'Keadaan Darurat': Korea Selatan Alami Gelombang Ketiga Penularan COVID-19

ABC Australia - detikNews
Senin, 14 Des 2020 16:38 WIB
Seoul -

Korea Selatan melaporkan telah mengalami akhir pekan terburuk untuk penularan COVID-19 sejak pandemi dimulai. Presiden Moon Jae-in telah menyebut gelombang ketiga penularan COVID-19 sebagai keadaan darurat.

Menteri Kesehatan Korea Selatan juga menggambarkan ibu kota Seoul sebagai "zona perang COVID-19" pekan ini.

Minggu kemarin (13/12), Korea Selatan melaporkan 1.030 penularan virus corona baru, memecahkan rekor sehari sebelumnya, yakni 950 kasus penularan, hingga total penularan saat ini telah mencapai 42.766 dengan 580 kematian.

Angka penularan tertinggi dalam sehari pernah dicapai Korea Selatan pada akhir Februari lalu yang mencapai 909 kasus.

Moon Jae-in

Moon Jae-in mendesak pihak berwenang untuk menurunkan "sebanyak mungkin" pegawai negeri, polisi, dan personil militer untuk membantu melakukan pelacakan kontak. (AP: Michael Probst)

Presiden Moon memperingatkan jika aturan pembatasan aktivitas warga akan dinaikkan ke level tertinggi setelah rekor peningkatan penularan.

Dari kasus baru tersebut, 1.002 ditularkan secara lokal, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea.

"Ini adalah momen penting untuk mengerahkan semua kemampuan demi mengendalikan virus dan kekuatan administratif kami untuk menghentikan penyebaran virus Corona," ujar Presiden Moon.

Aturan diperketat untuk tanggapi peningkatan penularan

Sekolah di Korea Selatan akan dialihkan kembali ke pembelajaran jarak jauh, perusahaan hanya mengizinkan pekerja yang harus masuk ke kantor.

Kota Seoul dan sekitarnya, rumah dari setengah 52 juta penduduk Korea Selatan, saat ini berada di tingkat pembatasan 2.5.

Pertemuan lebih dari 50 orang sudah dilarang dan restoran dilarang melayani pelanggannya setelah pukul 9 malam.

Pembatasan di tingkat 3 artinya 'lockdown' untuk pertama kalinya di Korea Selatan, yang saat ini menjadi negara dengan perekonomian terbesar keempat di Asia.

Pemerintah Korea Selatan juga akan menambah sekitar 10.000 tempat tidur rumah sakit dalam beberapa minggu ke depan.

Untuk sementara Pemerintah juga akan membayar beberapa perawat yang terlibat dalam perawatan pasien COVID-19 dengan tambahan gaji sebesar 3 juta won, atau lebih dari Rp 36 juta.

Jualan kembang api tahun baru dilarang di Jerman

Jerman telah memperketat aturan pembatasan pandemi menjelang Natal untuk mengurangi laju penularan virus corona yang sudah tinggi.

Kanselir Angela Merkel mengatakan para gubernur di Jerman setuju untuk meningkatkan langkah-langkah 'lockdown' dari hari Rabu hingga setidaknya 10 Januari.

"Kami terpaksa untuk mengambil tindakan ini dan kami melakukannya," kata Merkel, yang menambahkan aturan pembatasan yang diberlakukan pada November telah gagal mengurangi penularan baru secara signifikan.

Rata-rata kasus penularan baru harian di Jerman telah meningkat selama dua minggu terakhir, dari 21,23 kasus baru per 100.000 orang di 28 November menjadi 26 kasus baru per 100.000 orang pada 12 Desember.

Sekolah di Jerman akan ditutup atau beralih ke 'homeschooling', sebagian besar toko yang tidak menjual makanan akan ditutup, begitu pula sejumlah bisnis, seperti salon rambut yang sejauh ini diizinkan untuk tetap buka, serta penjualan alkohol di luar ruangan akan dilarang.

Restoran masih diizinkan untuk melakukan layanan 'takeaway', tetapi makan atau minum tidak dapat dilakukan di dalam restoran.

Penjualan kembang api untuk perayaan Tahun Baru juga akan dilarang, begitu pula pertemuan dan kumpul-kumpul di luar ruangan pada Malam Tahun Baru.

Suasana Natal dan Tahun Baru yang akan berbeda

Larangan mengkonsumsi alkohol di luar ruangan akan menyebabkan satu tradisi Natal di Jerman menjadi hilang, yakni mengkonsumsi "Glühwein" atau anggur hangat yang biasanya disajikan di pasar-pasar malam jelang Natal.

Beberapa kota di Jerman telah membatasi konsumsi alkohol di luar ruangan dan menimbulkan sejumlah reaksi.

Rabu kemarin, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan kepada parlemen jika kios-kios yang menjual anggur hangat tidak sesuai dengan langkah-langkah mengurangi penularan COVID-19.

"Tidak ada jarak antar orang atau penggunaan masker saat minum glühwein," kata Thomas Boehle, seorang pejabat di Munich.

Sementara itu, Federasi Rumah Sakit Jerman menyambut langkah-langkah baru untuk mengurangi penularan, tetapi menyebutnya "sulit untuk memahami" mengapa Badan Obat-obatan Eropa belum menyetujui vaksin virus corona pertama.

Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat telah menyetujui vaksin Pfizer-BioNTech, bahkan di Inggris proses vaksin sudah dimulai pekan lalu.

Rumah sakit di wilayah timur yang banyak mengalami penularan COVID-19 di sekitar Dresden telah mengimbau orang-orang untuk ikut bertanggung jawab dengan menjaga jarak aman dan pemakaian masker.

Sejumlah rumah sakit juga mengatakan fasilitas medis akan mencapai kapasitas penuh.

"Perawat dan dokter sudah mencapai batas fisik dan psikologis mereka," kata rumah sakit dalam iklan surat kabar.

Artikel ini diproduksi Erwin Renaldi

(nvc/nvc)