Tekan Angka Kemiskinan, Pemprov Jateng Perluas Program Satu OPD Satu Desa
Bangun Indonesia

Ayo, tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan bangsa dan wujudkan impian Indonesia yang lebih baik!

Tekan Angka Kemiskinan, Pemprov Jateng Perluas Program Satu OPD Satu Desa

Angelina Vioni
Selasa, 29 Sep 2026 15:28 WIB
Tekan Angka Kemiskinan, Pemprov Jateng Perluas Program Satu OPD Satu Desa
Foto: Pemprov Jateng
Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah akan memperluas program Satu Organisasi Perangkat Desa (OPD) Satu Desa Dampingan. Hal ini menjadi salah satu strategi untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan di wilayahnya dan sudah menjangkau 641 desa.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen, saat Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jateng, Selasa (29/9).

Menurut Taj Yasin, walaupun angka kemiskinan Jawa Tengah mengalami penurunan, capaian tersebut perlu terus diperkuat melalui pembenahan data dan intervensi yang lebih terarah.

"Di kecamatan kita mana yang paling miskin? Kita kecilkan lagi di kecamatan itu desanya mana. Di situ kita tugaskan OPD kita," katanya, dalam keterangan tertulis, Selasa (29/9/2026).

Taj Yasin menilai pendampingan tersebut harus dilakukan secara lintas sektor. OPD yang mendapat tugas tidak harus menyelesaikan persoalan kemiskinan sendirian, tetapi menjadi koordinator untuk menghubungkan kebutuhan desa dengan program OPD lainnya.

"Mereka sifatnya menjadi coordinator, supaya program itu bisa berjalan semuanya di desa-desa tersebut," ujarnya.

Taj Yasin mengatakan pentingnya pemutakhiran data kemiskinan secara berkala agar perubahan kondisi masyarakat dapat segera tercatat.

Proses verifikasi data dapat dimulai dari tingkat desa, RT, dan RW. Hal ini dikarenakan perangkat desa bersama tokoh masyarakat dinilai lebih mengetahui kondisi warga di wilayahnya.

Taj Yasin menilai verifikasi dan perbaikan data menjadi salah satu kunci agar bantuan pemerintah benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

Selain pembenahan data, Taj Yasin juga meminta program penanggulangan kemiskinan tidak berhenti pada bantuan konsumtif. Bantuan diarahkan pada pemberdayaan, terutama bagi masyarakat usia produktif, agar mampu meningkatkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Taj Yasin mencontohkan bantuan produktif dapat berupa kambing, ayam, dan unggas yang harus disertai pendampingan serta pengawasan keberlanjutan. Pemerintah perlu memastikan bantuan tersebut tidak berhenti begitu saja, tetapi berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi penerimanya.

Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah, Imam Maskur, mengatakan upaya penanggulangan kemiskinan terus dilakukan seiring pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,31%.

Menurut Imam, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan penyediaan lapangan kerja agar masyarakat memperoleh pendapatan dan mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Pada Maret 2026, Imam menyampaikan persentase penduduk miskin di Jawa Tengah tercatat sebesar 9,21% atau sebanyak 3,29 juta orang.

Imam menyebut, kemiskinan masih relatif tinggi di wilayah pedesaan, kondisi tersebut antara lain dipengaruhi karakter Jawa Tengah yang sebagaian besar agraris, dengan alternatif sumber pendapatan yang relatif terbatas.

Namun, kemiskinan ekstrem menunjukkan perkembangan positif. Imam menyebut angka kemiskinan ekstrem Jawa Tengah turun dari sekitar 0,62% pada 2024 menjadi 0,3% pada 2025, atau turun lebih dari 50%.

Imam mencontohkan Kota Surakarta dan Kota Salatiga yang mengalami penurunan kemiskinan ekstrem secara signifikan. Menurutnya, pengalaman kedua daerah tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kabupaten/kota lainnya.

"Ini bisa menjadi rujukan best practice (praktik baik) untuk kabupaten dan kota yang lainnya, terutama dalam penurunan angka kemiskinan ekstrem," pungkasnya.

Lihat juga Video Presiden Targetkan Angka Kemiskinan Turun ke 6 Persen

(anl/ega)

Berita selengkapnya tentang Kunjungi

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini