Warga Israel mulai masa berkabung atas kematian mantan Perdana Menteri Ariel Sharon yang meninggal pada usia 85 tahun, setelah mengalami koma selama delapan tahun.
Masyarakat akan dapat memberikan penghormatan terakhir kepada jenazah Sharon yang disemayamkan secara kenegaraan pada Minggu, sebelum upacara pemakaman pada Senin (13/01).
Tokoh Israel dan dunia telah memberikan penghormatan kepada pria yang terlibat dalam empat perang besar sebelum terjun ke politik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Pusat Kesehatan Sheba dekat Tek Aviv, mengkonfirmasikan kematian Sharon pada Sabtu Sore, di hari Sabbath bagi Yahudi, setelah sebelumnya diberitakan kesehatannya menurun.

Suasana berbeda terlihat di Palestina yang menganggap Sharon sebagai musuh.
Gilad Sharon, salah seorang anaknya, mengatakan di luar rumah sakit :"Dia telah pergi. Dia tiada setelah memutuskan untuk pergi."
Presiden AS Barack Obama dan ibu negara Michelle Obama menyatakan Sharon seorang pemimpin "yang mendedikasikan hidupnya untuk negara Israel".
Presiden Israel Shimon Peres, teman lama dan saingan politik yang bergabung dengan pemerintahan dengan Sharon pada 2001, mengatakan "Dia adalah seorang pria yang luar biasa dan seorang pemimpin yang menggerakkan masyarakatnya dan mencintai mereka dan orang-orang mencintai dia".
Beberapa bulan sebelum terkena stroke, dia memimpin penarikan mundur pasukan Israel dari jalur Gaza yang bertujuan untuk menurunkan ketegangan dengan Palestina.
Editor Timur Tengah BBC, Jeremy Bowen mengatakan dibandingkan dengan pemimpin Israel lainnya, Sharon lebih banyak berupaya menjalin hubungan dengan Palestina.











































