Berbeda dengan Facebook dan Instagram, Perlukah Kita Khawatir dengan TikTok?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 09:55 WIB
Jakarta -

TikTok jadi aplikasi yang popular saat ini, dengan lebih banyak diunduh dalam setahun terakhir ketimbang Facebook, Instagram, dan YouTube. Namun, dengan akses ke data pribadi pengguna seperti kamera, mikrofon, daftar kontak dan GPS, apakah aman?

TikTok dan Pengintaian

"Menurut saya tidak ada anak-anak seumuran saya yang memikirkan hal itu."

Bahkan ada pula beberapa pengguna dan orangtuanya yang tidak tahu jika TikTok adalah aplikasi buatan perusahaan China.

Anggota militer beberapa negara larang TikTok

Kekhawatiran atas kemampuan kecerdasan teknologi TikTok, seperti pemindai wajah, ditambah dugaan adanya pemantauan pemerintah China, membuat anggota militer di Australia dilarang menggunakan aplikasi ini.

Larangan ini juga diterapkan mengikuti langkah badan militer Amerika Serikat.

Kepala Badan Intelijen Australia, Andrew Hastie mengatakan larangan ini saja tidak cukup.

"Saya rasa sangatlah bijaksana Badan Pertahanan Australia sudah melarang penggunaan TikTok [untuk tentara]," katanya.

"Tapi lebih bagus lagi kalau larangan ini bisa diberlakukan tidak hanya di telepon atau perangkat kerja, tapi juga perangkat pribadi."

"Pengintaian bisa dilakukan di semua jenis media sosial. Kita harus lebih berhati-hati ketika menggunakan perangkat teknologi ini."

Di Indonesia sejumlah anggota militer dan polisi diketahui menggunakan TikTok, bahkan ada yang hingga konten videonya menjadi viral.

TikTok juga sudah banyak digunakan di kalangan politisi, baik di Australia dan Indonesia, dan sepertinya mereka tak khawatir dengan masalah pengintaian.

Rabu kemarin (19/2) Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan muncul di dalam video aplikasi TikTok yang diunggah oleh Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DKI, Rani Maulani.

"Dibawa happy aja....," demikian keterangan singkat di akun Instagram Rani untuk video tersebut.

Mantan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno juga mengunggah video TikTok setelah sebelumnya menerima 'Silver Button' dari Youtube, karena 'subscriber' yang sudah menembus 100 ribu orang.

"Bukan moderasi konten, tapi penyensoran"

Pakar jejaring sosial China, Fergus Ryan telah mempelajari TikTok dan WeChat, aplikasi komunikasi buatan China selama satu tahun penuh.

Ia ingin mengetahui apakah kedua aplikasi ini merupakan alat mengintai dan penyensor pemerintah Beijing.

Menurutnya, TikTok mungkin saja menghapus atau menyeleksi unggahan yang tidak mereka sukai.

"Kami sudah melihat pedoman moderasi atau pemantauan konten video TikTok yang sempat dibocorkan ke media," kata Fergus.

"Dan pedoman moderasi konten ini menunjukkan apa yang TikTok sebut sebagai 'moderasi', sebenarnya adalah menyensor bagi orang awam."

Bulan November lalu, TikTok meminta maaf kepada seorang perempuan Amerika Serikat yang mengunggah video penahanan Muslim Ughyur di China.

Video tersebut diblok oleh TikTok, setelah menjadi viral.

Topik sensitif lainnya adalah soal Tiananmen, Tibet dan Taiwan yang disebut sebagai "tiga T".

"Penyensoran dan propaganda tidak dilakukan secara terang-terangan," kata Fergus.

"Video tidak harus sampai dihapus untuk menandakan kalau ada penyensoran. Mereka bisa melakukan yang namanya 'shadow-banning'," katanya.

"Artinya, ketika pengguna TikTok mengunggah video atau konten, mereka pikir pengikutnya melihat unggahan tersebut, padahal konten tersebut tidak dapat dilihat siapapun."

(ita/ita)