detikNews
Selasa 06 Agustus 2019, 02:23 WIB

Pekerja Medis Jadi Sasaran Penyerangan, Penanganan Ebola Terhambat

BBC Magazine - detikNews
Pekerja Medis Jadi Sasaran Penyerangan, Penanganan Ebola Terhambat Ilustrasi para pekerja medis mengenakan baju pengaman dari virus Ebola. (Getty Images)
Jakarta - Sekitar 1.800 orang meninggal dunia sejak wabah Ebola dinyatakan terjadi di Republik DemokratikKongo 1 Agustus 2018 lalu. "Orang-orang beranggapan Ebola tidak ada," kata Dr. PascalVahwere, yang bekerja melawan penyakit ini.

"Tim saya yang bekerja melawan Ebola diserang orang-orang karena anggapan itu."

Ini terjadi ketika Dr. Vahwere dan timya berada di desa terpencil di provinsi Kivu Utara di Republik Demokratik Kongo. Sekelompok orang yang marah mengelilingi mereka.

"Tiba-tiba mereka berkerumun membawa senjata api dan parang. Kami tak tahu kenapa mereka menyerang. Kami ketakutan, lalu bicara kepada pemimpin setempat agar menenangkan orang-orang itu."

Bagi para pekerja kesehatan yang ditugaskan ke desa yang terinfeksi Ebola, mereka menghadapi risiko tinggi.

Tahun ini saja, tujuh orang pekerja kesehatan tewas dalam rangkaian serangan terhadap mereka ketika berupaya mengatasi Ebola.

Pekerja kesehatan berada di dalam 'zona merah' pusat perawatan Ebola, yang diserang pada 9 Maret 2019.(Sumber Gambar: MSF)


Orang bersenjata menyerang pusat perawatan Ebola diButembo, di kawasan timurKongo, menewaskan seorang polisi dan melukai seorang pekerja medis.Desas desus

Teori konspirasi dan kemarahan terhadap kurangnya respon menyalakan kebencian di antara penduduk yang rentan terhadap epidemi maut ini.

A woman looks at burned equipment in an Ebola treatment centre, which was attacked in Butembo(Sumber gambar: Getty Images)


"Informasi palsu tersebar sehingga orang percaya Ebola adalah upaya politisi untuk mencari uang," kata Dr. Vahwere yang bekerja untuk komite penyelamatan internasional di kota Goma di Kongo bagian timur.

"Beberapa bahkan berkata, perawatan itulah yang sesungguhnya menyebabkan kematian," tambahnya.

Serangan

Desas-desus semacam ini menyebabkan peningkatan serangan terhadap para pekerja kesehatan.

"Dari 1 Januari hingga 24 Juli, ada 189 serangan terhadap fasilitas dan pekerja kesehatan. Menurut catatan WHO serangan-serangan ini menyebabkan 7 orang meninggal dan 58 luka-luka di Kongo," kata Sakuya Oka, Manajer Komunikasi WHO kepada BBC.

Dr Richard Mouzoko (kanan) bersama Director ITM Prof Dr Bruno GryseelsInstitute of TropicalMedicineRichardMouzoko (kanan) terbunuh dalam serangan mematikan diButembo University Hospital.


Termasuk di antara yang meninggal dalam serangan adalah ahli penyakit menular dari WHO, Richard Mouzoko. Ia terbunuh dalam serangan di Butembo University Hospital tanggal 19 April.

Bulan Mei, penduduk desa di kawasan Timur Kongo membunuh seorang pekerja kesehatan dan menjarah fasilitas perawatan.

Tanggal 15 Juli, dua pekerja kesehatan yang sedang melakukan kampanye pencegahan Ebola dibunuh di rumah mereka di Provinsi Kivu Utara.

Menyebar

Frekuensi serangan maut ini memperlambat respon terhadap wabah Ebola.

Polisi berjaga di jendela yang pecah karena peluru 9 Maret 2019 di Butembo.(Sumber gambar: Getty Images)

Akibatnya kematian akibat wabah ini meningkat. Butuh waktu 224 hari bagi Ebola untuk mencapai jumlah kematian 1.000 orang, tapi untuk mencapai angka 2.000, waktu yang diperlukan adalah 71 hari.

Ebola tersebar melalui cairan orang yang terinfeksi. Benda yang terkena cairan itu seperti selimut atau pakaian bisa ikut menyebarkan.

Belum ada obat untuk Ebola, tapi perawatan dini untuk gejala tertentu dan terapi dengan cairan dan anti virus bisa memperbesar kemungkinan selamat.

Vaksinasi

Baru-baru ini, ada vaksinasi yang dibuat untuk mencegah penyebaran Ebola di Kongo.

Vaksinasi perawat dari WHO di Mbandaka(Sumber gambar: Getty Images)

Sebanyak 170.000 orang divaksinasi. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan orang yang terinfeksi Ebola.

Namun serangan-serangan ini membuat upaya vaksinasi terhenti, akibatnya wabah menyebar luas lagi.

Ketidakpercayaan dan kelompok militan

Wabah Ebola terjadi di wilayah yang menjadi pusat puluhan kelompok pemberontak. Beberapa kelompok ini dituding pemerintah melakukan serangan terhadap tim medis yang sedang berjuang melawan Ebola. Seperti misalnya kelompok milisi Mai-Mai di Kivu Utara.

"Kami mengirim tim untuk menyetop Ebola. Namun setiap pihak harus menghentikan serangan mereka, atau sulit sekali bagi kita mengakhiri wabah ini," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam cuitannya tanggal 10 Mei sesudah terjadi serangan terhadap pekerja medis.

Tim medis dan pakaian mereka sebelum masuk Goma(Getty Images)

Karena banyaknya serangan, tim medis jadi terlalu takut menggunakan pakaian pelindung seperti ini karena keberadaan mereka jadi mencolok.

Kelompok milisi lain Allied Defence Forces (pemberontak Uganda yang beroperasi di Kongo) juga dituduh menyebarkan gangguan terhadap tim medis.

Dalam satu kejadian di bulan Mei, anggota keluarga menyerang pekerja medis yang sedang mengawasi pemakaman keluarga mereka.

"Sekarang tantangannnya berlapis. Kelompok bersenjata yang sudah lama di sana, dan sikap masyarakat yang bermusuhan. Serangan berubah, tadinya mengincar fasilitas kesehatan, kini menyerang tim medis. Tim kami harus mengambil keputusan yang bisa berubah setiap menit, kemana dan kapan kami harus berangkat agar tetap aman ketika menjalankan tugas," kata Amy Daffe, Wakil Direktur Mercy Corps di Kongo.

Perlindungan militer

Menurut Amy Daffe, dampak langsung serangan-serangan ini adalah peningkatan infeksi Ebola.

Pusat perawatan Ebola di Butembo(Sumber gambar: Getty Images)

Tentara bersenjata dikerahkan untuk menjaga pusat perawatan Ebola, seperti di fasilitas diButembo ini.

Pemerintah kemudian menyediakan pengawalan pasukan bersenjata kepada tim medis di pusat-pusat kesehatan.

"Ini tidak baik," kata Dr. Vahwere. "Kita perlu dipercaya oleh masyarakat. Kini orang mulai melihat bahwa wabah Ebola itu nyata."

Campak

Seorang perawat yang pernah menjadi bagian tim tanggap darurat Medecins Sans Frontier (MSF) Kate White menjelaskan kepada BBC soal kecurigaan ini.

15 Juli 2019 di Goma(Getty Images)

"Ketidakpercayaan berasal dari konflik selama 20 tahun di bagian timur Kongo. Pelayanan kesehatan di sana sudah lama berantakan dan masyarakat terlupakan selama ini," kata Kate.

"Mereka curiga kenapa Ebola dapat perhatian besar sementara kolera, campak dan malaria juga menyebabkan kematian di sana dan tidak mendapat perhatian."

Menurut catatan lembaga PBB untuk urusan anak-anak UNICEF, "sekurangnya 1.981 kematian akibat campak dilaporkan terjadi di Kongo tahun ini. Dua pertiganya terjadi pada balita. Pada tanggal 23 Juni, ada 115.000 kasus campak, jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan 65.000 kasus di seluruh tahun 2018."

Sekalipun campak membunuh orang lebih banyak daripada Ebola, tak ada respon besar terhadap campak.

Kini lembaga PBB menyelenggarakan vaksinasi besar-besaran melawan campak di daerah yang terinfeksi Ebola di Kivu Utara.

Keterlibatan masyarakat

Para pekerja kesehatan kini bekerja dengan pemimpin setempat untuk meningkatkan kepercayaan terhadap mereka.

Pekerja kesehatan dan masyarakatPenduduk yang tinggal di daerah terpencil dijangkau melalui radio komunitas dan jejaring masyarakat. (WHO)

"Kita harus mendengar masalah mereka, seperti kita juga ingin didengar. Pendekatan kita harus berubah menyesuaikan dengan masukan dari masyarakat setempat, dan melihat kebutuhan kesehatan mereka," kata Kate White.

Menurutnya, perang persepsi ini bisa dimenangkan.

"Membangun kepercayaan itu harus melalui membangun hubungan dalam jangka panjang."

Seperti halnya Charles Lwanga-Kikwaya. Ia dan tim medisnya diserang di pusat vaksinasi Ebola di Kongo.

Charles Lwanga-Kikwaya kembali bekerja sekalipun mendapat serangan. Charles Lwanga-Kikwaya tetap bertekad membasmi wabah ini. (WHO)

Ia dirawat enam hari akibat serangan itu, dan sesudah beberapa bulan, ia kembali bekerja melawan Ebola.

"Saya harus terus berjuang sampai wabah ini selesai," kata Lwanga-Kikwaya.

"Saya tak bisa membiarkan saudara-saudara saya mati karena penyakit ini, padahal saya mampu untuk menghentikannya."

DO NOT DELETE - DIGIHUB TRACKER FOR [49179156]


(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed