Dalam hari-hari terakhirnya, menjelang hukuman mati, Sukumaran mengekspresikan perasaannya melalui sejumlah lukisan.
Salah satunya adalah lukisan wajahnya sendiri setelah diberikan pemberitahuan bahwa hidupnya akan tersisa 72 jam lagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah lukisan akhir Sukumaran akan dipamerkan di Cilacap, Rabu (29/04). Foto: AAP, Mick Tsikas. Salah satu permintaan terakhir Sukumaran dalam waktu 72 jam terakhirnya adalah diberikan waktu selama mungkin untuk melukis.
Dalam lukisan wajahnya sendiri, ia sempat menuliskan “Dua hari terakhir, Myuran Sukumaran, Penjara Besi, Nusakambangan.”
Wajah Presiden Joko WIdodo dengan tulisan ‘Manusia Bisa Berubah &rsquo, juga menjadi salah satu hasil karya terakhirnya.
Lukisan yang diberi judul, Satu Hari. Foto: AAP, Roni Bintang.Sukumaran mulai melukis di tahun 2012 saat bertemu salah satu temannya, yang kemudian menjadi mentor seninya, Ben Quilty.
Ben adalah seniman yang pernah memenangkan penghargaan Piala Archibald.
Quilty mengaku kalau bakat Sukumaran sudah terlihat jelas. “Ia tahu bagaimana melukis, tanpa dilatih, tanpa membaca buku seni,” katanya.
Pengacara Julian McMahon bersama lukisan hasil karya kliennya, Sukumaran. Foto: AAP, Darma Semito. Sukumaran pernah melukis 28 wajah sendirinya dalam waktu dua minggu. Ia mendapat gelar seni dari Curtin University pada bulan Febuari tahun ini.
Selama berada di penjara Kerobokan, ia telah memberikan pelatihan melukis dan seni bagi rekan-rekan sesama napi.
Beberapa hasil karya Sukumaran pernah dilelang di Melbourne, Australia dan dana yang terkumpul disumbangkan bagi program rehabilitasi lewat seni di penjara Kerobokan, Bali.
(nwk/nwk)











































