Perkenalkan, Ini Lana Lokteff 'Ratu Lebah' Supremasi Kulit Putih AS

Perkenalkan, Ini Lana Lokteff 'Ratu Lebah' Supremasi Kulit Putih AS

BBC Magazine - detikNews
Senin, 27 Nov 2017 15:59 WIB
Perkenalkan, Ini Lana Lokteff Ratu Lebah Supremasi Kulit Putih AS
Washington -

Ketika kaum supremasi kulit putih berkumpul dan berunjuk-rasa, kesan yang langsung muncul adalah mereka semuanya tampak serupa: biasanya kaum muda, agresif, lelaki, dan tentu saja berkulit putih.

Perempuan jarang terlihat dalam perhelatan kelompok Ku Klux Klan, neo-Nazi, atau yang disebut Alt-right (kanan alternatif). Namun kenyataannya semakin banyak perempuan dalam kelompok-kelompok itu.

Dan inilah salah seorang di antaranya, yang mengaku bahwa dia "adalah perempuan dari ekstrem kanan yang memilih Donald Trump (menjadi presiden Amerika Serikat)."

Dia adalah Lana Lokteff.

Dijuluki 'ratu lebah': perempuan kanan ekstrem Amerika Serikat dan merupakan perempuan yang paling berpengaruh dalam gerakan ekstem kanan di negeri itu.

Lana Lokteff juga merupakan satu dari sekelompok kecil perempuan yang secara terang-terangan mengungkapkan dukungan terhadap ideologi supremasi kulit putih.

"Saya tidak takut untuk berbicara, juga saya tidak takut untuk menggunakan nama sebenarnya. Karenanya banyak orang yang memusatkan perhatian kepada saya," kata Lokteff kepada BBC Mundo, BBC berbahasa Spanyol.

Lokteff adalah anggota Alt-right, gerakan yang menentang imigrasi dan mulikulturalisme, yang mendukung supremasi kulit putih dan mendapat perhatian dengan mendukung kampanye Donald Trump.

Amerika Serikat, Trump Anggota Alt-right mendukung tema-tema kampanye Donald Trump dalam isu imigrasi. (Getty Images)

"Kami di Amerika Serikat, setara dengan para nasionalis Eropa: kami berupaya memulihkan identitas kami dan akar Eropa kami," katanya.

"Kami ingin (Amerika sebagai) negara putih untuk orang putih, tempat kami kulit putih merupakan mayoritas."

"Kami mendukung nilai-nilai tradisional dan kami menentang globalisasi, menentang perbatasan yang bebas dan niilai-nilai liberal," tambahnya.

Para penentangnya menyebut gerakan ekstrem kanan ini adalah gerakan rasis dan misogonis atau membenci perempuan.

Kontroversial dan tidak biasa

Dana Lokteff -yang berkulit putih, rambut pirang, dan mata biru- adalah prototipe dari gambaran ideal yang dipromosikannya.

Untuk menyebarkan gagasan-gagasannya, dia memandu sebuah acara radio di Stasiun Red Ice, perusahaan media yang dikelola suaminya, seorang pria Swedia, Henrik Palmgren.

Lokteff memang bukan tipikal aktivis Alt-right kebanyakan, karena biasanya para aktivis gerakan ini memakai nama samaran dan berbicara di forum-forum tertutup.

"Anda pasti tahu... kalau Anda secara terbuka mengaku dari kalangan ultranasionalis, mempertahankan nilai dan identitas Anda, maka Anda akan dikatakan sebagai Nazi, rasis, KKK... dan banyak perempuan yang tak tahan dengan sebutan-sebutan tersebut," kata Lokteff.

"Banyak perempuan yang menginginkan hidup tenang dan tak ingin merasa dipinggirkan karena pandangan politiknya. Saya bukan tipe seperti itu."

Lokteff mengungkapkan bahwa sebenarnya banyak perempuan yang mendukung ideologi yang ia usung namun memilih tidak muncul di permukaan dan 'bermain di belakang layar'.

"Mereka tak terlibat dalam politik, mereka tak tahan dengan tekanan, mereka tak ingin dikatakan rasis."

"Tapi mereka ada. Mereka adalah kaum istri, ibu, kaum perempuan yang mendukung gerakan. Banyak di antara mereka yang menyimak gagasan-gagasan saya. Saya menerima banyak pesan dari mereka. Mereka adalah kaum nasionalis," katanya.

"Jangan lupakan bahwa terpilihnya Trump adalah berkat suara kaum nasionalis perempuan berkulit putih," kata Lokteff.

Amerika Serikat Kelompok supremasi kulit putih sering dikaitkan dengan 'kaum muda yang agresif'. (Reuters)

Tapi ada masalah lain. Seperti halnya gerakan ekstrem kanan di AS, akar Alt-right adalah gagasan atau pemikiran superiotas kulit putih dan superioritas kaum laki-laki.

Bagi mereka kaum perempuan 'lebih rendah dibandingkan laki-laki' dan bahwa perempuan 'adalah ancaman terhadap kekuasaan laki-laki'.

Richard Spencer, aktivis supremasi kulit putih yang mengaku sebagai orang yang menciptakan istilah Alt-right menulis di Twitter pada 2008, bahwa 'perempuan tidak semestinya dilibatkan dalam urusan politik luar negeri'.

Sementara Andrew Anglin -pendiri situs yang mempromosikan supremasi kulit putih, Daily Stormer- pernah mengatakan bahwa 'rahim kaum perempuan adalah milik kaum laki-laki'.

Menentang feminisme

Profil Lokteff pernah ditulis oleh Seyward Darby di majalah Harper's Magazine, dengan penggambaran sebagai 'pejuang Alt-right' dan 'ratu lebah bagi gerakan tersebut'.

Menurut Darby, banyak kaum perempuan yang mendukung karena sikap Alt-right yang menentang feminisme.

Amerika serikat, ekstrem kanan Richard Spencer, salah satu pemimpin Alt-right berpendapat bahwa perempuan seharusnya tidak diizinkan mendapat jabatan di pemerintahan. (Getty Images)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka merasa agenda progresif feminisme tidak memenuhi tujuan mereka," kata Darby. "Dan dalam beberapa hal, mereka merasa hal itu (feminisme) secara aktif mengabaikan mereka karena mereka menginginkan hal-hal yang lebih tradisional: rumah tangga, keluarga, dan sebagainya.

Lokteff sendiri mengatakan bahwa 'perempuan modern tidak senang pada feminisme dan kesetaraan yang mereka capai dengan pria dalam beberapa hal'.

"Yang sudah terjadi, apa yang disebut feminisme dan yang disebut pembebasan yang sudah dicapainya, adalah perempuan harus bekerja untuk mengejar karier." katanya.

"Lalu ketika mereka mencapai usia 40 tahun dan menyadari 'betapa mengerikan: saya tidak punya keluarga, saya tidak punya anak, saya tidak punya (pasangan) pria dan saya merasa amat kesepian."

"Saya mendengar setiap saat dari kaum perempuan yang menulis pesan kepada saya bahwa mereka menyesal tidak punya anak dan membiarkan diri mereka terbawa gagasan bahwa mereka tidak memerlukan pria dan mereka ingin bersaing dengan pria di tempat kerja."

AltRight
Kelompok sayap kanan sering dikecam sebagai rasis. (BBC)

"Hal itu tidak membuat perempuan senang karena mereka jadi tidak memprioritaskan tujuan-tujuan mereka, karena mereka lupa prioritas: yaitu memiliki keluarga."

"Feminisme menganggap gagasan (memiliki keluarga) itu sebagai hal kejam dan mereka memandang peran ibu dan istri di rumah dengan hina."

Kapasitas perempuan untuk turut menentukan, Lokteff yakin, tidak penting karena yang paling penting -menurut ideologi mereka- adalah 'masa depan dari masyarakat kulit putih'.

Ia juga menambahkan bahwa perempuan hanya memiliki tiga tujuan: menjadi cantik, menarik pria yang bisa melindungi, dan memiliki keluarga."

"Perempuan apa yang tidak menginginkan semua itu? Itu kebenaran... Walau banyak perempuan yang menyangkal ingin menjadi cantik dan dilindungi oleh kaum pria.

Nilai-nilai itulah, yang menurut Lokteff, menarik banyak perempuan ke dalam gerakan nasionalis kulit putih.

Dan lewat acara radio dan kuliahnya, dana Lokteff 'dengan amat berhasil' menyebarkan pesan ke kalangan para perempuan kulit putih, begitulah pengakuannya.

"Kami perempuan menarik perempuan lain dan saya menarik banyak pengikut," katanya kepada BBC Mundo.

Karena gerakan itu begitu terpencar, sulit diketahui berapa banyak anggota Alt-right dan berapa banyak pula yang perempuan.

Namun seperti dijelaskan para pengamat, memang supremasi kulit putih meningkat di Amerika Serikat dan perempuan mengambil peran penting dalam gerakan itu.

Seperti ditegaskan seorang wartawan, Sayward Darby, "Kaum perempuan itulah yang menjaga kelanggengan ras kulit putih (dengan melahirkan bayi kulit putih), merawat keluarga dan menanamkan nilai-nilai supremasi kulit putih."

(ita/ita)


Berita Terkait