Pernyataan tersebut, disampaikan Novanto di sela-sela Safari Ramadan ke Kabupaten Tegal, Brebes, dan Cirebon, Senin (19/6/2017).
Sebagai penyelenggara negara yang juga warga nahdliyin, Novanto sangat memahami dampak yang ditimbulkan bila kebijakan tersebut terus dipaksakan. Ini dikarenakan akan mematikan Madrasah Diniyah atau sekolah sejenis yang masuk siang sampai sore hari, yang jumlahnya mencapai puluhan ribu.
Kita perlu menghargai kekhususan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat, khususnya di kalangan masyarakat nahdliyin. Sebagaimana diketahui, Madrasah Diniyah telah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun serta telah memberikan kontribusi dalam pembentukan karakter bangsa, mengutamakan akhlak mulia dan cinta Tanah Air.
Novanto memaparkan, ke depannya setiap kebijakan yang akan diambil pemerintah perlu dilakukan kajian yang komprehensif dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, serta kaum profesional. Sehingga kebijakan tersebut punya landasan sosiologis yang kuat dan tidak mudah untuk digugat oleh masyarakat. (adv/adv)











































