Ketika Virus Corona Memaksa Eksperimen 'Kerja dari Rumah' Secara Nasional

BBC Magazine - detikNews
Kamis, 12 Mar 2020 18:08 WIB
Beijing -

bekerja dari rumah, karantina covid-19, virus corona, bekerja jarak jauh

Getty Images

Jutaan karyawan China bekerja dari rumah serempak untuk pertama kalinya, saat negara tersebut menghadapi Covid-19. Akankah mengubah budaya perusahaan konvensional di masa depan?

Tao Yu biasanya bekerja di kantornya yang bergaya di Shanghai, salah satu pusat keuangan China, sebagai karyawan bagian pemasaran Porsche, produsen mobil mewah asal Jerman.

Namun sejak Covid-19 merebak, perempuan 28 tahun ini, sama seperti puluhan juta masyarakat China yang lain, terpaksa bekerja dari rumah.

Tao berasal dari Hubei, provinsi di selatan negara tersebut, tempat virus corona mula-mula berasal. Dia kini bekerja dari rumah keluarganya di Huanggong, kota berpenduduk 7,5 juta jiwa yang menjadi area paling terdampak kedua setelah Wuhan.

"Saya bangun, sarapan, masuk ke kamar tidur dan mulai bekerja," ujarnya.

Sesungguhnya Tao tak suka bekerja dari rumah, namun ini yang harus dilakukan oleh dia dan banyak tetangganya, mengingat kota tersebut ditutup. Dia khawatir akan pandangan rekan-rekan kerja terhadapnya.

"Saya ingin menunjukkan bahwa bekerja dari rumah dan di kantor sama saja, tapi saya takut mereka merasa ini tidak adil. Mereka mungkin berpikir bekerja dari rumah adalah hal mewah," lanjutnya.

Di China, bekerja dari rumah bukan hal yang umum. Namun sejak 3 Februari, saat pemerintah daerah dan perusahaan di seluruh negeri menganjurkan agar para karyawan bekerja dari rumah, jutaan warga China merasakan pro dan kontra ini untuk pertama kalinya.

Ketika jalanan Beijing, Shanghai dan Guangzhou yang biasanya penuh sesak kini menjadi sunyi, eksperimen massal ini membuat permintaan aplikasi konferensi video seperti WeChat Work milik Tencent dan DingTalk kepunyaan Alibaba melonjak tajam.

Saham Zoom, penyedia layanan konferensi video dari AS, naik. Ini berlawanan dengan tren pasar yang anjlok karena ketakutan akan virus corona.

Para pekerja China punya reaksi berbeda-beda menghadapi eksperimen ini.

Beberapa mengeluhkan atasan yang tak percaya bawahannya bisa dipercaya bekerja dari rumah; beberapa terganggu dengan keberadaan anggota keluarga dan mengaku sulit fokus; sementara yang lainnya menyambut keadaan ini dengan gembira, menikmati produktivitas yang justru naik.

Beberapa bahkan mengaku kehidupan percintaannya membaik.

bekerja dari rumah, karantina covid-19, virus corona, bekerja jarak jauh

Para pekerja mengantri untuk memasuki perkantoran di Shanghai pada 10 Februari, setelah liburan Tahun Baru yang diperpanjang untuk memperlambat penyebaran virus (Getty Images)

'Dipaksa beradaptasi'

Sun Meng, 32 tahun, dari Provinsi Liaoning, bekerja di Beijing sebagai perencana kurikulum untuk perusahaan pendidikan daring VIPKid. Dia telah bekerja dari rumah selama sebulan dan tak merindukan perjalanan menuju dan pulang dari kantor.

"Rasanya menyenangkan, karena biasanya saya butuh empat jam untuk bepergian ke kantor dan pulang ke rumah," terangnya.

Dia tidak bisa pindah rumah ke area yang lebih dekat dengan kantor karena hukou (sistem registrasi untuk akses fasilitas kesejahteraan) milik suaminya mewajibkan anak laki-laki mereka yang berusia tiga tahun bersekolah di TK setempat.

"Dia hanya bisa bersekolah di sekolah umum itu. Jika kami pindah rumah ke tempat yang lebih dekat [dengan kantornya], kami harus memasukkannya ke sekolah swasta dan itu terlalu mahal."

Sun sudah pernah meminta pada perusahaannya untuk bisa bekerja dari rumah dua kali seminggu, namun tak diizinkan. Namun setelah staf kantornya terpaksa bekerja dari rumah, Sun berkata CEO-nya pun mengaku para karyawan menjadi lebih efisien.

Cara-cara internal perusahaan dalam melakukan pekerjaan berubah demi mengakomodasi keadaan baru ini.

Di kantor, karyawan harus mencatatkan jam masuk dan pulang, namun sekarang mereka memulai hari dengan mengirim foto 'cek-in' di grup DingTalk dan mengisi laporan harian melalui salah satu aplikasi di platform tersebut.

"Karena kami terpaksa bekerja dari rumah, mereka [departemen SDM] terpaksa mengubah cara mereka memonitor kami," katanya.

Hal terbaik tentang bekerja dari rumah, ujar Sun, anaknya tak perlu menunggu sampai larut malam untuk bertemu dengannya.

"Saya bisa langsung menutup laptop setelah bekerja dan mulai bermain dengannya."

bekerja dari rumah, karantina covid-19, virus corona, bekerja jarak jauh

Pengguna DingTalk juga naik. Aplikasi ini memiliki sistem konferesi pintar dan fitur-fitur lain untuk para pekerja jarak jauh (Getty Images)

'Membuat segalanya lebih sulit'

Tidak jelas tepatnya berapa banyak pekerja China yang diijinkan bekerja dari luar kantor sebelum Covid-19 muncul.

Sebanyak 51% perusahaan di China berkata mereka memiliki kebijakan ruang kerja yang fleksibel, menurut Survei Ruang Kerja Global IWG 2019, di AS angkanya sebesar 69%.

Namun fleksibilitas tiap-tiap perusahaan tentu berbeda: beberapa berarti tiap pekerja bisa mengatur jam dan beban kerja masing-masing.

Ada sebuah penelitian yang mengatakan bahwa para pekerja China menggunakan (atau diperbolehkan untuk menggunakan) hak bekerja dari rumah lebih jarang ketimbang para pekerja di AS.

Menurut Gallup, pada 2017 ada 43% pekerja AS yang bekerja dari luar kantor pada saat bersamaan.

Jay Milliken, partner senior dan pimpinan regional firma konsultasi Prophet, yakin bahwa rendahnya angka bekerja jarak jauh di China ada hubungannya dengan budaya tradisional tempat kerja.

"Budaya dalam perusahaan-perusahaan China masih sangat tradisional kecuali agensi kreatif dan perusahaan rintisan teknologi," ujarnya.

Banyak perusahaan China yang masih memberlakukan gaya manajemen top-down, seperti para karyawan yang harus mengisi absensi di jam masuk dan pulang, juga bonus dan penilaian yang sangat bergantung pada absensi kehadiran.

"Gaya 'bekerja dari rumah' bertentangan dengan keyakinan atas bagaimana mengatur karyawan," tukas Milliken.

Xin Sun, 36 tahun, seorang manajer di Pingan Bank di Shenzen, jelas merasa tak lagi punya kontrol penuh atas bawahannya ketika mereka tak berada di kantor.

"Bekerja dari rumah membuat administrasi lebih sulit, karena komunikasi yang kurang efisien dan banyak karyawan mengkir dari pekerjaan karena terganggu urusan personal," ujarnya.

"Saat bekerja dari rumah, beberapa anggota tim saya membalas pesan terlambat, yang membuat saya tak memiliki kontrol. Jika biasanya kita mengadakan rapat mingguan, di masa bekerja dari rumah ini, saya mengadakan rapat harian, hanya untuk memastikan semua paham dan punya hal untuk dikerjakan setiap hari. Saya juga meminta mereka melaporkan saban hari, apa saja yang sudah mereka kerjakan dan apa yang akan mereka lakukan besok," lanjut dia.

bekerja dari rumah, karantina covid-19, virus corona, bekerja jarak jauh

Perguruan tinggi juga mengambil langkah pencegahan dan membatasi paparan dengan mengadakan kelas daring melalui konferensi video (Getty Images)

Namun kewajiban untuk melapor lebih sering kepada manajer membuat beberapa orang merasa jeri. Yang, 23 tahun, seorang produser di perusahaan gim NetEase, mengaku menghabiskan banyak waktu dalam sehari untuk melakukan konferensi video, sampai-sampai dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaan.

"Sebelum wabah merebak dan kami masih bekerja di kantor, tidak ada kewajiban membuat laporan setiap hari, namun sekarang apapun yang Anda lakukan setiap hari harus dicatat dan dilaporkan ke bos. Ini mengurangi efisiensi," ujar Yang.

Akankah berlanjut?

Meskipun perusahaan China lebih konservatif, dalam hal teknologi, mereka telah memiliki bekal menjanjikan untuk bekerja jarak jauh.

WeChat sebuah aplikasi serba ada yang mengkombinasikan platform bertukar pesan, transfer file, kemampuan konferensi video, pembayaran daring, dan berbagai fungsi lain dipakai oleh lebih dari semiliar pengguna di China.

Matthew Brennan, penulis buku tentang WeChat, berkata banyak perusahaan kecil dan menengah tak punya opsi lain selain WeChat, karena aplikasi serupa seperti Slack terkadang diblokir di China. Pilihan lainnya adalah dengan email.

Dalam banyak kasus, bekerja dari rumah membantu pengusaha menekan biaya sewa gedung dan membantu pekerja menghindari perjalanan melelahkan ke tempat kerja. Namun belum diketahui apakah setelah periode pemaksaan ini, bekerja dari rumah akan menjadi lebih biasa di China.

Qun Li, profesor di Beijing Jiaotong University percaya bahwa permintaan dari para pekerja akan meningkat.

"Selama ini, mereka memiliki sedikit waktu dengan keluarga, mengasuh anak atau menemani orang tua."

"Mereka juga kesulitan menjaga kesehatan mental. Karena bekerja dan berkendara menghabiskan seluruh waktu, orang banyak merasa tertekan secara mental dan fisik," jelas Qun Li.

"Sekarang banyak yang mencoba bekerja dari rumah dan menemukan cara menyeimbangkan kehidupan dengan pekerjaan, saya yakin akan ada lebih banyak permintaan untuk itu," imbuhnya kemudian.

Namun apakah para pekerja akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, tergantung pada tujuan tim mereka, kata dia.

Industri seperti media dan teknologi bisa memberi jadwal yang lebih fleksibel dan punya potensi lebih besar untuk menerapkan konsep bekerja dari rumah.

"Namun industri tradisional yang membutuhkan pekerjanya berada di kantor - yang melibatkan lini produksi dan koordinasi tim yang lebih tinggi - pasti akan ragu menerapkannya," tukasnya.

bekerja dari rumah, karantina covid-19, virus corona, bekerja jarak jauh

Dengan pengguna lebih dari semiliar, WeChat mendominasi aplikasi serupa. Dalam beberapa pekan terakhir, permintaan untuk WeChat Work, produk perusahaan ini, meningkat pesat (Getty Images)

Zhang Xiaomeng, dosen perilaku organisasional di Cheung Kong Graduate School of Business Beijing, menekankan banyak perusahaan telah berinvestasi lebih banyak pada platform kantor daring dan pelatihan yang terkait di masa karantina ini, sehingga wajar jika penggunaannya masih akan ada di masa depan.

Perilaku sosial juga turut berubah, lanjut dia. "Pendekatan manajemen yang 'otokratis' akan menjadi kurang populer, dan akan ada lebih banyak manajer yang memperhatikan kebutuhan karyawannya.

"Wabah Covid-19 adalah kesempatan bagi perusahaan untuk menganalisa kembali hubungan antara perusahaan dengan karyawannya, dan meningkatkan budaya korporat yang sama-sama menguntungkan kedua belah pihak."

Milliken dari Prophet menekankan bahwa lebih banyak fleksibilitas juga berpotensi memiliki kekurangan.

"Adaptasi teknologi bekerja dari rumah malah bisa membuat budaya perusahaan teknologi semakin meluas," ujarnya, merujuk pada budaya "996" yang terkenal, di mana karyawan perusahaan rintisan dan teknologi dituntut untuk bekerja dari jam sembilan pagi hingga jam sembilan malam, enam hari seminggu.

Cindy Song, 29 tahun, seorang manajer di firma pemasaran Ruder Finn, ragu konsep bekerja dari rumah akan berhasil.

"Rumah kami tidak besar - suami dan saya bekerja di ruangan yang sama, kami sama-sama merasa terganggu," kata dia.

Dia juga khawatir dengan masa depan; atasannya berkata tahun ini bakal sulit lantaran banyak acara yang dibatalkan karena virus corona dan klien mengurangi anggaran pemasaran.

Tapi ada pula sisi positifnya, dia merasa "pernikahannya semakin erat" karena menghabiskan 24 jam bersama pasangan.

"Sebelum ini, kami sama-sama sibuk; sibuk bekerja dan pulang larut malam. Sekarang kami bisa menghabiskan waktu bersama, dan merasa lebih dekat."

Laporan tambahan: Manyu Jiang

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul How Covid-19 led to a nationwide work-from-home experiment pada laman BBC Worklife.

(nvc/nvc)