ADVERTISEMENT

6 Bulan Setelah Perbatasan Dibuka, Australia Tunggu Kedatangan Turis Asing dan 'Bacpacker'

ABC Australia - detikNews
Senin, 29 Agu 2022 11:55 WIB
Steve Edmondson mengatakan turis sudah mulai kembali namun masih jauh dari keadaan seperti sebelum COVID di Great Barrier Reef. (Supplied: Sailaway)
Jakarta -

Steve Edmondson yang tinggal di Port Douglas, Queensland mengatakan sudah mulai melihat kedatangan turis asing, tapi masih sedikit.

Tapi menurut Steve, yang memiliki jasa layanan wisata mengunjungi terumbu karang di Great Barrier Reef selama 20 tahun terakhir, kebanyakan yang datang masih warga Australia.

"Saya bisa mengatakan sampai saat ini sekitar 15 persen adalah turis internasional," katanya.

Padahal sebelum COVID-19, setengah turis yang datang berasal dari luar Australia.

Minggu ini adalah enam bulan sejak Australia membuka kembali perbatasan internasional, namun jumlah kedatangan masih jauh di bawah angka sebelum pandemi COVID-19.

Angka dari Biro Statistik Australia (ABS) menunjukkan jumlah kedatangan turis asing dengan kunjungan singkat ke Australia di bulan Juni 2022adalah 275.300 orang, dibandingkan bulan Juni 2019, yang angkanya mencapai660.340.

Ribuan visa WHV masih diproses

Departemen Dalam Negeri mengatakan kepada ABC sebanyak 13.700 visa 'backpacker', dikenal dengan sebutan Working Holiday Visa (WHV) sampai saat ini masih dalam proses.

Sudah ada 70.060 visa 'backpacker' yang dikeluarkan namun sampai sekarang mereka masih belum melakukan perjalanan ke Australia.

Artinya,sekitar 84 ribu orang yang berpotensi sebagai pekerja maupun yang akan membelanjakan uangnya di Australia belum datang dan Australia membutuhkan kedatangan mereka.

Apa alasannya?

Tingginya biaya tiket pesawat terbang dan tidak banyaknya pilihan penerbangan menjadi alasan utama, menurut para pengamat di Australia.

Selain itu ada keterlambatan proses persetujuan visa yang ditangani oleh Pemerintah Australia.

Berlanjutnya aturan pembatasanCOVID19 di negara-negara yang biasanya menjadi sumber kedatangan turis, seperti China dan Jepang, juga menjadi penyebab lainnya.

ABC sudah berbicara dengan sejumlah operator dan perwakilan industri mulai dari Kawasan Semenanjung Ujung Utara di Queensland sampai ke kawasan Kimberley di Australia Barat.

Beberapa di antara mereka,seperti pemilik bisnis di Cairns, Nikki Giumelli, mengatakan bisnisnya berjalan baik karena banyak warga Australia yang enggan ke luar negeri sehingga memutuskan untuk liburan di dalam negeri.

"Tetapi tentu saja pasar internasional masih memerlukan waktu untuk bangkit lagi," katanya.

"Kami mulai melihat ramainya pasar mahasiswa, dan kemudian pasar backpacker dan juga melihat kedatangan para pelancong dari Inggris, Eropa dan AS datang."

"Tetapi tentu saja tidak dalam jumlah besar seperti yang terjadi sebelumnya."

Menurut para pakar, lambatnya kedatangan turis internasional hanyalah salah satu masalah yang dihadapi oleh sektor wisata setelah puncak pandemi COVID-19.

Masalah lainnya yang juga terus terjadi adalah kurangnya pekerja.

Banyak resor besar, restoran dan tempat-tempat wisata di kawasan turis tradisional sekarang belum bisa beroperasi penuh karena kekurangan orang yang bisa bekerja di industri tersebut.

Departemen Dalam Negeri Australia mengatakan proses untuk menyelesaikan permohonan visa adalah "prioritas" Pemerintah saat ini dan mereka bekerja keras untuk mengurangi waktu proses dan jumlah permohonan yang masuk.

Artikel ini dirangkum dan diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

Lihat juga video 'Heboh Senator Australia Sebut Jalanan Bali Penuh Kotoran Sapi':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT