DetikNews
Selasa 22 Mei 2018, 09:59 WIB

Rouhani ke Menlu AS: Siapa Anda Kok Berani Buat Keputusan Untuk Iran?

BBC World - detikNews
Rouhani ke Menlu AS: Siapa Anda Kok Berani Buat Keputusan Untuk Iran? Presiden Hassan Rouhani (Foto: Kantor presiden Iran/EPA)
Washington - Mike PompeoMike Pompeo tidak menjabarkan jenis sanksi-sanksi baru yang akan dijatuhkan kepada Iran. (Reuters)

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo, mengatakan Washington akan menerapkan sanksi kepada Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Langkah ini ditempuh menyusul keputusan Presiden Trump untuk mundur dari kesepakatan nuklir Iran.

Ketika memaparkan 12 syarat bagi kesepakatan baru, Pompeo mengatakan Amerika Serikat (AS) akan memberikan tekanan bersejarah terhadap Iran untuk membatalkan ambisi nuklir dan rudal balistiknya.

Dalam pidato di Washington, Senin (21/05), Pompeo mengatakan Iran akan "kesulitan menopang perekonomiannya" setelah sanksi-sanksi tersebut diberlakukan.

Sikap Iran

Namun demikian, ia tidak membeberkan sanksi-sanksi baru yang akan dijatuhkan. Ia hanya mengatakan bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada gubernur bank sentral Iran pekan lalu "hanyalah permulaan".

Pernyataan keras itu langsung ditanggapi oleh Iran dengan nada keras pula.

Presiden Hassan Rouhani mempertanyakan kredibilitas Mike Pompeo dengan mengatakan, "Siapa Anda kok berani membuat keputusan untuk Iran dan dunia?"

Dikatakan oleh Menlu Mike Pompeo bahwa AS bersedia merundingkan "kesepakatan baru" dengan Iran selama negara itu memenuhi 12 syarat.

Syarat-syarat itu antara lain adalah:

  • Iran harus menarik pasukannya dari Suriah dan tidak lagi mendukung pemberontak di Yaman
  • Memberikan data menyeluruh kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) tentang program militer nuklir sebelumnya, dan membatalkan program seperti itu selamanya
  • Mengakhiri "tingkah laku yang mengancam" negara-negara tetangga, termasuk "ancaman untuk menghancurkan Israel dan menembakkan rudal ke Arab Saudi serta Uni Emirat Arab"
  • Membebaskan semua warga negara Amerika Serikat, dan warga negara mitra-mitra AS, yang "ditahan atas dakwaan palsu atau hilang di Iran"

Presiden Trump mengumumkan Amerika Serikat keluar dari kesepakatan nuklir mulai tanggal 8 Mei lalu.

Dilema pengusaha

Berdasarkan kesepakatan yang ditandatangani oleh Iran, Inggris, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Uni Eropa pada tahun 2015 itu, Iran membatasi aktivitas nuklirnya sebagai imbalan atas pelonggaran sanksi ekonomi yang sebelumnya diberlakukan oleh PBB, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

Tetapi Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Trump, memutuskan menarik diri dari kesepakatan.

Langkah tersebut tidak hanya merepotkan pemerintah negara-negara yang terlibat, tetapi juga menghebohkan dunia usaha sebab banyak perusahaan besar Eropa langsung memutuskan untuk menjalin bisnis dengan Iran begitu sanksi dicabut.

MaerskPerusahaan pelayaran Belanda, Maersk, telah menyatakan akan menghentikan usahanya di Iran. (AFP)

Kini perusahaan-perusahaan itu dihadapkan pada pilihan tetap berinvestasi di Iran atau berbisnis dengan Amerika Serikat.

Dalam keterangannya, Menlu AS Mike Pompeo menegaskan bahwa sanksi-sanksi yang dicabut setelah kesepakatan tahun 2015 itu kini akan diberlakukan kembali. Sanksi-sanksi tersebut, ditambah dengan sanksi-sanksi baru secara bersama-sama akan menimbulkan "tekanan keuangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rezim Iran".

Berdasarkan sanksi lama AS, hampir semua bentuk dagang dengan Iran dilarang. Yang dikecualikan adalah aktivitas perdagangan "untuk kepentingan rakyat Iran" seperti ekspor produk kesehatan dan peralatan pertanian.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed