"Malam ini masih dilakukan pencarian dengan ROV, untuk mencari obyek badan pesawat yang lebih besar," terang Syaugi, dalam keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).
Syaugi yang memantau langsung proses pencarian di Last Know Position (LKP) menjelaskan bahwa locus pencarian pada Kamis (1/1/2018) dan Jumat (2/11/2018) tetap berada di sekitar lokasi di mana bagian black box berhasil ditemukan.
"Dari gambar yang dikirimkan ROV, kita melihat banyak sekali puing atau serpihan pesawat, yang terbesar kami lihat ada roda pesawat," pungkasnya.
Foto: dok. Basarnas |
Ia juga menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada seluruh potensi SAR yang terlibat dalam operasi, unsur TNI-Polri serta, Kementerian Perhubungan, BPPT, KNKT, Bakamla, Pertamina, Bea Cukai, masyarakat termasuk nelayan, dan potensi lainnya.
"Kami tetap semangat, tetap solid. Selebihnya kami minta doa dari masyarakat agar seluruh korban dapat kami evakuasi dengan cepat," imbuh Syaugi.
Sementara itu, bagian black box yang diduga bagian dari Flight Data Recorder (FDR) berhasil ditemukan dan diangkat oleh tim SAR dan telah diserahkan oleh Syaugi kepada perwakilan dari Komite Keselamatan Transportasi (KNKT) di atas kapal Riset Baruna Jaya BPPT di lokasi pencarian.
Selanjutnya, bagian black box tersebut dibawa ke Posko Terpadu di Jakarta International Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan Rigid Inflatable Boat (TIB) milik Taifib.
Foto: dok. Basarnas |
Sampai di posko, rombongan Ketua KNKT yang membawa black box tersebut disambut Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi untuk selanjutnya digelar konferensi pers.
"Kami mengucapkan terima kasih atas kerja sama dan jerih payah seluruh tim SAR sehingga pada pagi hari tadi dapat menemukan bagian black box. Bagian ini kemungkinan besar Fligh Data Recorder yang akan menjawab berapa kecepatan, arah, ketinggian kecepatan, dan semua data terkait pesawat," terang Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.
Selanjutnya, Ketua KNKT berharap black box satunya yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dapat segera ditemukan sehingga mengungkap penyebab kecelakaan.
Dari lokasi pencarian, Basarnas telah membagi tugas semua aset yang terlibat dalam operasi. Area pencarian terbagi dalam 2 sektor atau prioritas pencarian. Pada sektor 1, tim SAR melaksanakan pencarian dengan search pattern (pola pencarian) creeping.
Foto: dok. Basarnas |
Pada lokasi pencarian prioritas 2, tim SAR menggunakan pola pencarian pararel. Pada sektor 1, kapal-kapal yang beroperasi dilengkapi dengan alat pendeteksi bawah air seperti Multi Beam Echosounder (MBES), Side Scan Sonar, Remotly Operated Underwater Vehicle (ROV), dan Ping Locator untuk mendeteksi sinyal dari black box.
Peralatan-peralatan tersebut terpasang di 5 kapal, masing-masing KRI Rigel, Rubber Boat (RB) 206 Kantor SAR Bandung, Baruna Jaya BPPT, Kapal Dominos dan Teluk Bajau Pertamina. Pada sektor ini juga mengerahkan penyelam-penyelam dari Basarnas Special Group (BSG), Denjaka, Kopaska, Taifib, Marinir, dan penyelam-penyelam andal lainnya.
Sementara di sektor 2, terdapat 40 kapal lebih dari Basarnas, TNI-Polri, Kementerian Perhubungan, Polair, KPLP, Bea Cukai, serta ditambah kapal-kapal nelayan dan Potensi SAR lainnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 610 rute Cengkareng - Pangkalpinang mengalami kecelakaan 13 menit setelah lepas landas dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (29/10/2018) pukul 06.20 WIB. Pesawat dengan personel on board sebanyak 189 orang itu jatuh di kawasan Perairan Karawang.
(adv/adv)












































Foto: dok. Basarnas
Foto: dok. Basarnas
Foto: dok. Basarnas