DetikNews
Kamis 11 April 2019, 13:02 WIB

Kaum Muda di Belanda Serukan Hukuman Bagi Pengunjung Kawasan Prostitusi

BBC Magazine - detikNews
Kaum Muda di Belanda Serukan Hukuman Bagi Pengunjung Kawasan Prostitusi Amsterdam terkenal dengan distrik lampu merah De Wallen, tetapi para pegiat mengatakan para pekerja seks komersial itu dieksploitasi. (Getty Images)
Amsterdam - Lebih dari 40.000 anak muda menandatangani sebuah petisi yang menyerukan agar parlemen Belanda meloloskan aturan yang membuat pengunjung tempat-tempat pelacuran dikenai hukuman.

Tanda tangan dari sekitar 42.000 anak muda itu praktis mendorong topik tersebut dibahas para politisi di negara yang aturan-aturannya paling longgar soal transaksi seks.

Mereka menginginkan agar para pelanggan Pekerja Seks Komersial (PSK) dijerat hukuman sebagaimana diberlakukan di negara-negara Nordik, seperti Norwegia, Swedia, dan Eslandia.

Kampanye yang sebagian diilhami dari pandangan kalangan Kristen dan feminis itu dinamai 'Ik ben onbetaalbaar' atau 'Saya tak ternilai'.

Anak-anak muda yang terlibat dalam kampanye tersebut mengunggah foto-foto di Instagram yang menunjukkan para pendukung memegang papan dengan tulisan berwarna hitam dan putih bertuliskan 'Ik ben onbetaalbaar' (Saya tak ternilai).

Ada pula kalimat 'Bagaimana jika itu adik perempuanmu?' dan "Prostitusi adalah penyebab sekaligus konsekuensi dari ketimpangan'.

https://www.instagram.com/p/BwBnP8Ih8R7/

Namun, salah seorang pengguna media sosial menanggapi unggahan tersebut dengan berpendapat: "Saya menjadi pekerja seks secara sukarela. Ada banyak orang seperti saya. Kampanye ini akan membuat pekerjaan saya jauh lebih berbahaya."

Prostitusi dan undang-undangnya

Di Belanda, membeli dan menjajakan hubungan seks adalah tindakan legal selama hal itu melibatkan "seks antara orang dewasa yang saling menyepakati".

Namun, di negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Islandia, Irlandia Utara dan Prancis, para pembeli hubungan seks ini bisa dijerat hukum.

Apa yang dikatakan oleh parapegiat?

Para pegiat muda ini berpendapat banyak hal yang harus dilakukan untuk melindungi para perempuan yang rentan.

Menurut petisi bertajuk 'Saya tak ternilai' ini, tindakan Belanda yang memfasilitasi industri seks sudah ketinggalan zaman, eksploitatif, dan harus mencari inspirasi di negara seperti Swedia.

Mereka mengatakan di negara-negara yang telah mengenalkan model Nordik ini sudah terlihat beberapa hal yakni:

  • Jumlah orang yang bertransaksi dengan PSK semakin berkurang.
  • Para pelaku perdagangan manusia tidak berminat melakukan aktivitasnya di negara-negara itu.
  • Jumlah orang yang dieksploitasi oleh pelacuran semakin berkurang.

Di antara para pendiri gerakan Exxpose yang berada di balik petisi tersebut adalah pekerja sosial Sara Lous, yang dulu bekerja di pusat rehabilitasi dengan mantan PSK.

"Kami adalah feminis dan Kristen dan beberapa dari kami netral," katanya.

"Pikiran orang selama ini adalah Belanda memiliki kebijakan yang lebih aman, bahwa dekriminalisasi lebih aman, dan orang punya kebebasan untuk menjual seks. Tetapi banyak yang salah. Kami dilanda begitu banyak perdagangan manusia dan Amsterdam paling rentan karena tingginya permintaan untuk seks murah. "

Ia berpendapat bahwa para perempuan diberi anggapan bahwa pelacuran adalah cara mudah untuk menghasilkan uang. Padahal mereka perlu memiliki pilihan lain.

"Hanya ada beberapa yang tidak mampu menemukan pekerjaan lain. Mereka seharusnya mendapat bantuan untuk menemukan keterampilan lain," katanya.

Bagaimana reaksi para PSK?

Distrik lampu merah Amsterdam adalah salah satu atraksi paling populer di kota terbesar Belanda tersebut. Dan di Belanda pula praktik pelacuran secara tradisional dibingkai sebagai cerminan dari kebebasan memilih.

"Jika seorang perempuan ingin menjual tubuhnya maka itu adalah pilihannya," adalah argumen yang didorong oleh para politisi dan masyarakat.

Para perempuan yang bekerja di balik jendela lampu merah mengatakan kepada saya bahwa pekerjaan itu adalah pilihan bebas mereka. Namun ketika berbincang lebih jauh, mereka mengungkapkan bahwa seringkali pilihan itu didasarkan pada keadaan yang mereka rasakan yang membuat mereka tidak memiliki alternatif.

Mereka mencakup orang tua tunggal yang berjuang untuk memastikan bahwa anak-anak mereka di Romania menerima pendidikan yang layak, serta para perempuan muda korban pelecehan yang membuat rasa percaya diri rendah.

Namun Foxxy, seorang anggota dewan di perkumpulan pekerja seks komersil, Proud, memperingatkan bahwa segala upaya untuk mempidanakan para pelanggan akan membahayakan para PSK itu sendiri.

"Petisi ini tidak melayani kepentingan para pekerja seks. Orang-orang yang membaca Alkitab yang mencoba menghentikan kita," katanya.

"Jika tuntutan mereka dipenuhi, para pekerja seks akan bekerja secara ilegal. Lalu besar kemungkinan kami menjadi korban kekerasan.

"Para pelanggan akan tahu kita tidak bisa lapor ke polisi. Kita akan jauh lebih terpapar risiko, para pelanggan akan mencoba untuk tidak memakai kondom, kami lebih berisiko terkena HIV. Itu terjadi di Prancis ketika mereka memulai model Nordik ini. "

Menanggapi petisi itu, juru bicara kementerian kehakiman mengatakan kepada BBC bahwa pemerintah memiliki rencana untuk meningkatkan langkah-langkah melawan perdagangan manusia.

Mereka juga menyediakan dana untuk membantu para PSK yang mencoba meninggalkan dunia prostitusi.

Rencana itu akan disosialisasikan dan akan diajukan ke parlemen akhir tahun ini, katanya.

Namun perubahan drastis apapun dalam hukum liberal Belanda akan menghadapi penentangan dari para politikus dan masyarakat yang melihat pelacuran sebagai simbol kebebasan alih-alih penindasan.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed