DetikNews
Senin 08 April 2019, 11:38 WIB

Dunia Punya Lebih Banyak Kakek-Nenek Dibanding Cucu-cucu, Apa Dampaknya?

BBC Magazine - detikNews
Dunia Punya Lebih Banyak Kakek-Nenek Dibanding Cucu-cucu, Apa Dampaknya? Tingkat kesuburan perempuan terus menurun dari lima bayi di tahun 1960 ke 2,4 bayi di tahun 2018. (Getty Images)
London - Menurut Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah orang tua berusia 65 tahun ke atas di dunia lebih banyak daripada jumlah balita pada tahun 2018.

Saat ini terdapat sekitar 705 juta penduduk berusia di atas 65 tahun di dunia, sementara yang berumur antara nol hingga empat tahun berjumlah 680 juta.

Kesenjangan yang melebar

Perbedaan jumlah kedua kelompok usia ini makin melebar, dan pada tahun 2050 diperkirakan akan ada dua manula untuk setiap satu balita.

Jurang yang melebar ini mencerminkan kecenderungan yang telah diamati oleh para ahli demografi selama beberapa dekade, bahwa di kebanyakan negara, manusia hidup lebih lama dan semakin sedikit melahirkan bayi.

Orang tua berolahragaPopulasi penduduk dunia semakin tua menurut PBB (Getty Images)

Namun bagaimana kecenderungan ini akan mempengaruhi hidup kita? Atau jangan-jangan sudah terjadi?

Kakek nenek lebih banyak daripada jumlah cucu-cucu

Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation di University of Washington, Christopher Murray, mengatakan kepada BBC, "Di masa mendatang hanya akan ada sedikit anak-anak dan banyak manula, dan ini akan sangat sulit untuk mempertahankan masyarakat global."

Murray juga menulis sebuah makalah pada tahun 2018 yang menyatakan bahwa lebih dari separuh negara-negara di dunia menghadapi "baby bust" yang artinya tidak terdapat jumlah anak-anak untuk mempertahankan jumlah populasi.

Grandparents v grandkids. Percentage of under-5s and over-65s in the global population. Over-65s and under-5s in the world's population over the years (and projections) .

"Coba pikirkan dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat di mana jumlah kakek-nenek lebih banyak daripada jumlah cucu-cucu," katanya.

Pada tahun 1960, tingkat kesuburan dunia nyaris mencapai lima anak per perempuan, menurut Bank Dunia.

Hampir 60 tahun kemudian, angka itu menurun ke 2,4 anak per perempuan.

Di saat yang sama, kemajuan sosial ekonomi telah mengubah rata-rata usia harapan hidup. Di tahun 1960, rata-rata usia harapan hidup adalah 52 tahun, sedangkan di tahun 2017 menjadi 72 tahun.

Ini berarti orang hidup lebih lama dan membutuhkan lebih banyak sumber daya seiring dengan penuaan. Tekanan pun terjadi pada pensiun dan sistem pelayanan kesehatan.

Populasi orang tua

Masalah populasi yang menua lebih besar di negara-negara maju. Mereka cenderung memiliki angka kelahiran lebih rendah karena sejumlah alasan, terutama berkaitan dengan kemakmuran ekonomi.

Angka kematian anak rendah, alat kontrasepsi mudah didapatkan, dan membesarkan anak biayanya mahal.

Di negara-negara ini, perempuan kerap punya anak di usia yang lebih tua, maka jumlah anak mereka secara keseluruhan juga lebih sedikit.

Pasangan orang tua di JepangManula di Jepang hampir mencapai jumlah sepertiga populasi mereka, sementara angka kelahiran terus menurun (Getty Images)

Standar yang lebih baik berarti orang bisa hidup lebih lama di negara-negara ini.

Contoh terbaiknya adalah Jepang, di mana usia harapan hidup bisa mencapai 84 tahun. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Jumlah manula di Jepang juga mencapai 27 persen dari total populasi di tahun 2018. Ini juga merupakan yang tertinggi di dunia.

Jumlah balita di Jepang? Sekitar 3,85% menurut PBB.

Tantangan ganda ini membuat pihak berwenang di Jepang khawatir, dan tahun lalu pemerintah mengumumkan peningkatan usia pensiun dari 65 ke 70 tahun.

Kalau memang ini akan diterapkan, usia pensiun di Jepang akan menjadi yang tertua di dunia.

Namun populasi yang timpang ini juga mengancam negara berkembang.

Cina dengan jumlah 10,6% dari populasi, memiliki jumlah manula lebih rendah daripada Jepang tapi berkat program keluarga berencana yang ketat diterapkan sejak 1970-an, jumlah kelahiran anak negeri itu juga rendah, yaitu 1,6 anak per tahun.

Jumlah balita di Cina kurang dari 6% dari total populasi.

Perempuan dan anak di benua AfrikaBanyak negara Afrika punya angka kelahiran tinggi, tapi dengan angka kematian anak yang juga tinggi (Getty Images)


Jumlah anak versus kualitas hidup

Negara-negara Afrika merupakan contoh terbaik dilema antara kuantitas versus kualitas dalam soal angka kelahiran karena dominasi mereka dalam hal jumlah kelahiran.

Contohnya Niger yang merupakan "negara paling subur di dunia" dengan jumlah rata-rata kelahiran 7,2 per perempuan pada tahun 2017.

Namun Niger juga memiliki angka kematian anak tertinggi yaitu 85 per seribu kelahiran. Ini merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.

Perempuan hamil berkonsultasiSejumlah besar negara tak bisa mencapai ambang batas tingkat kelahiran 2,1 per perempuan agar masyarakatnya bisa tetap bertahan (Getty Images)


Tingkat "penggantian"

Angka 2,1 adalah angka ajaib untuk populasi, karena menurut ahli demografi, itulah tingkat kesuburan yang dibutuhkan oleh satu populasi untuk bisa mengganti dirinya sendiri.

Namun menurut data PBB hanya 113 negara-negara di dunia yang punya tingkat prokreasi mencapai angka tesebut.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa negara-negara dengan tingkat kematian anak tinggi, dan usia harapan hidup yang rendah membutuhkan tingkat kesuburan 2,3. Angka ini bisa dicapai oleh 99 negara.

Karena kelahiran yang menyusut, populasi di banyak negara juga menyusut, sekalipun keseluruhan populasi global meningkat. Pada tahun 2024, jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai delapan miliar.

Salah satu kasus ekstrim adalah Rusia di mana tingkat kesuburan adalah 1,75 per perempuan dan ini diperkirakan akan menyumbang pada penurunan jumlah populasi Rusia dalam beberapa dekade ke depan.

Divisi Kependudukan PBB menghitung bahwa populasi Rusia akan turun dari jumlahnya sekarang yaitu 143 juta jiwa, menjadi 132 juta pada tahun 2050.

Kelas yoga untuk perempuan hamil di St PetersburgTingkat kelahiran di Rusia terus menurun membuat penurunan populasi sejumlah lima juta jiwa sejak 1990-an. (Getty Images)


Dampak ekonomi

Penuaan dan menurunnya populasi berarti berkurangnya jumlah tenaga kerja, yang pada gilirannya mengarah pada penurunan produktivitas ekonomi dan menekan pertumbuhan.

Percentage of over-65s in selected countries/regions. . .

Bulan November lalu, International Monetary Fund (IMF) memperingatkan Jepang bahwa ekonomi mereka bisa menyusut 25 persen dalam 40 tahun ke depan karena penuaan populasi.

"Dampak demografi ada pada setiap aspek hidup kita. Ini semua didorong oleh demografi," kata George Leeson, Direktur Oxford Institute of Population Ageing kepada BBC.

Apakah teknologi bisa memitigasi dampak ekonomi dari populasi yang menua?

Manusia dan robotApakah teknologi bisa memitigasi dampak ekonomi dari populasi yang menua (Getty Images)


Kebijakan dan politik

Ada kesepakatan bahwa pemerintah perlu bertindak untuk mengatasi masalah bom waktu penuaan. Pemerintah di banyak negara memang sedang mencoba.

Cina meninjau ulang kebijakan satu anak mereka pada tahun 2015. Di tahun 2018 mereka memberi tanda-tanda akan mencabut larangan melahirkan.

Melonggarkan kelahiran bukanlah obat mujarab: pada tahun 2018 Cina mencatat angka kelahiran terkecil selama 60 tahun terakhir.

Para akademisi di Cina mengaitkan hal ini dengan menurunnya populasi perempuan usia subur, serta pada keluarga yang enggan punya anak lantaran alasan keuangan khususnya pada keluarga-keluarga yang dibentuk oleh perempuan berpendidikan yang segan menjalani peran tradisional perempuan.

The Rolling StonesAda area pekerjaan tertentu yang bisa mempekerjakan orang tua seperti ini (Getty Images)


Lebih tua dan lebih kuat

Para ahli kependudukan mengingatkan bahwa kebijakan untuk mempromosikan kesehatan orang tua memainkan peran penting dalam memitigasi dampak penuaan populasi.

Menurut pendapat ini, semakin sehat seseorang, semakin mampu mereka bekerja lebih lama, yang bisa membawa pada penurunan biaya perawatan kesehatan.

Satu area yang luput adalah semakin beragamnya tenaga kerja, terutama secara gender. Data dari International Labour Organization (ILO) memperlihatkan bahwa tingkat partisipasi perempuan di pasar kerja global adalah 48,5 persen di tahun 2018. Tingkat ini 25 persen lebih rendah daripada partisipasi laki-laki di pasar kerja.

Perempuan Afrika Selatan di pabrik anggurPartisipasi perempuan di pasar kerja terus meningkat (Getty Images)

"Lebih banyak perempuan bekerja tak hanya membuat ekonomi menjadi lebih kuat menghadapi guncangan. Banyaknya perempuan di pasar kerja juga merupakan perangkat anti kemiskinan," kata Ekkehard Ernst, ahli ekonomi ILO.

Bisa jadi. Namun yang pasti, jarum jam terus bergerak maju.


(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed