"Teknopreuneur (wirausahawan berbasis industri inovatif) harus menjadi bagian dari manusia pemimpi yang mampu mengubah cara pandang kita. Kalau kita mampu menjadikan mimpi untuk mengubah dunia ini, maka dia sudah menjadi inovator," ujar Menteri Perekonomian Hatta Rajasa di Serpong, Tangerang, Jumat (7/10/2011) saat membuka Pelatihan Wirausaha Industri Inovatif.
"Dengan mimpi, kreativitas orang menjadi tak berbatas, hanya terhalang langit di atasnya. Tidak ada orang yang sukses tanpa dimulai dari mimpi. Mimpi adalah bagian dari kreatifitas tanpa batas," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seorang Wirausahawan adalah pemberani, bukan pengecut. Pengecut itu adalah yang tidak mampu mengambil keputusan atau menghadapi risiko. Pemberani adalah mampu menghitung risiko. Berani melakukan segalanya tanpa perhitungan itu bukan pemberani, mungkin dia pengecut," tuturnya.
Hatta juga berpesan bahwa wirausaha itu bukan selalu pengusaha dalam arti sempit. Wirausaha merupakan nilai, sikap, perilaku, cara berpikir, dan kepemimpinan.
Selain itu, calon wirausaha jangan bermimpi untuk mendapatkan sukses dengan cepat, karena kesuksesan adalah sebuah proses yang harus dilalui, bahkan terkadang menyakitkan. Lihat saja pendiri Apple, mendiang Steve Jobs, yang pernah diberhentikan dari perusahaannya karena dianggap terlalu kreatif.
"Setelah berhenti, Jobs membangun perusahaan dengan modal 10 juta dollar AS. Setelah maju, perusahaannya itu dibeli oleh perusahaan tempatnya bekerja dengan harga 500 juta dollar AS. Pemimpin itu butuh ruang untuk berkreasi," kisah menteri yang pernah menjadi pengusaha selama 10 tahun ini.
(adv/adv)











































