Tiga Perempuan Indonesia Menguak Dominasi Pria dalam Bidang Sains

ABC Australia - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 13:52 WIB
Jakarta -

Tiga perempuan Indonesia mampu berprestasi dalam bidang profesi yang didominasi oleh kaum pria. Namun diakui perlunya dukungan keluarga, terutama suami, agar bisa bertahan dalam pekerjaan 'macho'.

Ketiganya diwawancarai oleh ABC Indonesia, bertepatan dengan Hari Perempuan Sains Sedunia pada 11 Februari. Mereka menekuni bidang Sains, Teknologi, Teknik dan Matematika yang lebih dikenal dengan istilah STEM.

Apa yang memotivasi mereka sampai sekarang berkecimpung di bidang-bidang tersebut dan tantangan apa yang mereka hadapi selama ini?

Salah satunya adalah Prof Reini Wirahadikusumah yang baru saja dilantik menjadi Rektor perempuan pertama Institut Teknologi Bandung (ITB) 20 Januari lalu, beberapa bulang menjelang ulang tahun ITB yang ke-100 bulan Juli mendatang

Sebelum terpilih menjadi rektor, Reini adalah guru besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB dengan keahlian Manajemen dan Rekayasa Konstruksi.

Meski bagi sebagian orang dianggap terlambat, Reini menganggap sebaliknya.

"Tidak terlambat. Memang ini saatnya, [karena] sejalan dengan meningkatnya peran wanita di Indonesia dan di pendidikan tinggi pada khususnya," kata Reini kepada ABC Indonesia.

Mengisi hampir setengah jumlah total populasi di Indonesia, perempuan dinilai Reini punya potensi untuk berkontribusi besar di berbagai aspek, di antaranya bidang sains.

Prof Reini

Reini merupakan rektor perempuan pertama di Institut Teknologi Bandung yang sudah berdiri sejak 1920. Ia dilantik 20 Januari 2020. (Supplied: Amanda Achmadi)

Di tengah banyaknya isu perempuan dan bidang STEM yang belum selesai, Amanda mengingatkan agar para perempuan yang dianggap berhasil di bidang ini untuk tetap rendah hati.

"Para perempuan yang berhasil harus lebih berhati-hati saat menempatkan pengalamannya sebagai patokan untuk berkata: 'if I can make it, you can make it'. "

"Sebaiknya kita juga menyadari apa yang membuat segala sesuatu itu menjadi mungkin, karena apa yang tersedia dan saya miliki, belum tentu dimiliki mayoritas perempuan," kata Amanda.

Contohnya misalnya, jumlah cuti melahirkan berbeda-beda di tiap negara dan tidak universal.

"Dalam mempresentasikan diri sebagai penyintas di bidang ini, kita bisa menjadi sedikit arogan dengan mengabaikan kenyataan bahwa kita hidup dalam ketidaksetaraan gender di masyarakat, sehingga seruan untuk hak-hak dan kesempatan yang setara harus terus dilakukan," tutup Amanda.

Simak artikel-artikel menarik lainnya dari ABC Indonesia

(ita/ita)