Warga Indonesia di Melbourne Melihat Peluang Bisnis Cendera Mata Australia

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 26 Sep 2020 13:32 WIB
Melbourne -

Pasar Queen Victoria Market di kota Melbourne adalah salah satu tujuan turis asing untuk membeli oleh-oleh khas Australia.

Alfi Syahriani hanya punya waktu tiga hari untuk berburu barang-barang dari Australia untuk jadi oleh-oleh sebelum ia dan keluarganya pulang ke Indonesia, Juli lalu.

Tapi karena kota Melbourne sedang 'lockdown' ketat dan toko-toko hanya boleh berjualan makanan atau kebutuhan dasar, maka pilihan Alfi untuk membeli cenderamata sangat terbatas.

"Gara-gara pandemi kan pasar tutup, dan kami waktu itu juga sibuk banget mengosongkan rumah sebelum pulang jadi kami akhirnya mencari-cari [cendera mata] yang [dijual] online," kata Alfi.

Alfi menemukan toko penjual cenderamata, yang kebetulan milik warga Indonesia di Melbourne dari sebuah kelompok Whatsapp.

Menurutnya, harga yang ditawarkan toko tersebut relatif lebih murah dibanding harga penjual online yang lain, meskipun terhitung masih lebih mahal jika dibandingkan dengan harga cenderamata di pasar.

"Beda harganya sampai dua kali lipat. Gantungan kunci di pasar satunya hanya $1, ini saya beli $2. Tapi memang kualitas yang dijual Mas Oky [pemilik toko] bagus, secara tampilan juga lebih bagus."

Selain gantungan kunci, Alfi juga membeli setidaknya 40 gantungan kunci dan hiasan kulkas, serta tas, tempat pensil, dan beberapa jenis pajangan.

"Saya lebih suka beli di pasar sebenarnya, karena lebih murah. Di pasar masih bisa menawar [harga], jadi bisa dapat lebih banyak, tidak seperti harga online yang fix [tetap]."

Meraih peluang di tengah pandemi

Kebutuhan Alfi dan warga asing, termasuk pelajar internasional yang membutuhkan cenderamata untuk jadi oleh-oleh sebelum meninggalkan Australia menjadi perhatian Muhammad Ilham Rizky, akrab disapa Oky.

Foto Stan QVM Sebelum Tutup

Oky bekerja sama dengan mantan bosnya di Queen Victoria Market yang harus menutup toko karena aturan di tengah pandemi. (Facebook: ABC Central Victoria)

Sempat bekerja di sebuah toko cendera mata di Queen Victoria Market, salah satu pasar tertua di negara bagian Victoria, Oky akhirnya menghubungi mantan bosnya untuk bekerja sama.

Toko cendera mata mantan boss Oky terpaksa tutup, karena tidak termasuk dalam kategori 'essential' atau penting yang boleh buka.

"Ketika dia [pemilik toko] mendukung, kami mulai ambil foto dan menjualnya online," kata Oky kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Cendera mata tersebut ia jual di situs bisnis online, yang dijalankannya bersama lima warga Indonesia lainnya, sejak 'lockdown' Victoria tahap pertama.

Bisnis online bernama 'AllGood Journey' yang juga menjual pakaian sederhana tersebut merupakan hasil putar otak Oky dan temannya di tengah ketidakpastian pandemi.

Tanpa ia duga, produk cendera mata yang dapat diantar sampai rumah tersebut "terjual cukup banyak".

"Kebanyakan [dibeli] orang Indonesia yang mau pulang. Rata-rata pesan ke kami karena QVM sudah tutup dan tidak ada [penjual] yang lain," kata Oky.

"[Penjualan] lumayan padat karena hampir setiap hari ada [pembeli]."

Karena tingginya permintaan, pria asal Medan tersebut sempat merasa kewalahan ketika harus mengantarkan cendera mata ke rumah masing-masing pembeli.

"Pertamanya saya kira kalau dua orang saja saya bisa antar, tapi lama-lama, setiap hari ada permintaan. Akhirnya saya berikan syarat akan antar bila sudah ada 11 pembeli lain," katanya.

Sayangnya, bisnis tersebut harus tutup sementara sejak 'lockdown' Melbourne tahap keempat awal Agustus lalu, sehingga tidak memungkinkan bagi Oky untuk mengambil barang dari gudang.

Karyawan Indonesia kehilangan 80 persen pendapatan

Tidak semua pemilik toko cenderamata di Queen Victoria Market memilih menjalankan bisnisnya secara online.

Keputusan seperti ini mempengaruhi nasib pada karyawan toko, yang harus kehilangan pekerjaan mereka.

Termasuk salah satunya adalah warga Indonesia bernama Pranata Yudha Bakti, yang sudah dua tahun bekerja di sebuah toko cendera mata di Queen Victoria Market.

"Saya kehilangan 80 persen pendapatan dari QVM dan dampaknya sangat kerasa saat tidak bekerja," kata Yudha kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Namun, pria asal Bali ini menerima kabar bahwa menjelang pelonggaran aturan akhir Oktober nanti, toko akan kembali buka dan ia akan bekerja kembali.

"Saya tetap ditawarkan kerja karena bosnya akan tetap buka stall [kios] di QVM. Pelanggan terbesar [memang] dari turis," katanya.

"Kata bosnya buka saja, yang penting kamu kerja."

Kunjungan ke Queen Victoria Market "menurun pesat"

Menurut Stan Liacos, CEO dari Queen Victoria Market, kunjungan pasar telah menurun pesat, terutama sejak aturan radius lima kilometer berlaku awal Agustus lalu.

Dampak signifikan ini juga dirasakan melihat kebijakan Pemerintah pusat maupun negara bagian untuk menutup perbatasan.

"Pada kondisi normal, 30 persen dari kunjungan pasar adalah dari turis domestik dan internasional," katanya kepada ABC Indonesia.

Namun, beberapa bantuan telah ditawarkan kepada pedagang, melalui 'Trader Support Package' yang "meliputi peringanan besar biaya sewa dan dukungan lainnya".

Melalui bantuan tersebut, sejak April hingga Oktober, pedagang yang termasuk dari bidang perhotelan dan 'non-essential' lainnya mendapatkan keringanan biaya sewa hingga 100 persen.

"Fokus utama manajemen Queen Victoria Market dalam krisis ini adalah untuk menjaga agar pasar tetap buka," kata Stan.

"[Juga] mengikuti aturan kesehatan dan keamanan pemerintah dan mendukung pedagang sehingga bisnis mereka bertahan dan tetap ada di pasar."

Sering dikenal dengan sebutan 'Vic Market' atau 'Queen Vic', Queen Victoria Market sudah beroperasi sejak 140 tahun yang lalu.

'Landmark' kota Melbourne ini memiliki lebih dari 600 bisnis kecil yang menjual beragam produk bagi warga Australia dan pendatang.

Belum ada laporan berapa total kerugian pasar tersebut akibat pandemi COVID-19.

Ikuti berita seputar pandemi di Australia lainnya di ABC Indonesia.

(nvc/nvc)