Kondisi Warga Indonesia di Melbourne Menjalani 'Lockdown' Kedua

ABC Australia - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 14:41 WIB
Melbourne -

Sudah hampir dua minggu wilayah Melbourne metropolitan menjalani 'lockdown' kedua untuk mengatasi penyebaran virus corona. Lantas bagaimana kondisi yang dialami warga Indonesia di Melbourne?

Terjadinya lonjakan penularan virus corona mendorong Menteri Utama negara bagian Victoria, Premier Daniel Andrews untuk mengembalikan pembatasan sosial ke tahap ketiga pada 9 Juli lalu.

Bahkan warga akan diwajibkan mengenakan masker bila keluar rumah dan jika tidak mungkin menjaga jarak mulai Kamis besok (23/07).

Mulai hari Kamis (23/07) warga bahkan akan diwajibkan mengenakan masker bila keluar rumah.

Dalam pembatasan sosial tahap ketiga hanya ada empat alasan yang membolehkan warga untuk keluar rumah, termasuk untuk belanja bahan kebutuhan pokok, bekerja dan belajar jika tak bisa dilakukan dari rumah, keperluan dan kebutuhan medis, serta berolahraga.

ABC Indonesia telah menggelar acara 'Ngobrol Bareng' dengan menghadirkan empat warga Indonesia di Melbourne yang bekerja dengan berbagai profesi, yang bisa anda tonton di sini.

Salah satunya adalah dr Celyanda Goeltom yang menjelaskan sejak diberlakukannya pembatasan sosial di awal pandemi ini, tempat prakteknya telah memutuskan untuk tetap melayani pasien.

Namun, mereka menerapkan aturan-aturan baru bagi para pasien.

"Misalnya, pasien discreen melalui telepon apakah dia dari luar negeri atau ada kontak," jelasnya.

"Lalu, kalau ada gejala, dia harus tunggu di mobil, kami yang keluar untuk melihat dan memeriksa kalau dia itu bisa atau tidak untuk masuk ke dalam gedung," tambah dr Cely.

Hingga saat ini, klinik tempat kerja dr Cely tetap menerapkan protokol tersebut, walaupun pihak berwenang telah mengizinkan layanan kesehatan secara jarak jauh atau tele-medicine.

"Kalau tidak terlalu perlu, pasien tak perlu datang. Kami bisa layani lewat telepon atau video call," jelasnya.

Sebagai pekerja medis, dr Cely selama ini mengaku selalu mengenakan masker meski hal itu tidak diwajibkan.

"Saya dari dulu begitu, selalu memakai masker. Lalu baju putih saya seperti waktu masih jadi murid di FKUI saya pakai kembali, supaya kalau pulang ke rumah saya tidak bawa tapi ditinggal di kantor," ujarnya

Pertanyaan Seputar Virus Corona

Dampak 'lockdown' kedua di pekerjaan

Dampak pembatasan sosial kembali ke tahap tiga juga dialami Sari Bui, seorang 'support worker' yang banyak menolong warga lanjut usia, biasanya memerlukan pendampingan setelah keluar dari rumah sakit.

"Biasanya kami diberitahu terlebih dahulu status COVID mereka, sudah tes dan hasilnya negatif," ujar Sari Bui yang akrab dipanggil Nungky.

Hal ini, katanya, merupakan langkah proteksi pertama bagi para 'support worker' untuk tetap bisa menjalankan pekerjaannya.

"Bedanya dengan lockdown pertama, kini kami sudah diwajibkan mengenakan masker dalam melayani pasien," kata Nungky.

A woman with a bag crosses an empty Melbourne CBD street.

Mulai Kamis besok warga Melbourne yang ingin keluar untuk empat alasan yang diperbolehkan wajib menggunakan masker. (Koleksi pribadi)

Ada banyak warga Indonesia yang tinggal di kawasan 'hostpot' penularan virus corona di Australia.

WNI butuh surat bebas COVID-19 saat pulang

Sejak beberapa pekan silam, warga Indonesia di Australia yang ingin ke Indonesia telah dikenakan syarat untuk melengkapi diri dengan surat keterangan bebas COVID-19.

Menurut dr Cely orang yang masuk ke Indonesia saat ini harus menjalani tes PCR yang berlaku hanya selama tujuh hari.

"Mereka mintanya sebagai dokumen perjalanan, jadi karena beberapa dikirim ke saya, biasanya saya rujuk mereka ke klinik patologi yang memang memberikan surat keterangan," jelasnya.

Bersamaan dengan itu dr Cely juga memberikan surat keterangan bahwa orang yang bersangkutan tidak memiliki gejala yang berhubungan dengan COVID.

"Tidak ada yang bisa memberikan jaminan bahwa seseorang benar-benar 100 persen bebas COVID, karena bisa saja waktu tesnya lebih cepat sebelum virus itu terdeteksi," jelasnya.

Dr Cely menjelaskan, warga Indonesia yang meminta surat keterangan tersebut umumnya orang tua yang berkunjung ke Australia dan kini ingin pulang atau mahasiswa yang kuliahnya sudah dialihkan secara daring.

"Kalau bukan warga negara atau penduduk tetap, kita boleh saja keluar dari Australia tanpa meminta izin dari pemerintah Australia," jelasnya.

"Tapi mereka perlu surat keterangan untuk bisa masuk ke Indonesia," tambah dr Cely.

Tonton video 'Usai Dilockdown, Masih Muncul Klaster Baru Covid-19 di Melbourne':

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)