Pemilihan presiden Amerika Serikat di tahun 2016 dianggap sebagai salah satu yang paling sengit dalam sejarah negeri itu. Bagaimana pendapat sejumlah warga Australia yang tinggal di Amerika dan warga Amerika yang tinggal di Asia Pasifik mengenai kampanye yang sudah berlangsung.
Lucy Muirhead - New YorkLucy Muirhead adalah warga Australia yang bekerja pada lembaga think tank kebijakan publik di New York. Dia sudah menetap di Amerika Serikat selama 3,5 tahun.
"Pemilu ini menjadi sangat tidak biasa, bahkan bagi kebanyakan warga Amerika Serikat sendiri. Jujur, sulit membandingkannya dengan konteks warga Australia," katanya.
"Salah satu perbedaan yang paling mengecewakan adalah mengamati betapa sulitnya pemilu ini bagi sebagian orang untuk menggunakan hak mereka untuk memilih di Amerika Serikat. UU Pembatasan Pemilih telah merampas hak jutaan dan secara tidak proporsional mencegah pemilih kulit hitam dan latin untuk memberikan suara pada hari pemungutan suara."
Lucy juga mendapati aneh sekali dirinya tidak bisa ikut memberikan suara.
"Latar belakang saya di bidang politik, sehingga saya mengira saya akan sangat bersemangat berada di Amerika Serikat pada saat kampanye Pemilu Presiden AS ini berlangsung. Tapi sebaliknya, saya merasa terputus dari banyak keriuhan [kampanye ini], mungkin sebagian alasannya adalah karena saya tidak bisa memberikan suara."
Terlepas siapa yang akan memenangkan pemilu ini, Lucy tidak pernah berpikir hasil pemilu ini akan membuatnya meninggalkan New York, tapi kepresidenan Trump menurutnya dapat mempengaruhi hubungan Australia dengan AS.
"Saya menduga fenomena Trump telah menakutkan komunitas internasional dan jika dia benar menjadi presiden, hal ini dapat memaksa pemimpin Australia untuk mempertimbangkan kembali kepercayaan yang biasanya mereka serahkan kepada AS untuk berbagai masalah pada umumnya," katanya.
FrankSanders AustraliaFrank Sanders adalah warga Amerika Australia yang bekerja sebagai guru di Melbourne. Dia sudah menetap di Australia sejak tahun 1994, dan sudah memberikan suaranya pada pemilu tahun ini.
Frank mengatakan sementara politisi Amerika tidak selalu memberikan suara pada banyak isu berdasarkan garis [kebijakan] partai mereka, sistem politik Amerika Serikat semakin menyerupai sistem politik Australia.
"Dimana Anda pada dasarnya adalah memilih partai, ketimbang memilih individu tertentu yang mencalonkan diri untuk menduduki kursi presiden."
Namun demikian ada sejumlah perbedaan utama. Sebuah partai tidak bisa memilih menyingkirkan pemimpin yang terpilih tanpa pemilihan suara baru oleh masyarakat, sebagaimana bisa terjadi di Australia.
Tapi di Australia para pemilih lebih memberikan perhatian pada apa yang dijanjikan akan dilakukan oleh para politisi, dimana untuk kebanyakan hal, janji-janji ini diabaikan oleh partai maupun para pemilih di Amerika Serikat," ungkap Frank.
Frank meyakini hasil dari Pemilu Presiden ini akan memiliki dampak yang besar bagi hubungan internasional.
"Hubungan internasional akan menghadapi bencana jika Trump menang, sebagaimana juga kebijakan migrasi. Meski saya sudah terbiasa dengan perasaan anti-warga Amerika jika bepergian, tapi perasaan semacam ini akan menjadi lebih buruk jika Trump menang," katanya lagi.
"Sementara dengan Clinton, hubungan internasional kondisinya kurang lebih akan sama seperti sekarang, meski saya juga meyakini Clinton cenderung akan bertindak lebih tegas dalam beberapa situasi ketimbang yang dilakukan Presiden Obama. Ini bisa menjadi baik atau lebih buruk. Tapi setidaknya [Clinton] sosok yang stabil".
Andrew Moon - San FranciscoWarga Australia Andrew Moon sudah menetap di Amerika selama setahun, dan bekerja di perusahaan start-up peranti lunak perekrutan di San Francisco.
Dia mengatakan salah satu perbedaan yang paling jelas antara pemilu di Amerika Serikat dengan pemilu di Australia adalah gerakan untuk memotivasi orang untuk memberikan suara di Amerika Serikat, dibandingkan di Australia di mana memberikan suara adalah kewajiban".
"Ketika Anda berbicara dengan warga Amerika, sering kali mereka tidak percaya jika kami [warga Australia] akan didenda jika tidak memberikan suara!"
Dia juga menyadari betapa kampanye pemilu presiden AS adalah mengenai seseorang yang mencalonkan diri, ketimbang kebijakan mereka, atau partai yang mereka wakili.
"Kami sedikit mendengar tentang kebijakan konkret, dan lebih banyak mendengar tentang kemampuan mereka memimpin, peristiwa di masa lalu mereka yang dapat mempengaruhi [pencalonan] mereka, dan hal itu [sifatnya] amat sangat pribadi, dan itu tidak baik!"
Andrew mendapati tidak bisa memberikan suara dalam pemilu ini sedikit membuatnya frustasi sehingga dia berbagi pendapatnya dengan cara lain.
"Saya kira saya mencoba dan berbagi pandangan saya melalui media sosial, dan dengan berbicara dengan rekan dan teman-teman saya warga Amerika mengenai bagaimana dan mengapa mereka memberikan suara."
AssociateProfessorDavidEkbladh -Fiji
Warga Amerika Serika Associate Professor David Ekbladh sudah bermukin di Fiji selama setahun, sebagai dosen tamu dibidang sejarah di University of the South Pacific. Dia mengatakan perbedaan utama antara Pemilu AS dan Pemilu Australia adalah pada panjangnya masa kampanye pemilu.
Masa kampanye pada pemilu federal Australia terakhir lalu berlangsung selama 8 pekan, dimana ini kampanye presiden AS kali ini sudah dibangun sejak 2 tahun. Dia mengatakan kewajiban memilih di Australia juga mempengaruhi bagaimana orang akan melakukan kampanye.
"Anda tidak perlu menggiring pemilih untuk memberikan suara mereka ke tempat pemungutan suara," katanya.
"Hal ini mempengaruhi materi dalam kampanye...anda tidak membicarakan isu-isu dengan cara yang sama."
Sementara beberapa teman garis kirinya berbicara dalam istilah apokaliptik mengenai Trump, David memilih mengambil pandangan yang lebih seimbang.
"Pendapat pribadi saya sendiri adalah bahwa Trump merupakan calon yang sudah amat jelas tidak memiliki kualifikasi [sebagai presiden]," katanya, "tapi dia bukan kiamat."
David mengatakan kampanye pemilu kali ini sudah mempengaruhi posisi Amerika di dunia, tapi kita bisa berharap ada lebih banyak perubahan terlepas siapa presiden baru nanti,"
"Presiden memiliki keleluasaan yang cukup besar dalam hal kebijakan luar negeri," katanya," setiap kali Anda mendapatkan presiden baru pasti akan ada perubahan nyata.
"David mengatakan ia menikmati mendapatkan perspektif lain tentang pemilihan AS, saat tinggal di luar negeri, tapi dia siap jika hal ini akan berakhir.
"Kami merasakan kepenatan terhadap pemilu kali ini di Fiji," katanya, "senang rasanya bisa berada jauh dari [pemilu kali ini]."
Simak kisah menarik lainnya, dengan bergabung bersama Australia Plus community di Facebook, atau follow kami di Twitter dan Instagram.















































