Alat Tes Pernapasan Buatan UGM Diakui Bisa Deteksi Virus Corona Dalam Dua Menit

ABC Australia - detikNews
Senin, 04 Jan 2021 16:21 WIB
Jakarta -

Indonesia termasuk di antara beberapa negara di dunia yang sudah mengembangkan alat tes mendeteksi COVID-19 lewat pernapasan dengan hasil tes yang dikatakan bisa diketahui dalam waktu dua menit.

  • Alat tes yang dibuat UGM ini bisa mendapatkan hasil dalam waktu 80 detik
  • Tingkat akurasinya sejauh ini adalah 90 persen
  • Diharapkan ini bisa meningkatkan jumlah pengetesan di Indonesia

Selain di Indonesia, peneliti dan perusahaan swasta di Singapura, Inggris, Prancis dan Australia sedang mengembangkan alat pendeteksi COVID-19 lewat pernapasan dengan teknologi yang sama atau mirip.

Di Indonesia, alat tes yang diberi nama GeNose C-19 yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sekarang sudah disetujui akan digunakan oleh Pemerintah Indonesia.

Alat yang menggunakan kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI), dalam bentuk "hidung elektronik" akan bisa menganalisa sampel pernapasan dan mencari tahu apakah terdapat unsur yang hanya ada dalam virus COVID-19.

GeNose C-19 sekarang sedang diproduksi dan diperkirakan akan bisa digunakan mulai bulan Februari 2021.

Diharapkan test COVID-19 dalam jumlah besar-besaran bila dilakukan di rumah sakit, bandara, pelabuhan dan tempat-tempat umumnya di berbagai daerah di Indonesia.

"Kita memerlukan alat tes yang lebih cepat guna mencegah adanya penularan," kata Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro.

"Ini akan mempercepat proses deteksi dan mengurangi kemungkinan penularan virus."

Teknologi serupa yang dikembangkan oleh sebuah perusahaan Singapura, Breathonix, yang berharap mendapatkan persetujuan di tahun 2021, dengan uji klinis yang melibatkan 180 orang menunjukkan tingkat akurasi 90 persen.

Di Australia sebuah perusahaan yang berbasis di Melbourne, GreyScan, bekerjasama dengan University of Tasmania, juga mengembangkan sebuah alat yang selama ini digunakan untuk mendeteksi bahan peledak untuk melacak COVID-19 dalam sampel pernapasan.

A woman points to a device with a screen and a cord plugged in.

Alat GeNose C-19 ini menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisa sampel pernapasan. (AP: Achmad Ibrahim)

Dengan masih tingginya kasus penularan COVID, Taiwan sudah melarang masuknya pekerja migran asal Indonesia, karena ada beberapa kasus yang muncul di Taiwan belakangan berasal dari pekerja asal Indonesia.

Juga ada kecurigaan bahwa beberapa orang membawa surat keterangan palsu yang menunjukkan mereka negatif dan kemudian menyebarkan virus di Taiwan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki angka pengetesan paling rendah di dunia sehingga jumlah kasus dan kematian sebenarnya jauh lebih tinggi dari laporan resmi.

Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah satu tes COVID-19 per minggu per seribu penduduk, yaitu sekitar 270 ribu tes dari 270 juta penduduk Indonesia keseluruhan.

Di bulan November 2020, angka tes di Indonesia per minggu masih sekitar 85 persen dari target yang ditetapkan WHO yaitu sekitar 239 ribu pengetesan.

"Mudah-mudahan alat ini bisa membantu menyelesaikan masalah krisis COVID di Indonesia." kata Profesor Kuwat.

"Kita bisa memutus rantai COVID ini dengan cepat, dalam waktu satu atau dua bulan."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)