'Dari Beda Agama Sampai Kawin Lari': Mengikat Cinta di Depan Penghulu Australia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 14 Feb 2020 16:30 WIB
Canberra -

Jika upacara pernikahan di Indonesia identik dengan pemuka agama, di Australia, pernikahan pada umumnya diresmikan oleh mereka yang dikenal dengan sebutan 'celebrant'.

Penghulu ala Australia:

  • Pernikahan di Australia sudah sah jika tercatat di kantor catatan sipil dan dipandu oleh celebrant atau penghulu
  • Celebrant Susanna Ichwandi sudah menikahkan lebih dari 170 pasangan yang 50 persen dalam Bahasa Indonesia
  • Tarif celebrant, termasuk akte pernikahan, berkisar antara A$350 (sekitar Rp3,5 juta) sampai A$800 (sekitar Rp8 juta)

Ini adalah cerita suka-duka celebrant, di antaranya ada yang berasal dari Indonesia, yang ada di balik cerita cinta para mempelai.

Tahun 2018 lalu, pasangan model Indonesia Kimmy Jayanti dan pesepak bola Gregory Nwokolo asal Nigeria akhirnya mengikat janji sehidup semati di Perth.

Mereka memilih menikah di sana karena perbedaan keyakinan. Kimmy beragama Hindu, sementara Greg orang Kristen.

Kimmy menyebut langkah yang diambil dengan menikah di Australia sebagai "jalan tengah" untuk meresmikan ikatan cinta mereka.

Tidak seperti pernikahan di Indonesia yang hukumnya merujuk pada pengesahan secara agama, pernikahan di Australia sudah dianggap sah jika tercatat di kantor catatan sipil.

Jadi, pernikahan bukan hanya domain pendeta, pastur, atau ustaz. Kimmy dan Greg misalnya, dinikahkan oleh seorang celebrant bernama Liz Hayes.

Kimmy-GregAlt

Liz Hayes menjadi celebrant yang menikahkan model Indonesia Kimmy Jayanti dan pesepak bola Greg Nwokolo. Kimmy dan Greg memilih menikah di Perth, Australia, karena perbedaan agama. (Supplied: Liz Hayes)

"Seperti yang disebutkan sebelumnya, jumlah celebrant sekarang sangat banyak dan ini menjadi tantangan untuk celebrant penuh waktu seperti saya," kata Liz.

"Diversifikasi adalah salah satu jalan keluarnya. Karena tidak ada banyak pernikahan di Perth selama musim dingin, tetapi ini adalah musim pernikahan di Bali, itu berarti saya bisa tetap mendapatkan penghasilan sepanjang tahun," kata Liz.

Sebagai celebrant paruh waktu, Susanna punya tantangan yang berbeda.

Selain tantangan masalah administratif terkait kartu identitas dan surat cerai yang sering tidak disertakan oleh klien, Susanna juga harus menjaga diri untuk tidak ikut campur dalam masalah pasangan.

"Yang susah adalah kita tidak boleh ikut campur masalah mereka. Terkadang ada pasangan yang ribut dan curhat ke saya," kata dia.

"[Tapi], kita sebagai celebrant sipil berkewajiban memberitahu mereka tentang jasa konseling yang lebih bisa membantu mereka."

Tarif celebrant, termasuk akte pernikahan, berkisar antara A$350 (sekitar Rp3,5 juta) sampai A$800 (sekitar Rp8 juta), tergantung apakah digelar pada akhir pekan dan jenis upacara yang dipilih.

Tertarik menikah dengan penghulu ala Australia?

Simak artikel menarik lainnya dari ABC Indonesia

(ita/ita)