AS Klaim Jatuhkan 1 Ton Bom ke Situs Peluncur Rudal Bawah Tanah Iran

AS Klaim Jatuhkan 1 Ton Bom ke Situs Peluncur Rudal Bawah Tanah Iran

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 10 Mar 2026 21:23 WIB
Smoke rises following a strike on the Bapco Oil Refinery, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, on Sitra Island Bahrain, March 9, 2026. REUTERS/Stringer      TPX IMAGES OF THE DAY
Ilustrasi serangan. (REUTERS/Stringer)
Jakarta -

Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS) Jenderal Dan Caine mengatakan militer AS menjatuhkan puluhan senjata penetrasi seberat 2.000 pon atau setara 1 ton ke situs rudal Iran yang terkubur jauh di bawah tanah. Hal ini menegaskan focus Pentagon saat ini untuk menyerang target yang terletak di bawah permukaan.

"Pesawat pembom Komando Strategis baru-baru ini menjatuhkan puluhan senjata penetrasi GPS seberat 2.000 pon ke peluncur rudal yang terkubur jauh di sepanjang sayap selatan. Kami juga telah menyerang beberapa pabrik drone satu arah untuk menyerang jantung kemampuan otonom mereka," kata Caine dalam konferensi pers di Pentagon dilansir CNN, Selasa (10/3/2026).

Caine dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth sama-sama menegaskan bahwa menghancurkan kemampuan Iran untuk meluncurkan dan memproduksi rudal adalah prioritas utama militer AS. Caine juga menekankan bahwa AS menargetkan basis industri militer Iran, termasuk fasilitas bawah tanah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun Caine mengatakan AS sedang membuat kemajuan menuju penghapusan kemampuan rudal Iran, masih belum jelas bagaimana Pentagon berencana untuk mengatasi ancaman utama lainnya: fasilitas nuklir bawah tanah negara itu, khususnya yang diduga menyimpan uranium yang sangat diperkaya.

CNN sebelumnya melaporkan bahwa penghancuran persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran tidak dapat dicapai hanya melalui kekuatan udara, dan pemerintahan Trump telah membahas kemungkinan menggunakan pasukan darat untuk mengekstrak material tersebut dari lokasi penyimpanan bawah tanahnya.

Beberapa pejabat saat ini dan mantan pejabat mengatakan kepada CNN bahwa misi semacam itu akan membutuhkan pasukan darat yang besar, di luar unit kecil pasukan khusus AS.

Lihat juga Video 'Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran, Trump: Bukan Cuma AS yang Punya':

(rfs/ygs)


Berita Terkait