'Ini Tindakan Rasis': Mahasiswa China Kesulitan Kembali Kuliah di Luar Negeri

ABC Australia - detikNews
Selasa, 04 Feb 2020 16:39 WIB
Beijing -

Ketika Karen tiba di Bandara Internasional Qingdao hari Sabtu sore untuk terbang ke Australia, suasana di sana tidak karuan. Padahal dia ingin terbang ke Sydney untuk memulai masa kuliah sebagai mahasiswa.

Namun Karen yang merupakan mahasiswa internasional asal provinsi Shandong di China dilarang untuk check-in.

Dia diminta untuk menunggu di ruang kedatangan, dan kemudian mendapat pemberitahuan bahwa penerbangannya ke Australia dibatalkan.

Petugas maskapai mengatakan bahwa Pemerintah Australia sudah memberlakukan larangan terbang bagi warga China, dan Karen diberitahu dia harus menunggu selama dua minggu untuk informasi lebih lanjut.

Seorang mahasiswa fakultas hukum di Sidney yang dikenal dengan nama Ritsu juga seharusnya kembali ke Sydney minggu ini, setelah berlibur dengan keluarganya di China merayakan Tahun Baru Imlek.

Sekarang, seperti ribuan orang lainnya, Karen dan Ritsu tidak bisa meninggalkan China, dimana virus corona sudah memakan korban tewas lebih dari 400 orang.

Masa depan yang tidak menentu

Bagi banyak mahasiswa internasional asal China, akomodasi, kemajuan akademis, dan bahkan pekerjaan mereka di Australia menjadi tidak menentu.

"Saya sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sekarang," kata Ritsu dengan menggambarkan larangan perjalanan ini sebagai 'tindakan rasis'.

Ritsu sudah tidak pernah keluar dari apartemennya di Xiaogan, yang terletak sekitar 50 km dari pusat kota Wuhan, selama hampir dua minggu.

"Ketika saya mendengar larangan perjalanan yang dikeluarkan Amerika Serikat, saya mulai khawatir," kata Ritsu, dan menduga bahwa Australia akan mengikuti jejak Amerika Serikat.

Dugaannya ternyata benar.

People wear masks at Hong Kong airport.

Pemerintah Australia sudah memberlakukan larangan perjalanan bagi warga China untuk masuk ke sana, termasuk mahasiswa internasional. (Supplied)

Kehadiran di kelas bagi mahasiswa internasional kadang diperlukan sebagai bagian dari persyaratan dan banyak mata kuliah belum memiliki kelas online.

Banyak mahasiswa internasional asal China ini melihat adanya 'kesenjangan informasi' antara universitas dan mahasiswa internasional mengenai status mereka saat ini.

Abbey Shi, seorang mahasiswa internasional asal Shanghai, dan sekretaris umum Dewan Mahasiswa di Universitas Sydney sudah membuat kelompok chat di media sosial untuk mengumpulkan data mahasiswa yang menghadapi masalah karena adanya virus corona.

Beberapa universitas di Australia sudah menunda masa pendaftaran, dan juga menawarkan pembatalan pembayaran atau penundaan kuliah kalau mereka tidak bisa kembali pada waktunya.

Namu Shi mengatakan banyak mahasiswa setuju dengan keputusan Monash University di Melbourne yang menunda awal kuliah yang akan dimulai bulan Maret selama dua minggu.

Para mahasiswa internasional asal China juga sudah memulai petisi di change.org meminta agar larangan perjalanan dicabut dan menggambarkan hal itu sebagai tindakan 'gegabah.'

Sampai hari Senin (3/2/2020), petisi itu sudah mendapatkan 11 ribu tanda tangan.

*Beberapa nama dalam artikel ini sudah diganti

Artikel selengkapnya dalam bahasa Inggris bisa dibaca di sini

(nvc/nvc)