ADVERTISEMENT

Ratusan Perusahaan di 4 Negara Termasuk Australia Terlibat Uji Coba Kerja 4 Hari Seminggu

ABC Australia - detikNews
Senin, 19 Sep 2022 16:29 WIB
Adam mengatakan libur hari Rabu sangat bermanfaat dan dia tidak mau kembali bekerja lima hari seminggu. (Supplied: Adam Lade)
Jakarta -

Hari Rabu pagi, Adam Lade mendatangi lapangan golf di dekat rumahnya. Ia mencoba menjelaskan kepada pemain golf lain di sana mengapa dia tidak bekerja hari itu namun tetap mendapat bayaran.

"Mereka semua yang ada di lapangan golf rata-rata berusia 70 tahun ke atas," kata pria berusia 25 tahun tersebut.

"Mereka heran dengan saya bekerja empat hari seminggu dan mengatakan hal ini tidak pernah terjadi saat mereka masih bekerja."

Adam adalah salah seorang dari sedikit warga di Australia yang ikut ambil bagian dalam eksperimen global untuk mengubah pola kerja lima hari seminggu.

Bukannya bekerja dari Senin sampai Jumat, Adam sekarang hanya bekerja empat hari namun tetap mendapat bayaran lima hari.

Pola bekerja empat hari ini memang masih belum populer dan mungkin dianggap "aneh", namun ada kemungkinan akan bisa menjadi hal yang normal nantinya.

Dalam beberapa tahun terakhir semakin banyak perusahaan, organisasi dan lembaga pemerintahan di seluruh dunia yang mempertimbangkan untuk menerapkan kerja empat hari seminggu.

Beberapa bahkan sudah langsung menerapkannya.

Bulan lalu, 20 perusahaan di Australia dan Selandia Baru bergabung dengan 151 perusahaan di tiga negara Amerika Serikat, Inggris dan Irlandia untuk memantau uji coba kerja empat hari minggu. Mereka akan melihat hasilnya dalam waktu enam bulan.

Apakah bisa jadi hal yang normal?

Kath Blackham adalah bos Adam.

Perusahaan pemasaran digital Versa adalah satu dari perusahaan di Australia yang pertama kali melakukan uji coba kerja empat hari seminggu. Uji coba ini sebenarnya sudah dilakukan sejak empat tahun lalu.

Secara umum pekerja merasa lebih puas, lebih nyaman, dan juga lebih fokus ketika mereka bekerja.

Ini artinya mereka akan bisa bekerja lebih efisien, sehingga bisa bekerja dengan jam lebih sedikit namun dengan hasil lebih banyak.

Saat bekerja 4 hari seminggu, dengan rata-rata delapan jam per hari, Adam tetap dituntut untuk melakukan hal yang sama seperti ketika dia bekerja lima hari seminggu

Praktik ini dikenal dengan nama model 100:80:100, atau bayaran 100 persen untuk bekerja selama 80 persen, namun produktivitasnya tetap 100 persen.

"Kami percaya bisa menghasilkan produktivitas yang sama selama 30 jam per minggu seperti yang dilakukan selama 37,5 jam," kata Kath.

"Bila produktivitas menurun dan kami tidak bisa mendapatkan keuntungan, maka tentu saja kami tidak bisa menerapkan kerja empat hari seminggu."

Menurut Kath, pilihan perusahaannya adalah sederhana.

Bila mereka bisa memiliki produktivitas yang sama, atau bahkan lebih baik, dengan pekerja yang merasa lebih puas, berarti pekerja yang keluar akan lebih sedikit dan akan lebih mudah menarik orang untuk masuk.

"Dari pada mencoba bersaing dengan perusahaan lebih besar, kami memberikan sesuatu yang lebih berharga kepada pekerja dibandingkan uang," katanya.

Menurutnya juga perusahaan memiliki tugas untuk melindungi kesehatan mental pekerja mereka.

Kerja empat hari seminggu dilihatnya sebagai jawaban terhadap suasana kerja modern yang menciptakan suasana lebih stres bagi pekerja.

Dari mana ide ini berasal?

Selama abad ke-20, para ekonom memperkirakan jumlah jam kerja akan berkurang dengan produktivitas meningkat.

Namun dalam kenyataannya, produktivitas pekerja meningkat saat jam kerja juga bertambah.

Di tahun 2015, Islandia memulai uji coba hari kerja lebih sedikit terhadap 2.500 pekerja selama beberapa tahun.

Hasilnya adalah kesehatan mental mereka meningkat, namun tidak ada penurunan produktivitas.

Di tahun 2108, sebuah perusahaan Selandia Baru bernama Perpetual Guardian juga melakukan uji coba serupa dengan jadwal kerja 4 hari dengan32 jam per minggu.

Hasilnya sama dengan percobaan di Islandia, perusahaan Perpetual Guardian pun menerapkan kebijakan tersebut menjadi permanen.

Mantan direktur perusahaan tersebut, Andrew Barnes, kemudian mendirikan lembaga non-profit global bernama '4 Day Week Global', yang sekarang menggelar uji coba di 171 perusahaan dan organisasi di empat negara, termasuk di Australia.

Skotlandia dan Spanyol juga sedang merancang uji coba, sementara warga Belgia sudah berhak bekerja empat hari seminggu tanpa harus kehilangan pendapatan.Pemerintah Jepang juga sudah merekomendasikan hal yang sama.

Perdana Menteri Finlandia dan Selandia Baru mengusulkan agar perusahaan-perusahaan di negara mereka mempertimbangkan kerja empat hari seminggu.

Di Amerika Serikat, anggota Kongres dari Partai Demokrat mengusulkan aturan yang akan mengurangi jam kerja per minggu dari 40 jam menjadi 32 jam.

Akhir tahun lalu, Uni Emirat Arab mengurangi jam kerja menjadi empat setengah hari dalam seminggu.

"Di banyak negara pendapat yang muncul adalah kita harus memikirkan kembali bagaimana kita bekerja," kata Andrew.

"Sekarang tenaga kerja banyak dibutuhkan, sehingga orang bertanya, 'mengapa saya harus melakukannya kalau saya harus bekerja lebih panjang?'"

Itulah juga mengapa sejumlah pemerintah juga mempertimbangkan soal pengurangan hari kerja tersebut.

"Sekarang ini bukan persaingan antar industri saja untuk mendapatkan pekerja, sekarang juga persaingan antar negara untuk mendapatkan pekerja terampil."

Menurut Andrew, kebanyakan perusahaan akan menerapkan kerja empat hari seminggu dalam lima tahun mendatang.

Adam sepakat dengan manfaat kerja empat hari seminggu.

"Ini merupakan perubahan besar dari sebelumnya, di mana kerja selama lima hari terasa membosankan," katanya.

"Selasa sekarang bagi saya seperti hari Jumat karena di hari Rabu saya libur."

Dia berharap di sepanjang kariernya ke depan dia akan terus bekerja empat hari seminggu.

"Rasanya akan sangat berat bila saya harus kembali bekerja di perusahaan yang menerapkan lima hari seminggu."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT