
Sedikitnya 43 orang tewas akibat serangan bom bunuh diri di Bandara Istanbul.
Setelah sempat terkurung di hotel seharian, mengikuti arahan panitia konferensi internasional di Istanbul, pegiat hak-hak sipil asal Indonesia, Tunggal Pawestri, meninggalkan Turki, Kamis (20/6).
Dia berangkat dari Bandara Kemal Ataturk yang menderita serangan bom bunuh diri dan menewaskan sedikitnya 43 orang, dua hari sebelumnya.
Namun Pawestri mengaku sedikit terkejut karena tidak melihat penjagaan keamanan yang mencolok di bandara internasional itu, dua hari setelah serangan yang mematikan.
"Tiba di bandara Kemal Ataturk, lokasi serangan, saya agak kaget. Berbeda dengan arahan keamanan yang saya terima, tak banyak terlihat antrian yang khusus. Semua tampak seperti normal saja."

Kesibukan tampak normal dan orang-orang sepertinya tak ingat bahwa baru saja terjadi serangan di bandara.
- Dampak serangan di Istanbul, jenazah dubes RI tertahan
- Warga RI di Istanbul merasakan suasana mencekam
"Kan baru saja kemarin dulu, di sini terjadi serangan bom bunuh diri. Ada yang membawa senapan serbu Kalashnikov menembak-nembaki orang. Dan kemudian meledakkan bom bunuh diri," tambahnya.
Pawestri sempat mengaku merasa lega ketika akan meninggalkan Istanbul namun kemudian rasa ketakutan muncul kembali.
"Tiba-tiba, saya dicekam ketakutan juga: Apakah sekarang bandara sudah sepenuhnya aman? Apakah para penyerang sudah dilumpuhkan semuanya? Apakah sudah benar-benar tak ada bahan peledak di bandara?"
- Penyerang bandara Istanbul "berkeliaran dengan baju hitam"
- Korban serangan Istanbul dari berbagai negara

Serife baru mengunjungi kakaknya yang melahirkan, dan akan kembali ke Prancis.
Setelah mendaftar ke meja keberangkatan, Pawestri minum kopi dan bertemu dengan seorang perempuan Turki, Serife, yang berusia 33 tahun.
"Sama seperti saya, perempuan yang tinggal di Paris bersama suaminya warga Prancis itu juga merasa sedikit stres, mengapa penjagaan dan keamanan begitu minim," tutur Pawestri.
Jacy Drake, seorang perempuan 27 tahun asal Texas, Amerika Serikat, termasuk yang merasa tidak aman dan penerbangannya sempat tertunda sehari karena serangan bom sehingga baru bisa meninggalkan Istanbul pada hari Kamis.

Petugas bandara membersihkan bekas-bekas darah korban serangan bom bunuh diri.
- Korban bom bunuh diri di Istanbul terus bertambah
- Serangan bunuh diri di bandara Istanbul, puluhan tewas
Pawestri juga sempat bertemu dengan Shilo Haidaricen, warga Iran yang tinggal di Belanda dan sebenarnya hanya transit di Istanbul dalam perjalanan pulang ke Belanda setelah mengunjungi ayahnya di Iran dengan menggunakan maskapai Turkish Airlines.

Tak terlihat polisi, petugas bersenjata -- padahal baru saja terjadi serangan yang menewaskan puluhan orang.
Saat antre untuk naik pesawat menuju Belanda itulah Shilo mengaku mendengar ledakan maupun rentetan tembakan dan langsung saja beberapa petugas berteriak menyuruhnya keluar.
Shilo berkisah pada Pawestri, bunyi bom dan tembakan terdengar beberapa menit. Bersama penumpang yang lain mereka digiring menjauh dari bandara. Suasananya amat kacau pada saat itu, semua orang berteriak dan banyak yang menangis. Ia terus berlari dan menyelamatkan diri sehingga posisinya agak jauh dari bandara. Lima jam ia dan beberapa penumpang lain baru kemudian diurus oleh petugas maskapai.
"Gila! Semua kekacauan itu baru terjadi 36 jam lalu tapi saya tak melihat bekasnya sama sekali dan bandara ini beroperasi seolah tak pernah terjadi apa-apa. Saya tadi coba bertanya kepada petugas tiket, kemana semua bekas pengeboman dan kerusakan kemarin? Semua menggelengkan kepala. Aneh. Saya malah jadi takut," katanya seperti dikisahkan Tunggal Pawestri.
Kini Pawestri sudah lepas dari Istanbul dan tiba di Amsterdam.
"Sesudah beberapa jam terbang, kami mendarat di Bandara Schipol, Belanda. Saya harus mengakui, saya merasa lega," tuturnya, walau perjalanan pulangnya masih lebih panjang.











































