Sedang Ada 'Pilkada' di Australia, Sejumlah Diaspora Indonesia Ikut Berikan Suara

ADVERTISEMENT

Sedang Ada 'Pilkada' di Australia, Sejumlah Diaspora Indonesia Ikut Berikan Suara

ABC Australia - detikNews
Jumat, 25 Nov 2022 17:48 WIB
Seperti inilah suasana bilik yang digunakan para pemilih saat mencoblos di Australia. (ABC News: Georgia Lenton-Williams)
Jakarta -

Sabtu besok (26/11), warga negara bagian Victoria di Australia akan memberikan suara mereka dalam pemilihan daerah.

Apakah pemerintahan Victoria masih akan dikuasai oleh Partai Buruh, ataukah akan ada hasil mengejutkan di luar dugaan?

ABC Indonesia ingin tahu apa yang menjadi penentu pilihan bagi anak-anak muda dari kalangan diaspora Indonesia, yang sudah jadi warga negara Australia saat mereka mencoblos.

Isu apa yang jadi perhatian mereka?

Pemilihan kali ini menjadi yang pertama kalinya untuk Hanif Hadian, 20 tahun, seorang mahasiswa S1 'Banking and Finance' di Monash University.

Hanif belum menentukan satu pilihan, namun berencana untuk memilih partai yang lebih"progresif" dan "ingin memberantas masalah perubahan iklim".

Ia juga mempertimbangkan partai yang "memiliki platform besar" dan yang akan menggratiskannya biaya sekolah untuk jurusan perawat.

Ayumi Sofyan, yang juga baru akan memilih pertama kalinya,merasa perubahan iklim adalah perhatiannya.

"Perubahan iklim jadi [perhatian] yang terbesar,kemudian layanan perawatan kesehatan ...dan mungkin inflasi, karena kita semua jelas akan terpengaruh," ujar Ayumi, yang sedang kuliah hubungan internasional.

Isu lingkungan juga menjadi perhatian Karina Eliora Kresnadi, mahasiswi 'Software Engineering' di RMIT University, sebelum menentukan pilihannya.

"[Saya mempedulikan] isu lingkungan, yang paling utama dan juga kesehatan," kata Karina yang berusia 20 tahun.

Pemilihan di Victoria juga akan jadi pengalaman pertama kalinya bagi Agniezka Lumban Gaol, sebagai warga Australia yang telah memenuhi syarat untuk ikut mencoblos.

Agniez, nama panggilannya, menyebut tiga isu yang menjadi perhatian utama baginya, yaitu sektor pendidikan, lingkungan hidup dan keadilan sosial.

"Pendidikan perlu mendapatkan tambahan dana agar bisa diakses secara lebih luas oleh semua orang," katanya.

"Soal lingkungan hidup sangat perlu mendapatkan perhatian saat ini, begitu pula dengan para tunawisma yang perlu mendapatkan perumahan," tambah Agniez.

Dari mana mereka mendapat informasi?

Kampanye pemilihan di Australia tentunya berbeda dengan di Indonesia.

Politisi dan calon pemimpin bertemu dengan warga lewat acara-acara tatap muka, lain halnya dengan di Indonesia yang biasanya juga digelar lewat acara panggung musik.

Di Australia juga tidak ada pula warga yang turun ke jalan melakukan konvoi mobil, atau arak-arakan,sambil membawa atribut partai dan foto kandidat.

Ikut mencoblos di pemilihan daerah untuk pertama kalinya, Agniez mengaku sempat bingung untuk memilih.

"Tiba-tiba kita punya opini yang bisa menentukan dalam proses demokrasi, jadi saya jujur agak bingung karena ini merupakan pengalaman yang pertama bagi saya," ujar Agniez yang tinggal di daerah Tarniet di sebelah Barat Kota Melbourne.

Tapi Agniez mengatakan ia mendapat informasi tentang kandidat dan pemilu melalui pemberitaan online, selain juga dari orangtuanya.

Sosial media mungkin punya peranan penting dalam membantu para pemilih muda di Australia, seperti yang dikatakan Ayumi.

"Saya mendapatkan [informasi] banyaknya dari media sosial. Tapi saya rasa media sosial sangat bias..., karena tidak menampilkan semua pandangan yang harusnya saya dapatkan," ujarnya.

Karenanya, Ayumi mengaku kalau ia jadi harus melakukan risetnya sendiri, terutama untuk mencari tahu apa yang diperjuangkan oleh partai-partai, khususnya partai kecil.

Anak-anak muda perlu lebih dilibatkan

Karina mengatakan teman-temannya memiliki antusiasme yang sama dengannya untuk memberikan suara di pemilihan Victoria akhir pekan besok.

Tapi menurut Hanif ada juga anak-anak muda yang tidak terlalu bersemangat untuk memilih, karena menurutnya sistem pemerintahan di Australia saat ini membuat anak muda merasa "tidak dilibatkan."

Ia merasa anak muda justru punya peranan penting untuk bersuara, karena demografi muda di Australia yang terus berkembang.

"Selama ini kebanyakan anak muda melihat politik dan pemerintahan ... seperti old man's club [kelompok orang tua]," katanya.

"Orang-orang harus menyuarakan hati nurani mereka. Jangan berpikir, 'Oh, ini tidak akan berdampak karena partai lain pasti akan menang'," ujarnya.

"Tapi ini adalah tentang bagaimana kita berperan aktif dalam dunia politik [di] daerah kita sendiri."

Simak juga 'Jutaan Kepiting Merah Muncul di Pulau Christmas':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT