Strategi Islandia Lawan Corona: Tanpa Karantina, Tes Gratis untuk Semua Warga

BBC World - detikNews
Sabtu, 11 Apr 2020 06:43 WIB
Reykjavik -

Pria Islandia

Strategi Islandia adalah mentes semua penduduk. (Getty Images)

Hampir di dekat Kutub Utara, Islandia menjadi negara yang melakukan langkah unik dalam melawan virus Corona.

Sementara jumlah kematian terus meningkat di dunia, Islandia hingga kini berhasil menahan laju penyebaran virus Corona, dengan laporan empat kematian dan sekitar 1.500 kasus.

Saat ini Islandia belum menerapkan kebijakan ketat tinggal di rumah atau karantina.

Mereka sudah melarang kumpul-kumpul lebih dari 20 orang.

Namun banyak toko dan bisnis masih berjalan, dan sekolah belum semua diliburkan.

"Ini buah sukses dari strategi unik di dunia, sepanjang pengetahuan saya," kata ahli epidemiologi Islandia Kristjana Asbjornsdottir, kepada BBC Mundo.

Awal mula strategi Islandia ini adalah mengikuti rekomendasi WHO sejak virus mulai menyebar: tes, tes dan lebih banyak tes.

Namun berbeda dengan negara lain, yang dites bukan hanya orang dalam pengawasan atau pasien dan orang orang berisiko.

Mereka menawarkan tes virus Corona gratis kepada semua warga yang bersedia.

Islandia

Di Islandia, pertemuan lebih dari 20 orang dilarang. (Getty Images)

"Strategi utama di Islandia didasarkan pada tes yang luas. Tidak hanya pada orang yang berisiko tinggi, tapi semua penduduk," kata Jhanna Jakobsdttir, profesor biostatistics di Center for Science Sciences yang juga anggota tim tanggap COVID-19 Islandia.

Namun tes massal ini bukan satu-satunya, mereka juga melakukan langkah inovatif untuk mengetahui lokasi dan mengisolasi orang yang terinfeksi.

Visi baru

Islandia

Islandia mencatat 1.500 kasus dengan empat kematian sejauh ini. (AFP)

Ketika Islandia mendeteksi kasus COVID-19 pertama mereka akhir Februari, mereka berminggu-minggu sebelumnya telah melakukan tes terhadap turis dan orang yang pulang dari perjalanan luar negeri.

Menurut ahli pendekatan "kewaspadaan untuk menyerang penyakit sebelum muncul merupakan langkah penentu".

"Tampaknya kami satu-satunya negara yang melakukan tes jauh sebelum kasus pertama muncul," kata Kari Stefansson, direktur DeCode Genetics, perusahaan bioteknologi yang menyelenggarakan tes massal itu.

Pihak berwenang juga meminta orang yang baru masuk ke Islandia untuk melapor ke rumah sakit, sekalipun tidak menunjukkan gejala apapun.

Islandia tidak melakukan karantina seperti negara-negara lain di dunia.

Islandia tidak melakukan karantina seperti negara-negara lain di dunia. (Getty Images)

Pada pertengahan Maret ketika kasus meningkat, DeCode Genetics memutuskan untuk mengetes bukan hanya mereka yang berpotensi terpapar, tapi kepada siapapun yang bersedia untuk dites.

"Kami lakukan ini karena sadar akan pentingnya kecepatan penyebaran virus di masyarakat dan kemudian merancang metode menghentikan penyebarannya," kata Stefansson.

Awalnya, dilakukan pengambilan sampel secara sukarela. Namun sejak minggu lalu, perusahaan ini menelepon penduduk secara acak dan meminta mereka datang untuk tes di cabang terdekat perusahaan tersebut.

Ini dimungkinkan karena penduduk Islandia jumlahnya sekitar 360.000 orang. Namun para ahli percaya pendekatan semacam ini berguna juga bagi negara dengan jumlah penduduk lebih besar.

"Jumlah penduduk Islandia sangat kecil, tapi menurut saya hasil dari pendekatan ini bisa menjawab banyak pertanyaan ilmiah seputar dampak dari virus ini," kata Asbjornsdottir.

Strategi lain

Menurut Jakobsdttir, tes massal merupakan dasar dari strategi Islandia dan langkah politik yang mengiringi upaya menahan penyebaran virus.

Ketika ditemukan kasus, katanya, pihak berwenang melanjutkan dengan mengawasi dengan teliti dengan siapa saja pasien melakukan kontak. Kemudian mereka akan dikarantina apapun kondisi kesehatan mereka.

"Saat ini, sekitar 50% kasus baru terjadi pada orang yang telah dikarantina," katanya.

Langkah lain adalah upaya pemerintah melindungi kelompok rentan dari paparan virus.

"Rumah jompo dan rumah sakit ditutup dari pengunjung sejak ditemukannya kasus pertama. Maka Islandia bisa melindungi orang berisiko tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain," katanya.

Menurut statistik pemerintah, di Islandia hanya ada 20 tempat tidur untuk perawatan intensif dengan respirator. Maka penting bagi mereka untuk menghindari peningkatan pasien COVID-19 yang butuh perawatan intensif.

Untuk mendeteksi infeksi baru, pihak berwenang menggunakan strategi "kepolisian yang sudah diterapkan di negara seperti Singapura, yaitu dengan menggunakan detektif dan penyelidik untuk memperkirakan lokasi munculnya kasus baru".

"Ini unsur penting lain: pihak berwenang sangat efektif dalam melacak potensi kasus dan mendorong setiap orang yang pernah kontak dengan pasien untuk mengkarantina diri, bahkan sebelum muncul gejala," kata Asbjornsdottir.

Stefansson setuju bahwa strategi ini penting mengingat hampir separuh kasus yang dites positif tidak menunjukkan gejala apapun saat tes dilakukan (dan infeksi berkembang belakangan).

"Mengetes masyarakat umum yang asymptomatic memberi gambaran akurat penyebaran virus ini dan bagaimana perpindahannya," katanya.

Selama berminggu-minggu, pihak berwenang di beberapa negara mengingatkan pentingnya peran pasien asymptomatic dalam penularan COVID-19, dan penyebaran virus telah terjadi sebelum gejala awal muncul.

Pentingnya tes

Islandia

Islandia melakukan tes sejauh ini terhadap 6% penduduknya, jumlah terbesar di dunia menurut WHO. (Getty Images)

Hingga hari Senin (06/04), Islandia telah melakukan tes kepada 6% dari penduduknya. Ini merupakan angka tes tertinggi menurut data WHO.

Sebagai perbandingan, hingga Jumat (03/04), Amerika Serikat baru mengetes 0,4% penduduknya, dan kebanyakan dari mereka sudah memperlihatkan gejala.

Perbandingan lain adalah Korea Selatan, negara yang sudah melakukan banyak sekali tes (sekitar hampir setengah juta penduduk). Hingga Senin (06/04), mengetes 0,7% penduduk dan terus melakukannya kepada pasien dan orang yang dicurigai terpapar.

"Dengan melakukan tes berskala besar seperti di Islandia, kita bisa mendapat gambaran lebih baik dari status infeksi secara keseluruhan dan seberapa jauh penyebaran virus ini di masyarakat," kata Asbjornsdottir.

Stefansson setuju bahwa pemahaman status penyebaran virus, maka akan lebih mudah mendapat data yang andal dalam kasus kematian.

"Data yang kami punya soal dampak virus Corona di dunia tidak andal karena tak satupun yang punya ukuran sesungguhnya dampak virus ini kepada populasi umum, mengingat hanya kasus dengan gejala serius yang dites," katanya.

"Sejauh ini, satu-satunya negara di dunia yang bisa menawarkan angka tingkat kematian akibat virus corona adalah Islandia," katanya.

Sekuens virus

virus corona

Sejak merebak wabah, Islandia melakukan uji virus untuk melihat mutasinya. (EPA)

Satu langkah lagi di Islandia adalah penyusunan sekuens virus ini sesudah pasien dinyatakan positif COVID-19.

"Ini memperlihatkan bahwa sejak virus Corona menyebar luas, virus ini telah menjalani sejumlah mutasi, sekalipun tingkat mutasinya lebih rendah ketimbang virus lain semisal virus influenza," katanya.

Stefanson, yang juga profesor di Harvard University, mengatakan bahwa kajian terhadap variasi sekuens genetis virus ini bisa dipakai untuk melacak asal-usul penyebaran virus pada kasus-kasus individu.

"Ini menolong dalam melacak infeksi, ketika kita ingin tahu bagaimana penyebaran virus itu di masyarakat. Kita bisa tahu satu orang terinfeksi oleh pasien yang mana dengan cara melihat sekuens virus itu dan meletakkannya dalam konteks mutasi mereka," paparnya.

Menurut Stefanson, hingga kini laboratoriumnya telah mendeteksi mutasi spesifik dari virus yang datang dari negara lain seperti Austria, Italia, Inggris, atau pantai barat Amerika Serikat.

Dalam hal ini, katanya, ia masih berupaya menjawab pertanyaan mengapa beberapa mutasi menjadi lebih agresif dan mematikan ketimbang mutasi lainnya.

Pelajaran dari Islandia

uji laboratorium

Islandia menerapkan strategi tersendiri dibandingkan negara-negara Eropa lain. (EPA)

Jakobsdttir percaya bahwa sesudah tiga minggu tes yang intensif, komunitas ilmuwan di Islandi optimis strategi mereka setidaknya sejauh ini berhasil.

"Hingga 23 Maret, jumlah kasus tampaknya tumbuh secara eksponensial. Namun kita lihat bahwa ini menyimpang dari jalurnya dan peningkatan semakin linear," katanya.

Bagaimana ia percaya butuh waktu agar jumlah infeksi menurun. Ia percaya data yang ada memperlihatkan Islandia dalam jalur yang tepat tanpa harus menerapkan kebijakan yang terlampau ketat.

"Strategi yang diterapkan di Islandia didorong oleh kajian ilmiah. Politikus menggunakan energi mereka untuk merancang dan menerapkan kebijakan ekonomi dan sosial guna mengantisipasi dampak tak terelakkan dari pandemi ini."

"Pesan terpenting dari strategi Islandia ini adalah: keputusan harus dibuat berdasarkan ilmu pengetahuan."

virus corona

BBC

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

Apakah vaksin dapat melindungi semua orang dengan segala umur?

Ya, hampir semua orang akan terlindungi, namun kemungkinannya akan berkurang bagi orang-orang dengan usia senja.

Hal itu bukan karena vaksin, namun karena sistem imunitas orang tua yang tidak merespon baik pada imunisasi.

Kita melihat ini setiap tahun dengan suntikan flu.

Semua obat-obatan, bahkan Paracetamol, memiliki efek samping. Tetapi tanpa uji klinis, tidak mungkin untuk mengetahui apa efek samping dari vaksin eksperimental.

virus corona

BBC

PETA dan INFOGRAFIS: Gambaran pasien yang terinfeksi, meninggal dan sembuh di Indonesia dan dunia

GEJALA dan PENANGANAN: Covid-19: Demam dan batuk kering terus menerus

(nvc/nvc)