detikNews
Jumat 30 Agustus 2019, 09:30 WIB

Kebakaran Amazon Bisa Bikin Hutan Tropis Berubah Jadi Padang Rumput

BBC Magazine - detikNews
Kebakaran Amazon Bisa Bikin Hutan Tropis Berubah Jadi Padang Rumput Tanaman tipe padang rumput menghasilkan lebih sedikit curah hujan dibandingkan dengan tetumbuhan hutan hujan, kata ilmuwan Brasil Carlos Nobre. (Getty Images)
Sao Paolo - Apa yang terjadi ketika hutan tropis terbesar di dunia mengalami tekanan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya?

Ini sedang terjadi di Amazon: laju deforestasi yang tak terkendali dan kebakaran besar.

Saat ini ada Amazon terancam bahaya: mengalami perubahan permanen, kata ilmuwan Brasil Carlos Nobre, peneliti di Sao Paulo's Institute for Advanced Studies, Brasil.

Jalan satu arah Lebar pohon di hutan Amazon Penelitian terakhir memperlihatkan hutan tropis dan ekosistemnya yang rentan sedang menghilang dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. (BBC)

Penelitian Nobre dan seorang ilmuwan Amerika Thomas Lovejoy yang diterbitkan di majalah Science Advances menyebutkan laju deforestasi di Amazon sedang menuju titik puncak yang bisa membuatnya rusak permanen.

Dinamika hutan tropis

Hutan tropis Amazon yang terbakar Penghancuran hutan tropis berarti hilangnya kelembaban dan suhu sejuk, serta membuka jalan bagi tanaman padang rumput yang gemar kemarau dan cuaca kering untuk tumbuh subur mengambil alih. (Getty Images)

Hutan tropis memproduksi hujan yang mereka butuhkan untuk tetap hidup, dan sebagai hasilnya, mereka menyumbangkan suhu yang sejuk.

"Beberapa penelitian memperlihatkan 15% hingga 25% curah hujan di Amazon ditimbulkan secara lokal. Hutan ini menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk tetap bertahan hidup," kata Nobre kepada BBC Mundo.

Ketika hujan turun dan permukaan tanah basah, akar pohon menghisap air tersebut.

Kemudian dedaunan - lewat proses yang disebut transpirasi - melepaskannya ke atmosfer hingga membentuk awan, yang kemudian berubah menjadi hujan.

Hutan tropis Amazon yang terbakar Padang rumput tak menciptakan kelembaban yang dibutuhkan oleh hutan tropis untuk terus tumbuh. (Getty Images)

Namun beberapa tahun terakhir, menurut Nobre, laju deforestasi mempengaruhi 17% dari area tersebut.

"Perhitungan kami menunjukkan menghilangnya 20% hingga 25% hutan tropis akan menghasilkan kemarau lebih panjang dan suhu panas. Tetumbuhan akan terpengaruh, membuat hutan tropis ini berubah jadi padang rumput."

Jika tren ini berlanjut, "kita bisa mencapai titik kritis dalam 15 hingga 30 tahun," kata Nobre lagi.

Sekalipun begitu, kebakaran yang sedang terjadi kini bisa mempercepat proses itu.

Peningkatan suhu

Matahari terbenam di pucuk hutan gundul Wilayah ini mengalami 'pemanasan lokal', kombinasi dari efek gas rumah kaca dan penggundulan hutan. (Getty Images)

Hutan tropis tak hanya menghasilkan hujan mereka sendiri. Dalam prosesnya, mereka juga mengatur suhu setempat agar lebih sejuk.

Ilmuwan Brasil Beatriz Schwantes Marimon dan Ben Hur Marimon, keduanya profesor di University of Mato Grosso, menghabiskan waktu meneliti lebih dari 60.000 pohon di Amazon.

Mereka menemukan Amazon mengalami "efek pemanasan ganda: yang timbul lantaran efek gas rumah kaca dan hasil dari deforestasi," kata mereka kepada BBC.

Pohon yang sehat bisa melakukan transpirasi sebanyak 1.000 liter air per hari dan menyumbang pembentukan awan serta mendinginkan suhu setempat.

Maka "deforestasi berdampak pada pemanasan setempat: lebih sedikit pohon artinya lebih sedikit transpirasi. Hujan juga berkurang, dan kemampuan hutan untuk mendinginkan suhu juga menghilang".

Tanda bahaya

A man trying to put down wildfire in the Amazon Getty Images

Para ilmuwan menyebut empat tanda yang menunjukkan hutan tropis Amazon sedang terancam bahaya.

"Sedihnya, tanda-tanda terlihat jelas di Amazon, dan ini semua bukan cuma berdasar model dan perhitungan," kata Nobre.

1. Kemarau panjang

Kemarau panjang - khususnya di selatan Amazon - menjadi lebih panjang. "Di wilayah dengan laju deforestasi tinggi, awal musim hujan tertunda hingga sebulan. Kemarau yang memanjang ini berarti lebih besar peluang terjadinya kebakaran," kata Nobre.

Beatriz Schwantes Marimon dan Ben Hur Marimon setuju. Dengan membandingkan data dari 20 tahun lalu, "kami melihat curah hujan lebih rendah di wilayah deforestasi".

2. Serapan CO2 lebih rendah

Menurut penelitian yang dilakukan University of Leeds, Inggris, tahun 2015, kemampuan hutan tropis menyerap CO2 terpangkas separuhnya. Tahun 1990-an, kemampuan ini dua miliar ton per tahun.

3. Kemarau dan hujan ekstrem

Wilayah ini mengalami kemarau ekstrem di tahun 2005 dan 2010, serta terpengaruh banjir parah tahun 2009 dan 2012.

"Dengan menganalisa pertumbuhan pepohonan di wilayah Rondonia, kami menyimpulkan fenomena seperti itu tak pernah terjadi dalam 500 tahun," kata Nobre.

4. Perubahan tetumbuhan

Penelitian setempat memperlihatkan spesies pepohonan dan tetumbuhan telah berubah akibat kemarau yang lebih panjang. Spesies yang tahan kemarau tumbuh menggantikan tanaman yang banyak tergantung pada air.

"Ini bukti lagi bahwa tanaman padang rumput - yang mampu bertahan dari api dan kemarau panjang - mulai tumbuh menggantikan spesies yang biasanya ada di hutan tropis," kata Nobre.

Bisakah manusia menyelamatkan hutan tropis? Fajar menyingsing di Amazon Ilmuwan mengatakan konsumen harus mengajukan tuntutan kepada produsen agar bisa membantu menyelamatkan hutan tropis. (Getty Images)

Nobre mengatakan deforestasi harus diatasi melalui legislasi, tetapi konsumen di Amerika Latin bisa turut membantu.

Sesungguhnya deforestasi ilegal, tapi penebangan hutan terjadi untuk mengembangkan peternakan.

"Amerika Latin khususnya Brasil merupakan konsumen daging terbesar di wilayah Amazon," kata Nobre, sekalipun Jepang dan Eropa juga melakukan impor.

"Penting untuk menuntut produksi daging yang bertanggung jawab dan meminta agar daging diproduksi dan dijual dengan melampirkan sertifikat asal usulnya agar membatasi laju deforestasi," katanya.

Huan tropis Amazon memang terletak di Amerika Latin, tapi apa yang terjadi di sana bisa mempengaruhi kita semua di mana saja.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com