DPR AS Sahkan RUU George Floyd untuk Reformasi Kepolisian, Trump Ancam Veto

BBC Indonesia - detikNews
Jumat, 26 Jun 2020 15:38 WIB
Ketua DPR AS Nancy Pelosi (tengah) menyambut baik RUU George Floyd (EPA)
Washington -

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat telah mengesahkan RUU reformasi kepolisian. Namun bila menilik situasi terakhir, RUU ini diprediksi memiliki sedikit prospek untuk menjadi hukum di tengah perbedaan sikap partai.

DPR yang kini dikuasai partai Demokrat memberikan suara 236-181 dalam pemutusan RUU yang selaras dengan perspektif partai itu pada Kamis malam.

RUU itu dinamai George Floyd, sesuai dengan nama seorang pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal setelah ditekan lehernya menggunakan lutut oleh polisi pada bulan Mei lalu, yang kemudian memicu protes di seluruh dunia.

Namun Presiden AS Donald Trump mengancam akan memveto RUU George Floyd.

Sementara, rekan-rekan Republikan Trump di Senat mengusulkan RUU mereka sendiri yang berbeda.

Apa isi RUU DPR?

George Floyd Justice in Policing Act, atau RUU George Floyd soal Keadilan dalam Kepolisian, disahkan tepat sebulan setelah kematian pria asal Minneapolis, Minnesota - disahkan dengan cepat bila dibandingkan dengan kebiasaan badan legislatif yang penuh pertimbangan.

RUU yang didukung partai Demokrat ini akan meminta pertanggungjawaban polisi secara pribadi atas tuntutan dalam gugatan hukum, melarang surat perintah tanpa-ketukan pintu yang sering digunakan oleh polisi dalam penggerebekan narkoba, dan menghentikan aliran peralatan militer yang berlebih ke departemen kepolisian.

Tiga orang anggota Republikan melintasi prinsip partai dan memilih mendukung RUU George Floyd.

Tetapi Senat Republik telah menolak untuk mengambil RUU versi DPR AS ini, dengan alasan RUU tersebut merupakan suatu penjangkauan yang akan merusak penegakan hukum.

Apakah ada ruang untuk kompromi?

Proposal Partai Republik dan Demokrat akan mengurangi otoritas polisi, memperkenalkan prosedur pelatihan baru, berusaha untuk memperluas penggunaan kamera tubuh dan membuat registrasi nasional untuk petugas yang dituduh melakukan pelanggaran.

Namun, Demokrat mengatakan RUU yang diajukan partai Republik tidak akan melindungi warga kulit hitam Amerika, dengan alasan bahwa hal itu bergantung pada pengumpulan data dan insentif keuangan untuk departemen kepolisian negara bagian dan lokal untuk mengadopsi reformasi sendiri.

Pada hari Rabu, anggota Demokrat di Senat mengelak suara yang dibutuhkan Partai Republik untuk membuka debat tentang undang-undang mereka.

Presiden Trump berkata, "Jika tidak ada kemajuan dalam hal tersebut, maka isunya menjadi seperti itu. Kami memiliki filosofi yang berbeda."

Tidak ada rancangan undang-undang yang mencakup pengurangan keuangan kepolisian dan mengalihkan pengeluaran itu ke layanan masyarakat lainnya, seperti yang diminta oleh aktivis Black Lives Matter.

Apa kata Demokrat dan Republik?

Ketua DPR Nancy Pelosi berkumpul dengan anggota Congressional Black Caucus, atau Kaukus Hitam Kongres, di tangga Capitol pada hari Kamis dan berkata, "Tepat satu bulan yang lalu, George Floyd mengucapkan kata-kata terakhirnya - 'Saya tidak bisa bernapas' - dan mengubah jalan sejarah."

Hakeem Jeffries, seorang anggota Demokrat New York, mengatakan: "Di sini di Amerika, setiap ibu kulit hitam dan setiap ayah kulit hitam harus berbicara dengan anak mereka tentang apa yang harus dilakukan ketika didekati oleh polisi."

Tapi Debbie Lesko, seorang Republikan Arizona, berkata: "Semua nyawa penting."

Dan Glenn Grothman, seorang Republikan dari Wisconsin, dikutip oleh Washington Post mengatakan tentang Demokrat, "Mereka tidak ingin membicarakannya ketika orang kulit putih terbunuh."

Tim Scott, satu-satunya anggota Senat dari partai Republik yang berkulit hitam dan penulis RUU reformasi polisi Senat yang gagal, menuduh Demokrat memainkan "politik ras murni" menjelang pemilihan umum November.

"Akan ada darah di tangan Demokrat," kata Scott dari Carolina Selatan kepada Fox News, jika lebih banyak orang kulit hitam Amerika meninggal karena kelambanan kongres.

Awal minggu ini, Pelosi membuat marah Partai Republik dengan menuduh mereka "berusaha melarikan diri dengan pembunuhan, sebenarnya. Pembunuhan George Floyd."

(ita/ita)