Pandemi Virus Corona, Semakin Banyak Warga Australia Dikenai Denda

ABC Australia - detikNews
Kamis, 02 Apr 2020 06:36 WIB
Canberra -

Perkembangan terbaru pandemi virus corona di Australia, hari Rabu (1/04), delapan orang dikenai denda di negara bagian Victoria, beberapa staf pengangkat bagasi di bandara Adelaide positif terjangkit COVID-19, dan dilaporkan tak ada kasus corona baru di Tasmania dalam 24 jam terakhir.

Perkembangan Corona di Australia

  • Delapan warga di Victoria telah dijatuhi denda karena tidak mengikuti aturan terkait virus corona
  • Enam petugas pengangkat bagasi di Bandara Adelaide dinyatakan positif tertular COVID-19
  • Di Tasmania dan Australia Barat terjadi penurunan kasus baru dalam beberapa hari terakhir

Paul Kelly, pejabat 'Deputy Chief Medical Officer di Australia, mengatakan kurva penularan virus corona di Australia telah mulai melandai.

Tetapi ia meminta agar warga tetap waspada dan berpikir untuk jangka panjang, untuk menghindari peningkatan secara tiba-tiba.

Kematian pasien COVID-19 di kawasan Orange, New South Wales, telah menambah jumlah kematian warga Australia akibat virus corona menjadi 21 orang.

Sementara itu, Kepolisian Victoria yang juga mencakup kota Melbourne mengatakan sudah menjatuhkan denda terhadap 10 individu dan bisnis yang tidak mengindahkan aturan yang ditetapkan juga mencegah penyebaran virus corona.

Petugas dari Unit Koordinasi Industri Seks menjatuhkan denda hampir Rp 100 juta bagi sebuah panti pijat di Frankston, Selasa kemarin (31/03).

Denda juga dikenakan terhadap dua pelanggan panti pijat tersebut,, masing-masing Rp 16 juta lebih, karena mereka "tidak menaati aturan dan tetap melakukan kegiatan yang tidak penting".

Enam denda lain dikenakan terhadap warga di Melbourne karena "melanggar aturan ke luar rumah tanpa alasan yang kuat".

Sehari sebelumnya, China Bar di Fitzroy menjadi bisnis pertama yang dikenal denda hampir Rp 100 juta karena melanggar aturan tetap beroperasi, walau sudah dilarang.

Kepala negara bagian Victoria, Premier Daniel Andrews mengakui denda yang dijatuhkan sangat tinggi, tapi penting untuk dilakukan agar warga mematuhi aturan.

"Dendanya besar. Denda itu mahal sekali bila anda ketahuan, dan anda akan terkena denda bila melakukan hal yang tidak benar," kata Daniel.

"Jadi tidak ada alasan untuk berkumpul, tidak ada pesta, tidak ada pilihan apapun yang anda lakukan yang seharga nyawa seseorang."

Sesuai dengan keadaan darurat yang diberlakukan di negara bagian Victoria sejak 17 Maret, individu dan bisnis bisa dikenai denda atau hukuman penjara, bila tidak mematuhi aturan pembatasan jumlah orang, baik di dalam maupun luar ruangan.

Kepala Kepolisian Victoria, Chief Commissioner Ashton mengatakan polisi sudah menerima 100 laporan telepon mengenai pelanggaran yang terjadi, sejak Selasa.

Five police officers wearing face masks stand about 2 metres apart in a line outside a convention centre.
Polisi tampak berjaga-jaga di depan Melbourne Convention Exhibition Centre hari Rabu (1/4/2020). (AAP: Mick Tsikas)

Di Australia Selatan, enam petugas pengangkat bagasi di bandara Adelaide telah dinyatakan positif terkena COVID-19.

Kini sekitar 100 orang yang bekerja di bandara tersebut harus menjalani karantina selama 14 hari.

Sejak diumumkan hari Selasa, beberapa penerbangan dalam negeri dengan tujuan ke dan dari Adelaide telah dibatalkan.

Mereka yang melakukan perjalanan dari dan ke Adelaide selama hari Selasa telah diminta untuk membersihkan koper mereka dengan seksama.

Hari Rabu, muncul laporan adanya kasus baru yang positif yang berasal dari para pengangkat bagasi tersebut.

Premier Australia Selatan, Steven Marshall mengatakan ia akan menerima saran apapun dari pihak berwenang di bidang kesehatan, mengenai apa yang harus dilakukan sekarang, termasuk kemungkinan menutup bandara Adelaide.

Dengan adanya enam kasus positif dari para pengangkat bagasi perusahaan Qantas tersebut, jumlah yang positif di Australia Selatan adalah 337 orang.

Penurunan penularan di Tasmania dan Australia Barat

Sementara itu di negara bagian Tasmania, kawasan yang letaknya terpisah dari dataran utama benua Australia, dalam 24 jam terakhir tidak tercatat adanya kasus positif baru.

Namun Tasmania mencatat dua kematian, yaitu seorang pria lanjut usia yang sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Royal Hobart.

Sebelumnya korban pertama yang meninggal adalah seorang perempuan berusia 80-tahunan.

Kedua korban yang meninggal ini sebelumnya adalah penumpang di kapal pesiar Ruby Princess yang minggu lalu berlabuh di Sydney.

Ratusan penumpang dari kapal pesiar ini sekarang sudah dinyatakan positif COVID-19, dimana mereka tersebar di seluruh Australia.

Ruby Princess sebelumnya menjadi sumber keributan antara pemerintah Federal Australia dan negara bagian New South Wales, karena 2.700 penumpang kapal tersebut diijinkan turun dari kapal, padahal beberapa orang di kapal tersebut sudah dinyatakan positif sebelumnya.

Di negara bagian Australia Barat angka penularan juga menurun dalam beberapa hari terakhir.

Sebelumnya kasus baru yang muncul di Australia Barat adalah sekitar 20-30 setiap harinya, namun dalam beberapa hari terakhir angkanya menurun.

Hari Senin ada 17 kasus baru dan hari Selasa hanya 9 kasus.

Namun menurut Menteri Kesehatan Australia Barat, Roger Cook, perang melawan virus corona bukanlah mendekati titik akhir, malah sebaliknya baru dimulai.

"Kita belum lagi keluar dari badai, kita masih berlayar di tengah badai," katanya.

Penurunan kasus-kasus baru ini disebabkan karena Australia Barat sudah menutup perbatasan sejak seminggu terakhir.

Menurut Roger, Australia Barat tidaklah berusaha menghentikan adanya kasus baru sama sekali, karena hal tersebut mustahil dilakukan.

"Yang kami lakukan adalah mengatur penyebaran virus ini, sehingga tidak melumpuhkan sistem layanan kesehatan kita seperti yang anda lihat di New York atau di Italia," kata Cook.

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)