Januari Lalu Dukung Kenaikan BBM, Kini Megawati Menolak

Januari Lalu Dukung Kenaikan BBM, Kini Megawati Menolak

- detikNews
Selasa, 27 Mar 2012 10:04 WIB
Jakarta - Kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak pernah populer di telinga masyarakat. Soal kenaikan harga BBM, Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, punya pendapat sendiri. Bulan Januari lalu Mega memberi sinyal setuju BBM naik, namun dua bulan kemudian sikap itu berubah 180 derajat.

Di kantor PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, 10 Januari lalu, Megawati mengaku pusing mengikuti perkembangan wacana pembatasan BBM subsidi oleh pemerintah. Menurutnya, pemerintah harus menjelaskan rencananya dengan terang ke masyarakat.

"Untuk masalah BBM saya juga sampai pusing mengikutinya. Saat saya jadi presiden, realitanya memang BBM harus dinaikkan. Tapi partai menolak hal itu. Jadi nanti tanya saja ke pemerintah bagaimana mereka mengatasi hal itu, karena memang jadi hal yang sulit," ujar Mega kala itu sebagaimana dilansir detikfinance.com.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mengutip pemberitaan tempo.co pada tanggal yang sama, Megawati berpendapat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz bisa berdampak pada harga BBM di Indonesia. Realitas internasional itu harus benar-benar diperhatikan.

"Menaikkan harga BBM paling realistis," ucap Mega.

Bahkan Ketum PD Anas Urbaningrum mengingatkan kalimat Mega yang mensinyalir persetujuan kenaikan BBM itu. "Kita membaca di media massa pada tanggal 10 Januari 2012, Ibu Megawati Soekarnoputri, mantan presiden kita, juga menyampaikan bahwa pilihan yang realistis adalah menaikkan harga BBM," kata Anas seperti dimuat detiknews.

Hal itu disampaikan Anas saat membuka pertemuan silaturahim elite PD di kediaman pribadi Ketua Wanbin PD, Susilo Bambang Yudhoyono, di Cikeas, Bogor, Minggu (18/3).

Pernyataan Mega kala itu sepertinya melekat benar di benak beberapa orang. Tak hanya Anas, peneliti politik dari The Habibie Center, Bawono Kumoro, juga mengingat pernyataan Mega tentang kenaikan BBM tersebut.

"Kalau kita lihat file pernyataan Megawati di awal tahun ini, Mega pernah suatu kali mendorong dalam pidatonya menyarankan pemerintah menaikkan BBM ketika ketegangan di Selat Hormuz meningkat. Saat itu harga minyak belum capai US$ 120 per barel. Anehnya ketika harga minyak US$ 120, PDIP justru resisten dengan kenaikan BBM," papar Bawono saat dihubungi detikcom kemarin.

Namun sikap Mega berubah ketika pemerintah benar-benar berencana menaikkan harga BBM pada 1 April mendatang. PDIP lantang menyuarakan menolak kenaikan harga BBM. Megawati juga menegaskan penolakan kenaikan harga BBM bukan untuk pencitraan.

"Beberapa hari yang lalu Fraksi PDIP menolak kenaikan harga BBM. Sangat sulit PDIP berjuang sendirian dan kami mengatakan bukan hanya buat pencitraan," ujar Megawati dalam pidato 'Pemantapan Tiga Pilar Partai Struktur, Legislatif, Eksekutif Se-Provinsi Nusa Tenggara Timur' di Kupang, NTT, Jumat (16/3).

Megawati menjelaskan partainya tentu tidak asal menolak kebijakan tersebut. Menurutnya, kenaikan BBM akan semakin membebani perekonomian rakyat kecil. Megawati pun mengajak seluruh kadernya berjuang untuk menolak kenaikan harga BBM.

Mengapa Mega kemudian berubah pikiran soal kenaikan harga BBM? Hanya Mega dan Tuhan yang tahu.

(vit/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ajang penghargaan persembahan detikcom dengan Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) untuk menjaring jaksa-jaksa tangguh dan berprestasi di seluruh Indonesia.
Hide Ads