Di Melbourne saat ini ada proyek transportasi besar yaitu menghilangkan sekitar 50 palang pintu kereta, yang sering kali menciptakan kemacetan. Karena itu, secara berkala, beberapa stasiun kereta harus ditutup ketika proyek dilakukan, dan karenanya mempengaruhi perjalanan komuter. Salah seorang turis asal Indonesia Caecilia Lili Tenawati mengalami penutupan stasiun tersebut dan terkesan dengan pengelolaan yang dilakukan untuk meminimalkan gangguan.
Berlibur selama dua minggu baru baru ini di salah satu kota terbesar di Australia, Melbourne, banyak pengalaman yang bisa kami dapati salah satunya adalah bagaimana seharusnya pengelolaan pelayanan publik seharusnya dilaksanakan.
Kami tinggal di kawasan pinggiran kota bernama Mitcham (sekitar 20 km dari pusat kota) selama kurang lebih 10 hari di minggu yang lalu.
Oleh karenanya mengharuskan kami mengunakan moda trasportasi kereta untuk ke pusat kota 4 hari pertama semua dijalankan dengan lancar karena kami dapat naik dan turun di stasiun Mitcham dan tinggal berjalan kaki atau naik bus menuju rumah yang kami tinggali.
Pada hari kelima kami mendapat kabar bahwa Stasiun kereta Mitcham akan tidak bisa digunakan selama kurang lebih 2 (dua) minggu karena akan ada proyek peningkatan fasilitas, yaitu pemindahan palang pintu kereta pada jalur Box Hill dan Mitcham sehingga jalur kereta tidak akan dapat digunakan.
Dan info itu setelah kami perhatikan keesokan harinya sudah tertempel poster dan stiker di lantai di mana-mana , yang dengan jelas memberitahukannya pada publik pengguna jasa sehingga semua orang tahu bahwa dua minggu setelah itu, kereta dari dan ke Pusat kota hanya dapat diakses dari pemberhentian Box Hill.
Berita ini sempat agak mengecilkan hati kami untuk menggunakan moda transportasi kereta karena kami kira tentu akan banyak kegiatan akan terhambat karenanya karena pada pemberitahuan itu dengan jelas dianjurkan untuk meluangkan waktu lebih kurang 30 menit untuk perjalanan karena perubahan ini.
Dalam poster dan leaflet tentang peristiwa juga diterangkan bahwa akan ada bus pengganti antara Mitcham dan Box Hill selama proyek dilaksanakan sehingga publik tidak perlu khawatir tentang ketidak tersediaannya layanan transportasi antar kedua titik itu.
Dengan udara dingin winter di pagi hari, sungguh sangat membuat segan orang orang untuk keluar rumah, kami dengan semangat yang masih tersisa tetap keluar karena toh memang sedang berlibur sehingga tidak dikejar kejar target waktu dan kami menganggap andaikan ada hambatan akan kami anggap saja sebagai pengalaman.
Dan ternyata peristiwa itu sama sekali tidak mengganggu kegiatan orang-orang yang menggunakan kereta karena penggantian itu semua diatur dengan perencanaan yang sangat baik dan pengelolaan bus pengganti dan segala sesuatunya yang berhubungan dengan itu dengan sangat baik.
Karenanya kami sebagai pendatangpun dengan sangat nyaman dan sama sekali tidak merasakan hambatan apapun karena perubahan itu.
Yang menarik bagi saya dari pengalaman ini adalah beberapa hal.
Pihak pengelola transportasi publik dengan sangat professional mengelolanya dengan perencanaan tepat dengan menginfokan tentang perubahan itu dua minggu sebelumnya dengan stiker, poster dan brosur di mana di tempat yang gampang terlihat, bahkan bahkan stiker di lantai juga ada.
Pada hari pertama perubahan jadwal itu tidak terlihat ada tumpukan orang di mana karena kebingungan karena info itu sudah menyebar dengan baik tetapi yang menarik adalah pihak pengelola masih menyediakan petugas-petugas yang dengan ramah menginfokan di mana kita harus naik dan turun dari bus pengganti baik di Box Hill maupun di beberapa perhentian yang akan dilewati dalam perjalanan menuju Mitcham dan stasiun lain yang ditutup selama dua minggu tersebut.
Juga di perhentian Box Hill yang berkebetulan juga ada pusat pembelanjaan disediakan petugas di pintu menuju arah luar ke bus pengganti yang secara berkala berteriak (tanpa menggunakan alat pengeras suara) memberitahukan di mana bus pengganti berada.
Setelah sampai di halte pemberhentian bus masih ada lagi petugas (sekali lagi tanpa pengeras suara) berteriak menyampaikan informasi tentang tempat-tempat yang akan dilewati.
Yang menarik buat saya adalah cara penyampaian mereka yang ramah dan penuh rasa tanggung jawab sehingga membuat kita nyaman karenanya.
Dan ternyata bus bus pengganti itu semua gratis (sopir bus juga dengan ramahnya memberitahukan bahwa kita tidak perlu men-"tap" kan kartu perjalanan kita karena semua itu bebas biaya adanya).
Dari kejadian ini kita bisa melihat bahwa pengelola dengan sepenuh tanggung jawab menjalankan tugasnya dengan mengatur segala sesuatu dari perubahan ini sehingga pada saatnya semua berjalan dengan sangat lancar, kemudian para petugas yang dengan sangat profesional menjalanakan tentu adalah para petugas yang sudah sangat mengerti akan pelayanan publik sehingga dengan sangat baik menunjukkan sikap "melayani" para pelanggan mereka .
* Tulisan ini adalah pendapat pribadi. Caecilia Lili Tenawati seorang ibu rumah tangga sehari-hari tinggal di Jakarta baru saja kembali dari berlibur selama dua minggu di Australia.












































