Bukan tanpa alasan bila Singapura ingin menjadi pusat seni dunia, khususnya untuk kawasan Asia. Dari daftar 200 kolektor seni teratas dunia tahun 2015 yang diterbitkan ARTNEWS, terdapat sejumlah nama dari Asia, termasuk dari Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Indonesia, dan Malaysia. Di dalamnya, tampak hadir generasi baru pecinta dan pemburu karya seni.
Fenomena menarik lainnya yang diantisipasi dengan baik oleh Singapura adalah semakin diminatinya karya seni sebagai salah satu tujuan investasi. Artinya, karya seni telah dianggap sebagai salah satu instrumen investasi di samping instrumen investasi lainnya, seperti properti, emas dan surat berharga.
Sekitar 18 persen ajang berkumpulnya kolektor seni dunia saat ini ada di Asia, dan Singapura menjadi kota terbesar ketiga sebagai ajang berburu para kolektor seni, setingkat dengan Beijing dan Seoul, menurut Magnus Resch, perusahaan penasihat di bidang pasar seni. Sedangkan menurut penelitian berjudul 'Knight Frank Wealth Report 2015', ada 492 miliarder di Asia, dan 24 di antaranya tinggal di Singapura. Mereka pun berinvestasi di karya seni.
Persiapan Singapura untuk menyambut pecinta karya seni dapat dibilang sudah matang. Hampir semua karya seni dari seniman ternama dunia ada di galeri-galeri yang bertaburan di negara ini. Karya seniman kontemporer Jepang Aida Makoto dipajang di Mizuma Gallery. Karya pelukis pastel Filipina, Jose Legaspi, ditampilkan di galeri The Drawing Room. Sedangkan lukisan karya pelukis asal Ubud, Bali, I Made Djirna, dipamerkan di Gajah Gallery, dan karya Agus Suwage di ARNDT Singapore.
Bagi pencinta dan kolektor seni, Singapura pun menjadi jendela untuk menikmati tren seni terkini. Bayangkan, selama setahun Singapura tidak pernah sepi dari pameran dan pertunjukan seni. Di bulan Januari saja, misalnya, Singapura sudah menggebrak melalui pekan seni Singapore Art Week, yang tahun ini digelar dari 16-24 Januari 2016.
"Ini adalah perayaan seni visual terbesar tahun 2016 dan kami bertekad menjadikan Singapore Art Week sebagai jadwal penting dalam kalender seni," kata Low Eng Teong, direktur National Art Council, yang merupakan inisiator Singapore Art Week dalam kerja sama dengan Singapore Tourism Board dan Singapore Economic Development Board.
Ajang tahunan ini memanjakan pencinta dan kolektor seni dengan sejumlah kegiatan, antara lain berbagai pameran karya seni mancanegara di sejumlah galeri dan ruang terbuka. Bagi pengunjung dari Indonesia dan Jepang, ada yang menarik di Gillman Barracks, yakni pameran kolaborasi antara pelukis Indonesia, Nasirun, dan seniman Jepang, Tanada Koji, yang diberi nama "From Koyasan to Borobudur". Karya kolaborasi ini menampilkan teknik pahatan kayu kuno dari Jepang dan seni wayang dari Jawa.
Sejumlah kegiatan menarik dan dikemas cantik di sepanjang tahun itu masih dilengkapi dengan infrastruktur keuangan, perdagangan, dan penerbangan yang andal untuk memuluskan perdagangan karya seni. Tepatlah bila pakar seni kontemporer international Matthias Arndt mengatakan di awal 2015, "Saya yakin bahwa Singapura yang memiliki infrastruktur profesional akan menjadi pemain utama, pintu gerbang dan platform perdagangan seni di Asia Tenggara dan Pasifik."
Singapura tengah memainkan peran penting dalam meningkatkan nilai transaksi karya seni. Dengan dukungan infrastruktur dan ekosistem pendukung, karya seni dari para seniman dari berbagai penjuru dunia, terutama dari kawasan Asia, telah mendapat tempat terhormat di rumah maupun studio seni ternama, bahkan dalam deretan teratas pilihan investasi. (adv/adv)











































