Hatta: Membangun, Jangan Menyerah oleh Hambatan Sesaat

Hatta: Membangun, Jangan Menyerah oleh Hambatan Sesaat

- detikNews
Kamis, 20 Okt 2011 07:00 WIB
Hatta: Membangun, Jangan Menyerah oleh Hambatan Sesaat
Jakarta - Niat baik untuk membangun infrastruktur yang memberikan manfaat besar kepada masyarakat luas, terkadang tidak bisa diterima secara leluasa oleh sekelompok masyarakat tertentu. Namun, niat kuat untuk tetap membangun infrastruktur itu pada akhirnya akan membuahkan hasil maksimal. Salah satu satu contohnya adalah ketika Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa memulai pembangunan Bandara International Lombok (BIL) tahun 2005.

Proyek BIL dimulai ketika Hatta masih menjabat sebagai menteri perhubungan. Ketika batu pertama akan diletakan sebagai tanda dimulainya pembangunan bandar udara di Kabupaten Lombok, Nusa Tenggara Barat ini, Hatta sempat dihadang oleh aksi protes sekelompok masyarakat yang menolak pembangunan prasarana umum yang sangat penting ini. Alasan penolakan adalah karena mereka meminta penggantian lahan, padahal pihak PT Angkasa Pura sudah menegaskan, seluruh proses pembebasan lahan seluas 500 hektar ini telah diselesaikan.

Tekanan massa ini sempat membuat suasana genting, saat itu. Akibatnya, Hatta sempat diminta aparat kepolisian untuk kembali ke Jakarta, demi keselamatan pribadinya dan membatalkan acara peresmian dimulainya proyek ini. Namun, sikap tegas Hatta memutuskan agar dia tetap meneruskan acara tersebut, sehingga pembangunan bandara tidak tertunda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya katakan, Bismillah (atas nama Allah). Pembangunan bandara ini harus dilanjutkan demi percepatan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara," kenang Hatta saat mengunjungi kembali proyek Bandara Udara ini di Lombok, awal Oktober 2011 lalu.

Kini, proyek yang mengundang kontroversi ini sudah rampung, dan akan diresmikian penggunaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 20 Oktober 2011. Hatta akan mendampingi Presiden dari Jakarta menuju Mataram, NTB pada 19 Oktober 2011. Kali ini, kunjungan Presiden tergolong panjang karena akan dilakukan selama lima hari hingga 24 Oktober 2011. Setelah di NTB, Presiden akan melanjutkan kunjungan kerjanya ke Bali.

Selain meresmikan Bandara International Lombok, agenda lainnya adalah peresmian kawasan ekonomi khusus di NTB, pertemuan bilateral antara Presiden SBY dan PM Malaysia Tun Abdul Razak serta delegasi kedua negara. Dari Lombok, Presiden beserta rombongan akan melanjutkan kunjungan kerja ke Provinsi Bali.

Gantikan Selaparang

Bandar udara yang menggantikan Bandara Selaparang ini menelan biaya Rp 945,8 miliar. Kehadiran BIL bisa mempercepat akselerasi pertumbuhan di NTB.

Sebelumnya, NTB sudah menarik mata wisatawan dunia, karena kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Sayangnya, tidak mudah bagi mereka untuk datang ke Lombok. "Biasanya pesawat internasional mendarat di Bali. Dan kalau sudah di Bali, mereka malas naik pesawat lagi ke Lombok," kata Hatta.

Dengan adanya BIL, pesawat Airbus dari Eropa bisa mendarat langsung di Lombok. Sebab bandara baru ini memiliki runway (landas pacu) 2.750 x 45 meter, dengan total luas lahan bandara 551 hektare.

"Di sini Airbus bisa mendarat, Boeing 767 bisa mendarat, hanya untuk pendaratan Boeing 747 perlu diperpanjang sedikit lagi," jelas Hatta.

Dalam Masterplan Percepatan Perluasan Pembangunan EkonomiIndonesia (MP3EI), pemerintah menempatkan koridor Nusa Tenggara dan Bali sebagai pintu gerbang wisata Indonesia. "Jadi, ada Bali ada Lombok yang dua-duanya memiliki daya tarik tersendiri," jelas Hatta.

Pada 22 Juli lalu, pemerintah memutuskan mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata di Provinsi NTB, dengan menetapkan areal seluas 1.200 hektar di Lombok bagian selatan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nasional.

Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nasional, yang lazim disebut kawasan Mandalika, akan dijadikan tempat pertumbuhan baru di daerah Lombok bagian selatan yang berbasis wisata. Selain memprioritaskan potensi pariwisata, juga akan dikembangkan sentra produksi pangan yang meliputi pertanian, peternakan, dan kelautan serta pengembangan eksplorasi energi geotermal di daerah pegunungan Rinjani.

Hingga saat ini sudah ada delapan investor yang siap membangun kawasan wisata Mandalika dengan total investasi Rp 2,2 triliun. Di antaranya investor yang sudah siap menggelontorkan dananya itu adalah Rajawali Corp., Xiamen Yijiamei, dan Commerse Bank.

(adv/adv)


Berita Terkait