DetikNews
Jumat 16 Maret 2018, 04:00 WIB

AS Beri Sanksi ke 19 Warga dan Lembaga Rusia Terkait Pilpres

BBC World - detikNews
AS Beri Sanksi ke 19 Warga dan Lembaga Rusia Terkait Pilpres Ilustrasi Presiden Rusia Vladmir Putin dan Presiden AS Donald Trump (BBC)
Jakarta - Putin, Trumo, Rusia, Amerika SerikatAFPRusia dituduh campur tangan dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 lalu.

Amerika Serikat menjatuhkan sanksi atas 19 warga serta lembaga Rusia karena dituduh campur tangan dalam Pemilihan Presiden 2016 dan melakukan serangan siber.

Langkah ini ditempuh sehari setelah Inggris mengusir 23 diplomat Rusia sebagai pembalasan atas serangan gas saraf terhadap mantan agen asal Rusia di wilayah Inggris.

Dari 19 yang mendapat sanksi AS, 13 di antaranya sudah didakwa bulan lalu oleh pengacara khusus Departemen Kehakiman AS, Robert Mueller, yang menyelidiki dugaan bahwa Rusia campur tangan dalam Pilpres AS untuk membantu kemenangan Donald Trump.

Sanksi yang diterapkan atas mereka termasuk pembekuan aset di Amerika Serikat dan penutupan akses ke sistem keuangan AS.

Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, menuduh warga Rusia yang mendapat sanksi bersangkutan melakukan 'serangan siber yang merusak dan penyusupan dengan sasaran prasarana yang penting'.

Rusia, Yevgeny Prigozhin,ReutersSalah seorang yang terkena sanksi adalahYevgenyPrigozhin, pengusaha yang disebut dekat dengan PresidenVladimirPutin.

Dia menambahkan bahwa serangan gas saraf di Inggris memperlihatkan tindakan pemerintah Rusia yang ceroboh dan tidak bertanggung jawab.

Salah seorang yang terkena sanksi adalah Yevgeny Prigozhin, seorang pengusaha makmur yang disebut memiliki hubungan dekat dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Amerika SerikatReutersBadan Riset Internet, IRA, di Rusia dituduh merekayasapenyesatan informasi untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS tahun 2016.

Sementara lembaga yang mendapat sanksi antara lain adalah badan intelijen Rusia, GRU, serta Badan Riset Internet, IRA, yang berkantor di kota St Petersburg yang dituduh merekayasa penyesatan informasi untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS tahun 2016 lalu.

"IRA menciptakan dan mengelola sejumlah besar karakter palsu yang menyamar sebagai warga Amerika Serikat untuk masuk ke organisasi akar rumput, kelompok kepentingan, dan partai politik di media sosial," seperti tertulis dalam pernyataan Departemen Keuangan, Kamis (15/03).

Melalui kegiatannya, IRA menerbitkan ribuan iklan yang mencapai jutaan orang di internet.

Belum ada tanggapan resmi Rusia atas keputusan Amerika Serikat ini namun pemerintah Moskow sudah membantah tuduhan keterlibatan atas upaya pembunuhan mantan agen Rusia di Inggris.

Mantan mata-mata Sergei Skripal, yang berusia 66 tahun, dan putrinya, Yulia, 33 tahun, masih berada dalam kondisi kritis setelah ditemukan tidak berdaya di sebuah bangku di Salisbury -Inggris barat daya- pada 4 Maret lalu.




(bag/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed