Dari Listrik Ada Harapan Baru bagi Warga Pulau Buru di Perbatasan

Advertorial - detikNews
Kamis, 21 Nov 2019 00:00 WIB
Masjid tertua di Buru yang bisa mengundang wisatawan religi (Foto: 20detik/Wirsad Hafiz)
Masjid tertua di Buru yang bisa mengundang wisatawan religi (Foto: 20detik/Wirsad Hafiz)
Jakarta -

Bagi warga Pulau Buru, beroperasinya listrik dari 12 ke 24 jam jadi harapan baru untuk meningkatkan kualitas hidup. Pasalnya, wilayah terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Singapura ini masih minim infrastruktur.

Sebut saja pelabuhan yang ada di Buru hanya bisa mengangkut orang, tetapi belum bisa untuk barang atau komoditi skala besar. Di pulau yang masuk dalam Kecamatan Buru, Karimun, Kepulauan Riau ini juga masih minim penginapan apalagi resor mewah.

Padahal sebagai daerah kepulauan, akses transportasi laut seperti kapal dan pelabuhan menjadi sangat penting. Hal ini nantinya berpengaruh dengan pengembangan wisata yang menarik wisatawan dan usaha yang dijalankan masyarakat.

Dulu, kata Camat Buru Helmi, berbekal satu stempel khusus dan menggunakan sampan kecil, warga bisa menyeberang ke Malaysia dan Singapura untuk menjual hasil bumi atau hasil laut maupun barter berbagai barang.

Bukan tak jarang, di tahun 1970 atau 1980-an, warga Pulau Buru menggunakan mata uang negara tetangga dan mendapat tiga kali lipat lebih saat ditukar ke rupiah. Selain itu, perekonomian warga juga akhirnya bergantung pada negara tetangga.

"Kalau sekarang kan harus ke Batam dulu, dan ada ukuran minimal barang yang bisa diekspor. Ini sulit buat warga kecil. Siapa tahu pemerintah bisa menerapkan kawasan khusus ekonomi perbatasan," ucap Helmi saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Padahal Pulau Buru, jelas Helmi, menjadi salah satu lokasi prioritas di perbatasan yang memiliki berbagai potensi, seperti wisata, perikanan laut dan tambak, serta pertanian. Apalagi kini kecamatan yang dihuni sekitar 12 ribu penduduk ini sudah menyediakan infrastruktur listrik 24 jam.

"Geliat ekonomi mulai tumbuh, dari bisnis, terus di dunia pendidikan, di sekolah, dan di tempat ibadah. Dulunya kalau salat Jumat siang tidak ada listrik dan kipas angin tidak nyala, panas," ujar Helmi.

"Sejak berdirinya Kabupaten Karimun dan Kepulauan Riau, tahun 2019 ini sudah bisa menikmati listrik," imbuhnya.

Helmi juga mengatakan memerlukan sentuhan investor untuk meningkatkan ekonomi di Buru seperti membuat resor. Lalu juga bekerja sama di sektor perikanan, perkebunan sawit, dan terutama pelabuhan yang jadi akses utama warga di kepulauan ini.

"Harapan dengan adanya listrik 24 jam, perekonomian masyarakat bisa berkembang, terutama perikanan, perikanan tambak, dan pariwisata. Kami memerlukan investor, untuk dapat mengembangkan potensi pariwisata di Buru," ucap Helmi.

"Kita ini nggak kaya mereka (Malaysia dan Singapura), nggak mampu menjual. Punya potensi wisata, tapi nggak jago menjualnya, mungkin karena infrastruktur wisatanya," tutup Helmi.

Sementara itu, Supervisor Teknik PLN Buru Roni Chandra mengatakan, perubahan nyala listrik dari 12 ke 24 jam di Pulau Buru beroperasi sejak bulan April 2019. Perkembangan ini juga membuat ia dan 8 orang anggotanya untuk rutin berkoordinasi penyediaan bahan bakar yang meningkat akibat operasi ini.

Ia juga mengatakan sampai saat ini, di Pulau Buru sekitar 95% warga sudah teraliri listrik, sisanya masih proses pembuatan jaringan menuju ke sana. Pihaknya juga masih memiliki surplus daya yang bisa digunakan untuk lainnya.

"Kita juga ngikutin semua perkembangan kebutuhan listrik di sini, termasuk untuk Puskesmas yang lagi dibangun yang nanti bakal dapat listrik gratis," ujar Roni.

Sementara itu menurut Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah, lewat program 35 MW yang dicanangkan pemerintah, PLN terus menambah daerah jangkauan ke daerah terluar maupun meningkatkan kapasitas listrik.

"Sejak adanya program 35 MW dari Presiden Jokowi, di Pulau Buru ini mendapat tambahan mesin diesel dengan kapasitas 500 KWatt, ada 2 unit, di situ kita bisa menaikkan jam nyalanya," ujar Dwi.

"Dampaknya apa? Kebutuhan untuk belajar di sekolah-sekolah itu tadinya harus menghidupkan gensetnya untuk aktivitas di malam hari, kita tinggal nambah dayanya. Harapannya, listrik yang disediakan pemerintah ini dapat menunjang pendidikan,sehingga ke depan, tidak hanya taraf ekonominya saja yang meningkat, tetapi pendidikan untuk sekolah," imbuh Dwi.

Ia juga menjelaskan, pertumbuhan pelanggan PLN di Karimun mencapai sekitar dua ribu per tahun dengan peningkatan permintaan kapasitas 2 MW setiap tahunnya serta peningkatan konsumsi listrik dari 7 hingga 7,2%.

"Kita ketahui di Karimun sudah tumbuh, baik kawasan bisnis, perumahan maupun perhotelan. Geliat ekonomi cukup tumbuh meningkat meskipun ini merupakan pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Malaysia maupun Singapura," ujar Dwi.

Detikcom bersama PLN mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur listrik, perekonomian, pendidikan, pertahanan dan keamanan, hingga budaya serta pariwisata di beberapa wilayah terdepan.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

(adv/adv)