Kelomok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS sedang mengembangkan kemampuan melancarkan serangan lewat dunia maya, kata Menteri Keuangan Inggris George Osborne.
Osborne mengumumkan, anggaran pemerintah Inggris untuk upaya memberantas kejahatan siber akan bertambah dua kali lipat menjadi Pound 1,9 miliar (sekitar Rp39 triliun) per tahun sampai 2020.
Rencana itu dirilis setelah ISIS mengklaim berada di balik serangan di Paris yang membunuh 129 orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun pejabat Inggris itu mengingatkan, ISIS juga berupaya meretas infrastruktur kunci negara dengan tujuan membunuh orang.
'Risiko besar'
"Mereka belum punya kemampuan itu. Tapi kami tahu mereka menginginkannya, dan melakukan yang terbaik untuk memilikinya," kata Osborne. "Risikonya sangat besar".
"Jika suplai listrik, atau kontrol lalu lintas udara, atau rumah sakit diserang dengan sukses lewat internet, dampaknya tidak hanya bisa diukur dalam hitungan ekonomi tapi nyawa bisa hilang," dia menambahkan.

Berbagai kalangan berduka atas serangkaian serangan di Paris hari Jumat (13/11).
Β
Osborne mengatakan, Badan Internet Nasional Inggris akan bekerja dengan para ahli terkemuka di negara itu.
Koresponden BBC Frank Gardner mengatakan, sebagian besar rencana yang diumumkan menteri keuangan bukan hal baru.
Tetapi, pemerintah Inggris ingin rakyatnya tahu bahwa mereka serius menjadikan keamanan di dunia maya sebagai prioritas utama.
Keberanian Blitz
Pada Senin malam (16/11), Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan rakyat Inggris harus menunjukkan keberanian yang ditunjukkan ketika peristiwa Blitz di Perang Dunia 2, demi mengalahkan ancaman terorisme.
Cameron berujar, peningkatan anggaran untuk pertahanan -yang dijamin komitmen pemerintah untuk menyalurkan 2% PDB ke sektor militer- akan menambah dana untuk pasukan khusus SAS dan unit lainnya sebesar Pound 2 miliar (sekitar Rp41 triliun) sampai 2020.
Ia menambahkan, rencana itu juga berarti lebih banyak uang untuk pesawat tanpa awak, pesawat tempur, dan keamanan siber.
"Anda tidak melindungi orang dengan duduk-duduk dan mengharapkan dunia lain (yang lebih baik). Anda harus bertindak dalam kasus ini, dan itu berarti siap menggunakan kekuatan militer jika dibutuhkan," jelas Cameron.











































