Senin, 21/02/2011 18:20 WIB

Ketidakpastian Prediksi Cuaca, Kasus La Nina 2010/2011

Yudha Setiawan Djamil - detikNews
Jakarta - Pada 2010 kemarin kondisi cuaca di musim kemarau (Juni, Juli dan Agustus) tetap menunjukkan tingkat curah hujan di atas normal, hal ini membuat Kepala Divisi Perubahan Iklim BMKG menyebutnya sebagai periode "Kemarau Basah". Kondisi cuaca seperti ini memberi pengaruh buruk yang signifkan pada sektor pertanian, kegagalan panen terjadi mulai dari tebu, tembakau sampai di awal 2011 ini terjadi pada komoditi cabai. Dampak buruk ini telah dirasakan di berbagai daerah, yaitu dengan meningkatnya harga komoditi tani.

BMKG sebagai badan yang bertanggung jawab memantau, menganalisa dan menginformasikan kondisi iklim/ cuaca ke masyarakat telah mengeluarkan informasi tentang kemungkinan terjadinya kemarau basah sejak awal 2010, informasi ini terus diperbaharui (terakhir 3 Januari 2011). Kejadian La Nina diidentifikasi sebagai pendorong utama di samping faktor-faktor lainnya. Dalam dokumentasinya BMKG juga melampirkan hasil prediksi kondisi La Nina 2-3 bulan ke depan yang disandingkan dengan hasil prediksi badan-badan cuaca internasional lainnya. Hasil prediksi ini terus diperbarui oleh BMKG (di samping informasi kondisi terkini) dan publik bisa mendapatkannya dari situs BMKG di internet.

Melakukan prediksi cuaca bukanlah perkara sederhana, dibutuhkan formulasi kondisi cuaca sebagai fungsi waktu yang disebut dengan model cuaca. Model cuaca sebagaimana formulasi matematis dalam aplikasi fisis pasti memiliki rentang ketidakpastian (range of uncertainty). Rentang ketidakpastian muncul karena beberapa hal, salah satu yang mendasar ialah penjalaran ketidakpastian dari data akibat keterbatasan tingkat ketelitian alat ukur yang digunakan. Kemudian juga sifat dari formulasi yang digunakan apabila bersifat acak (chaos) maka hasil keluarannya akan memberi nilai berbeda-beda dan membentuk suatu sebaran, pola sebaran ini juga memberikan informasi tentang rentang ketidakpastian.

Sifat dari formulasi model cuaca telah diidentifikasi sebagai chaos, hal ini membuat rentang ketidakpastian dari hasil prediksinya menjadi penting. Rentang nilai ini kerap ditampilkan dalam suatu rentang statistik dengan probabilitas 90-99%, ini artinya kemungkinan besar nilai prediksi yang muncul berada pada rentang nilai tersebut tanpa ada satu nilai yang pasti. Menjadi penting untuk dicermati kemudian ialah sebesar apa rentang ketidakpastian ini, sebab apabila rentang nilai ini terlalu besar maka hasil prediksi bisa dinilai tidak signifikan dan disarankan untuk diabaikan. Dengan kata lain, model tersebut tidak dapat dipercaya.

Laporan BMKG pada Juli 2010 tidak menampilkan rentang ketidakpastian untuk hasil prediksi indeks Nino (parameter ukur kejadian El Nino-La Nina) tertanggal 14 Juni 2010. Pada pemutakhiran dokumen tertanggal 3 Januari 2011 BMKG melampirkan sebaran hasil prediksi indeks Nino yang bisa memberikan gambaran tentang rentang ketidakpastian. Sayangnya hal ini hanya muncul pada laporan hasil prediksi indeks Nino oleh lembaga cuaca luar negeri (NOAA-Amerika, JAMSTEC-Jepang dan BOM-Australia) tapi tidak dengan BMKG sendiri. Kondisi ini tentunya menjadi tanda tanya besar akan kualitas model cuaca yang digunakan oleh BMKG, sebab apabila ternyata nilai rentang ketidakpastian cukup besar maka selayaknya hasil tersebut tidak diinformasikan ke-publik.

Rentang ketidakpastian sangat penting untuk ditampilkan sebagai bagian dari kredibilitas model cuaca itu sendiri. Memperkecil rentang ketidakpastian adalah usaha yang terus dilakukan oleh para ilmuwan bidang cuaca, agar dapat memberikan nilai prediksi yang semakin signifikan. BMKG sebagai lembaga pemerintah dituntut untuk memberikan informasi prediksi cuaca sebaik mungkin kepada publik terutama sektor pertanian, maka sangatlah penting bagi BMKG untuk turut peduli akan perkembangan mutakhir kemajuan performa model cuaca didunia dan berusaha meng-adopsi-nya. Selama performa model cuaca yang digunakan oleh BMKG dipertanyakan, maka selama itu pula informasi prediksi cuaca oleh BMKG tidak akan dapat dipandang secara serius.

Referensi :
- http://iklim.bmg.go.id/ekstrim/revisi_072010.ppt
- http://www.bmkg.go.id/share/Dokumen/update_nino_131210.pdf

*) Yudha Setiawan Djamil adalah lulusan program studi Meteorologi ITB, kini staf peneliti di NTU-Singapura.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(vit/vit)



Sponsored Link
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Kolom Terbaru Indeks Kolom ยป
ProKontra Index »

Pilkada via DPRD Potensi Korupsinya Lebih Tinggi!

DPR hari ini akan mengesahkan RUU Pilkada yang salah satunya akan menentukan apakah pemilihan kepala daerah akan tetap dilakukan secara langsung atau dikembalikan ke DPRD. KPK berpandangan, Pilkada lewat DPRD justru potensi korupsinya lebih tinggi. Bila Anda setuju dengan KPK, pilih Pro!
Pro
58%
Kontra
42%