Para petugas juga menahan sekitar 50 orang pengunjuk rasa, termasuk demonstran veteran Emine Ocak, yang disebut berusia 80-an.
Kelompok yang disebut Ibu-ibu Sabtu itu telah melangsungkan aksi ini di pusat kota Istanbul sejak tahun 1995. Saat disemprot meriam air dan ditembak gas air mata, mereka sedang melangsungkan aksi ke-700 kalinya.
- Perempuan yang 'menantang' Presiden Erdogan
- Presiden Erdogan dikecam karena 'mendorong' anak perempuan Turki jadi martir
- Sejumlah perempuan Istanbul protes pemisahan kawasan lelaki-perempuan di masjid
Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengutuk kekerasan yang dilakukan polisi terhadap para ibu itu.
Tindakan polisi merupakan "perlakuan kejam dan memalukan terhadap keluarga-keluarga yang mencari keadilan atas kejahatan negara", kata Emma Sinclair-Webb dari Human Rights Watch.
Dalam sebuah pernyataan, pemerintah setempat berkilah bahwa pihak berwenang melarang karena aksi itu dipublikasikan di akun media sosial terkait dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang dinyatakan terlarang.
https://twitter.com/selingirit/status/1033335156612976640
PKK melancarkan perjuangan bersenjata melawan pemerintah Turki sejak 1984, untuk memperjuangkan berdirinya negara Kurdi yang berdaulat di wilayah Kurdistan Turki. Puluhan ribu orang telah tewas sejak itu. Pemerintah Turki menganggap PKK sebagai kelompok teroris.
Semua yang ditahan dalam demonstrasi Sabtu kemarin - termasuk Emine Ocak, yang putranya, Hasan, hilang setelah ditahan pada 1995 - dibebaskan setelah memberikan pernyataan kepada polisi, kata seorang pengacara Turki, Efkan Bolac.
- Krisis lira: Presiden Erdogan sebut Turki dalam 'pengepungan ekonomi' dan serukan boikot iPhone
- Konsep jihad resmi diajarkan di berbagai sekolah di Turki
- Pembunuhan transgender di Turki memicu protes
Penghilangan paksa yang menjadi tema unjuk rasa itu terjadi selama puncak pemberontakan PKK.
Aktivis mengatakan pemerintah Turki tidak pernah menyelidiki apa yang terjadi pada mereka yang hilang setelah ditahan.
Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air terhadap para demonstran yang kebanyakan perempuan lanjut usia. (EPA)Polisi pernah mencegah mereka melakukan aksi duduk mereka selama satu dekade antara 1999 dan 2009, tetapi tindakan polisi ini merupakan yang pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.
Pengguna media sosial berbagi foto dari aksi tahun 1997 yang juga menunjukkan penahanan Emine Ocak.
https://twitter.com/hayriituncc/status/1033347323357741056
Gerakan Ibu-ibu Sabtu disebut mengambil inspirasinya dari gerakan ibu-ibu di Plaza de Mayo, yakni unjuk rasa rutin sekelompok ibu Argentina untuk menuntut kejelasan atas anak-anak mereka yang hilang selama kediktatoran militer Argentina.
Di Indonesia, gerakan sejenis dilakukan para ibu dan pegiat HAM setiap hari Kamis di depan Istana Merdeka, disebut "Aksi Kamisan."
(ita/ita)










































