuk Facebook datang dari ribuan perusahaan kecil dan menengah.

CNN melaporkan bahwa 100 pengiklan besar di Facebok menghabiskan anggaran US4,2 milyar tahun ini. Ini setara dengan 6% pendapatan Facebook dari iklan.

Sejauh ini, perusahaan-perusahaan sedang dan kecil tidak ikut serta di dalam boikot ini.

Mat Morrison, direktur strategi di biro iklan Digital Whiskey, mengatakan bahwa ada sejumlah besar bisnis kecil yang "tak mungkin tetap hidup tanpa beriklan".

Katanya, bisnis kecil yang tak mampu membayar untuk beriklan di TV memusatkan iklan mereka di platform seperti Facebook karena lebih murah dan lebih fokus ke audiens yang disasar.

"Satu-satunya cara agar bisnis kami berjalan adalah adanya akses kepada audiens yang dituju, bukan audiens di media massa. Maka bisnis kami akan terus pasang iklan, kata Morrison.

Sebenarnya Facebook tampak seperti perusahaan yang tepat untuk dilobi.

Struktur Facebook memberi Mark Zuckerberg kekuasaan yang besar untuk membawa perubahan. Jika ia menginginkan sesuatu di Facebook, pasti itu terjadi.

Kita hanya perlu mengubah pandangan satu orang ini saja.

Namun yang terjadi bisa juga kebalikannya.

Para pemilik saham tidak bisa menekan Zuckerberg dengan cara yang sama dengan di perusahaan lain. Jika ia tidak mau, maka tidak akan terjadi.

Sampai sejauh ini, ia tidak menunjukkan akan berubah.

Bisa berhasil

Starbucks

Starbucks dan sejumlah merek global lain bekukan pasang iklan di Facebook dan Instagram. (Getty Images)

Perubahan yang sekarang terjadi belum cukup menurut "Stop Hate for Profit".

Sementara itu platform yang lain sudah mengambil tindakan.

Hari Senin (29/06) Reddit menutup forum Donald Trump sebagai bagian dari razia terhadap subreddit yang anggotanya terlibat dalam perundungan dan perilaku yang mengancam.

Komunitas forum ini tidak terkait langsung dengan Trump tetapi telah membantu penyebaran meme yang mendukungnya, sebelum Reddit akhirnya mengambil langkah membatasi jangkauan unggahan tersebut.

Selain itu, Twitch telah menutup sementara akun yang dikelola oleh tim kampanye Trump.

Menurut Twitch, situs streaming video yang dimiliki Amazon, tim ini menyebarkan dua video yang kampanye Trump yang melanggar panduan ujaran kebencian di situs tersebut.

Salah satunya terjadi di tahun 2015, sebelum Trump terpilih, di mana ia berkata bahwa Meksiko mengirimkan pemerkosa ke AS.

Satunya lagi berasal dari awal tahun ini ketika Trump secara fiktif menggambarkan adanya "orang Meksiko kasar yang menerobos masuk ke rumah seorang perempuan Amerika.

Tahun ini akan menjadi tahun yang penuh guncangan bagi perusahaan media sosial.

Facebook tidak terkecuali. Namun langkah perusahaan-perusahaan ini tetap akan dipandu oleh keadaan keuangan mereka.

Jika boikot berlangsung hingga beberapa bulan ke depan dan perusahaan lain bergabung, ini bisa jadi tahun yang menentukan bagi masa depan Facebook.

(ita/ita)