DetikNews
Kamis 25 Januari 2018, 09:24 WIB

Bidan Ransel, Andalan Ibu dan Anak di Tempat Terpencil di Afrika

BBC Magazine - detikNews
Bidan Ransel, Andalan Ibu dan Anak di Tempat Terpencil di Afrika Foto: BBC
Nairobi -

Dengan tas ransel di punggungnya, Margaret Wairimu Maina tampak seperti orang yang sedang bepergian jauh.

Namun, Margaret bukanlah pelancong. Dia merupakan relawan medis yang menjadi andalan bagi banyak ibu dan anak di tempat terpencil di Nairobi, Kenya.

Tas ransel Margaret dipenuhi beragam perangkat medis berteknologi tinggi yang dirancang untuk memantau kesehatan bayi.

Di dalam tasnya ada alat pendengar detak jantung bayi. Alat itu bertenaga baterai yang dapat bertahan selama 10 jam. Jika tiada baterai, Margaret tinggal memutar engkol pada bagian belakang setiap 10 menit sekali.

Ada pula layar USG yang bisa dijinjing, lampu dengan panel surya mini, termometer yang ditempelkan ke telinga, dan berbagai perangkat lainnya yang berkaitan dengan kesehatan janin dan ibu mengandung.

Total beban semua peranti yang harus dipikul Margaret mencapai 5 kg. Cukup berat selama mengemban tugas dua kali sepekan, katanya.

Perempuan berambut kepang itu bertanggung jawab terhadap lebih dari 120 rumah di sebuah kawasan di Nairobi, Kenya. Dalam sehari, dari tengah hari hingga pukul 16.00 sore, dia bisa berkunjung ke 20 rumah.

"Saya punya dua putra, usianya lima tahun dan 11 tahun. Dua kehamilan saya sangat baik tanpa komplikasi karena saya memulai perawatan sejak usia kandungan hanya dua bulan. Saya juga ditangani tenaga ahli saat melahirkan," kenang Margaret.

Tempat terpencil

Tidak semua perempuan hamil di Afrika punya pengalaman baik seperti itu.

Di Kenya, tak seperti negara Afrika lainnya, seperti Ethiopia, layanan kesehatan tidak ditanggung pemerintah pusat atau daerah.

Oleh karena itu, Margaret yang bekerja sebagai relawan di Pusat Komunitas Kiambu, sebelah utara Nairobi, menjadi andalan bagi ibu dan anak yang memerlukan perawatan medis.

"Di sebagian besar Afrika, relawan seperti Margaret tidak dibayar dan kurang mendapat pelatihan formal atau bahkan peralatan dasar untuk membantu meringankan tugas," kata Jasper Westerink, direktur eksekutif Philips Africa, perusahaan yang membuat ransel untuk relawan medis.

"Selama bertahun-tahun kami berfokus pada penanganan ibu dan anak di Afrika," tambahnya.

Dengan bekerja bersama pemerintah setempat, Philips mengembangkan sejumlah pusat komunitas untuk menyokong relawan kesehatan serta bidan. Perusahaan tersebut juga melengkapi mereka dengan ransel berisi perangkat medis.

"Ambisi kami adalah mengenalkan model ini di seluruh Afrika demi memperbaiki akses pelayanan kesehatan secara drastis," ujar Westerink.

Salah satu kawasan yang dijangkau para relawan medis adalah Kibera, area kumuh terbesar di Afrika yang tercatat dihuni 500.000 orang walau diperkirakan sejatinya menampung dua juta orang.

Kibera seperti got terbuka, tanpa ada WC layak. Jalan-jalan di sana terdiri dari gang-gang sempit yang tidak bisa dilalui ambulans.

Satu-satunya yang mirip ambulans adalah gerobak sorong dengan sirine kuning di pegangan. Orang sakit bakal diangkut menggunakan gerobak itu dan mereka yang beruntung diantar ke klinik kesehatan di pusat komunitas.

Nasib penduduk Mandera di bagian timur laut Kenya yang berbatasan dengan Somalia dan Ethiopia lebih nahas. Di sana, orang sakit dan perempuan hamil sama sekali tidak bisa menumpang ambulans atau gerobak sorong sekali pun.

untaDi daerah terpencil Kenya, unta merupakan satu-satunya moda transportasi. (AFP)

Perlu dua hari mencapai Mandera dari Nairobi melalui jalur darat, sedangkan ongkos menumpang transportasi umum sangat mahal. Karena itu berkendara menggunakan unta adalah satu-satunya pilihan bagi perempuan hamil.

Tak heran begitu mereka akhirnya bertemu dokter, bahaya kematian mengintai mereka dan anak yang mereka kandung. Tingkat kematian anak-anak di sana adalah yang tertinggi di dunia, yaitu 4.000 kematian per 100.000 kelahiran.

Melalui kerja sama badan PBB UNFPA, pemerintah daerah Mandera, dan Philips, sebuah klinik didirikan di wilayah tersebut tahun lalu.

"Kesehatan bayi dan ibu yang baru melahirkan di enam daerah terpencil di Kenya menyumbang nyaris 50% dari semua kematian bayi di Kenya dan kami ingin menghentikannya dengan klinik-klinik seperti ini," kata Dr Ademola Olajide dari UNFPA.

Di Kibera dan Mandera yang merupakan lokasi terpencil dan minim akses kesehatan, teknologi pemantau kesehatan yang praktis dan terhubung dengan saluran telepon amat bermakna baik bagi penduduk maupun relawan medis.

Teknologi kesehatan

Teknologi medis yang canggih terbukti krusial di Ghana. Lewat kerja sama Layanan Kesehatan Ghana dan Yayasan Novartis, sebuah program bernama "telemedicine" tengah dirancang untuk diluncurkan pada 2019.

Program itu membuat para relawan medis dapat terhubung dengan dokter, perawat, dan bidan di pusat telekonsultasi selama 24 jam.

Awalnya, program tersebut dirintis di kawasan Ashanti yang terpencil pada 2011 dengan menjangkau 30 komunitas berisi 35.000 orang.

Kini, Novartis mengklaim ada cukup banyak pusat telekonsultasi untuk melayani seantero Ghana.

Teknologi medis lainnya yang mumpuni dapat ditengok di Uganda. Berkat aplikasi SmartVest, relawan dapat memantau pneumonia pada anak-anak. Penyakit itu sering dikira malaria.

Hanya dalam hitungan menit, data dikumpulkan dan dikirim ke dokter yang bisa mendiagnosa secara cepat dan murah.

Telepon seluler pintar juga bisa digunakan sebagai alat diagnosa sementara. Misalnya, sebagai alat penguji pendengaran.

Perangkat canggih, seperti superkomputer Watson buatan IBM, juga dapat menyerap data sosial dan klinis untuk kemudian menyimpulkan hasil diagnosa. Teknologi semacam ini memberikan pengetahuan kepada para relawan medis di lapangan.

Betapapun canggihnya, teknologi hanyalah alat untuk membantu. Pahlawan sebenarnya adalah para relawan medis seperti Margaret Wairimu Maina yang secara langsung bertatap muka dan bersentuhan dengan orang-orang.

Pekerjaannya tidak mudah, katanya.

"Kadang kala sangat sulit secara emosional untuk masuk ke sebuah komunitas dan berinteraksi dengan orang-orang yang sangat miskin dengan sedikit atau bahkan tanpa sumber daya."

"Tapi itulah yang harus saya lakukan dan saya bahagia bisa berguna dan dikenal di masyarakat," tutupnya.




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed