Sedang Hamil, Aktivis Safoora Zargar Ditangkap di India Saat Lockdown

BBC Indonesia - detikNews
Rabu, 13 Mei 2020 14:25 WIB
BBC
New Delhi -

Saat itu pukul 14.30 ketika sekelompok polisi tiba di rumah Safoora Zargar yang terletak di Delhi bagian tenggara, India.

Mahasiswa sosiologi berusia 27 tahun dari universitas bergengsi Jamia Milia Islamia itu tengah tidur siang, kata suaminya, yang tidak ingin disebutkan namanya, kepada BBC.

Pasangan itu menikah 19 bulan lalu, dan Zargar baru tahu beberapa minggu sebelumnya bahwa dia hamil.

"Dia merasa mual dan umumnya lesu," katanya.

Suaminya mengatakan, saat tiba, para petugas menyebut berasal dari "sel khusus" - sebutan untuk kesatuan anti-teror polisi Delhi - dan meminta Zargar untuk ikut bersama mereka ke kantor polisi di pusat Delhi.

Para polisi itu mengatakan ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang keterlibatannya dalam protes terhadap Undang-Undang Kewarganegaraan (Citizenship Amendment Act - CAA) yang menurut para kritikus bersifat diskriminatif terhadap umat Muslim.

Di kantor polisi, Zargar diinterogasi selama beberapa jam, dan pada pukul 22.30 dia ditetapkan tersangka dan langsung ditahan. Kejadian itu terjadi Jumat, 10 April 2020.

Total sudah satu bulan hingga sekarang, Zargar dimasukkan ke penjara Tihar yang penuh sesak di Delhi - pada saat India menerapkan 'lockdown' dalam memerangi pandemi virus corona dan penasihat pemerintah sendiri mengatakan wanita hamil sangat rentan terhadap infeksi.

Zargar telah didakwa dengan Undang-Undang Pencegahan Aktivitas Melanggar Hukum (UAPA) - sebuah hukum yang membuat hampir tidak mungkin bagi terdakwa untuk mendapatkan jaminan.

Sejak penangkapan, dia hanya diizinkan melakukan dua panggilan telepon selama lima menit, yaitu kepada suaminya dan pengacaranya. Sementara itu, dia dilarang baik untuk kunjungan ataupun kiriman wesel karena pembatasan Covid-19.

Polisi berjalan di atas puing-puing di daerah yang terkena dampak kerusuhan Shivpuri setelah bentrokan Citizenship Amendment Act (CAA) di Delhi

Kerusuhan agama melanda bagian utara-timur Delhi pada bulan Februari (Getty Images)

Zargar adalah satu di antara sejumlah mahasiswa Muslim dan aktivis yang telah ditangkap dan dipenjara sejak 'lockdown' India yang dimulai pada 25 Maret lalu.

Sebagai anggota Komite Koordinasi Jamia (JCC), sebuah kelompok mahasiswa, Zargar telah aktif mengorganisir protes damai menentang UU CAA di utara-timur Delhi. Adik perempuannya, Sameeya, menggambarkan kakaknya sebagai orang yang "sangat berani, jujur, dan keras kepala".

Namun polisi menuduh Zargar sebagai "konspirator kunci" kerusuhan yang melanda daerah itu pada Februari, ketika 53 orang, sebagian besar Muslim, tewas.

Pihak keluarga Zargar menolak tuduhan polisi - Sameeya mengatakan saudara perempuannya bukan penjahat tetapi seorang mahasiswa dan aktivis yang menggunakan hak demokrasinya untuk protes dan menyampaikan pendapat.

"Dia selalu di luar sana - seorang siswa, berdiri dengan siswa lain."

Polisi Delhi bersikeras telah melakukan "pekerjaan dengan tulus dan tidak memihak" dan "semua penangkapan yang dilakukan didasarkan pada analisis bukti ilmiah dan forensik".

Tetapi para kritikus menyebut pihak berwenang menggunakan narasi palsu dalam menghubungkan protes dengan kerusuhan.

"Dalam pandangan saya, ini adalah penganiayaan," kata pengacara dan aktivis Prashant Bhushan kepada BBC.

Pemerintah, katanya, berusaha untuk menekan semua perbedaan pendapat, dan menangkap para mahasiswa dan aktivis.

"Muslim adalah yang rawan tindak kekerasan dan dianiaya," katanya.

Dari 23 hingga 25 Februari lalu, sekelompok warga Hindu terlihat menyerang lingkungan warga Muslim, dipersenjatai dengan tongkat, batu dan bom molotov, serta meneriakkan slogan-slogan agama Hindu.

Banyak warga Muslim digantung, rumah dan bisnis mereka dirusak dan dibakar, masjid-masjid hancur dan ribuan lainnya dipaksa masuk ke kamp-kamp bantuan.

Meskipun polisi membantah melakukan kesalahan, ada contoh-contoh keterlibatan polisi yang terdokumentasi dengan baik, seperti membantu para perusuh atau sekadar memalingkan muka.

Anggota-anggota terkemuka dari Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP), pendukung Perdana Menteri Narendra Modi, pun terlihat di sebuah video tengah membuat pernyataan pembalasan terhadap para demonstran sebelum tindak kekerasan terjadi.

Sebuah petisi sudah diajukan di pengadilan tinggi Delhi untuk menangkap tiga pemimpin Janata. Dan banyak komentator menggambarkan kerusuhan itu sebagai "serangan terorganisir terhadap Muslim".

Namun, para pegiat kemanusiaan mengatakan, alih-alih menindak para politisi dan massa Partai Bharatiya Janata, polisi malah menangkap mahasiswa Muslim dan pengunjuk rasa.

Polisi menuntut mereka dengan sangkaan hasutan dan memasukkan mereka ke penjara, pada saat pengadilan tidak berfungsi karena 'lockdown' Covid-19.

Dalam satu laporan dikatakan ada 800 orang telah ditangkap terkait kerusuhan Februari lalu, termasuk lusinan orang yang ditangkap selama 'lockdown'.

Protes terhadap serangan terhadap siswa, Undang-Undang Amendemen Kewarganegaraan (CAA), Daftar Warga Nasional (NRC) dan Daftar Penduduk Nasional (NPR), di Maulana Mohammad Ali Jauhar Marg, di luar Jamia Millia Islamia pada 8 Januari 2020 di Delhi

Getty Images

Selain Zargar, polisi juga telah menangkap anggota Komite Koordinasi Jamia bernama Meeran Haider, presiden Asosiasi Alumni Islamia Jamia Millia yaitu Shifa-Ur-Rehman, mahasiswa MBA Gulfisha, dan Ishrat Jahan, seorang mantan anggota dewan kota, karena berpartisipasi dalam protes anti-CAA.

Dalam semua kasus itu, polisi menggunakan buku pedoman yang sama - menuduh mereka melakukan konspirasi yang menyebabkan kerusuhan, menyampaikan pidato kebencian dan menghasut massa - serta melemparkan mereka ke penjara di bawah UAPA yang represif.

Penangkapan itu dikecam oleh masyarakat sipil dan kelompok HAM yang menyebut tindakan itu sebagai "ilegal" dan bentuk "penyalahgunaan kekuasaan negara".

Ratusan feminis dari seluruh negeri juga mengeluarkan pernyataan yang menuntut diakhirinya "penahanan, intimidasi, dan pelecehan terhadap mereka yang memperjuangkan hak demokratis dalam sebuah protes", terutama terhadap para perempuan.

"Tuduhan-tuduhan palsu terhadap pengunjuk rasa damai harus dibatalkan dan semua yang ditangkap dengan tuduhan palsu harus dibebaskan," pernyataan itu berbunyi.

Zargar yang tengah hamil empat bulan muncul sebagai wajah penindasan negara terhadap mahasiswa dan aktivis.

"Pemerintah India sangat tidak toleran terhadap kebebasan berbicara dan perbedaan pendapat," kata Direktur Eksekutif Amnesty International India Avinash Kumar dalam sebuah pernyataan.

"Tetapi untuk menangkap Safoora yang berada di trimester kedua kehamilannya dan mengirimnya ke penjara yang penuh sesak selama pandemi itu menunjukkan betapa brutalnya tindakan keras yang sedang berlangsung di negara ini."

Pekan lalu, ratusan troll sayap kanan di Twitter mencoba mempermalukannya dengan menyebut Zargar tidak menikah dan mempertanyakan kehamilannya.

Dan beberapa anggota grup Facebook bernama We Support Narendra Modi membagikan gambar video porno dengan mengklaim bahwa itu adalah Zargar.

Altnews, sebuah situs pengecekan fakta melaporkan bahwa kelompok itu "adalah alat propaganda yang sebagian besar unggahannya memuji PM dan BJP, namun mengkritik oposisi".

Beberapa pers sayap kanan yang bersimpati kepada pemerintah menuduh Zargar "bertanggung jawab atas kematian orang tak bersalah" selama kerusuhan itu.

Pakar hukum mengatakan bersalah atau tidak Zargar hanya akan diketahui setelah dia diadili di pengadilan. Tapi itu proses yang panjang dan berlarut-larut dan proses itulah hukumannya.

Segala fitnah terhadap Zargar menyebabkan penderitaan besar bagi keluarga. Tapi Selasa lalu, ketika suaminya berbicara dengannya di telepon, dia tidak mengatakan apa-apa padanya tentang fitnah-fitnah tersebut.

Dalam telepon yang berlangsung kurang dari lima menit, pasangan itu berbicara tentang kesehatannya, makanan yang dia dapatkan di penjara, dan membahas cara mendapatkan uang kepadanya karena karena pembatasan Covid-19, dia tidak dapat menerima wesel.

"Dia bertanya tentang orang tuanya, orang tuaku dan saudara kita. Dia ingin tahu apakah keluarga itu mengkhawatirkannya?

"Aku bilang padanya kami mengandalkanmu untuk menjadi yang kuat, untuk kami," katanya.

(ita/ita)