Kisah drg Ranti Aryani

Di Dunia Sipil, Ranti Alami Diskriminasi Jilbab Hingga Buka Klinik Sendiri

- detikNews
Jumat, 09 Agu 2013 19:26 WIB
Ranti Aryani dan suaminya, Richard J Bennett Jr.
Jakarta - Setelah keluar dari AU AS, drg Ranti Aryani harus melamar pekerjaan di dunia sipil. Surat lamaran pun dikirimkan ke berbagai klinik gigi. Sebagian besar klinik itu mundur setelah tahu bahwa dirinya berjilbab. Di dunia sipil ini, Ranti lagi-lagi menggugat diskriminasi yang dialaminya melalui pengadilan.

"Kemudian terjun sebagai sipil yang dentist (dokter gigi), saya hadapi islamicphobia juga di masyarakat. Beberapa perusahaan nasional menolak saya. Tentu mereka nggak bilang saya pakai jilbab, tapi karena ini dan itu," kisah Ranti ketika ditemui detikcom di Jalan Puter I, Bintaro Sektor 5 yang ditulis Jumat (9/8/2013).

Ada beberapa perusahaan regional yang terang-terangan menolaknya karena dirinya berjilbab. Ranti tak tinggal diam, diadukan perlakuan yang diterimanya ini kepada Equal Employment Opportunity Commission (EEOC), lembaga federal yang menangani isu-isu persamaan hak dalam kesempatan bekerja.

"Di Amerika, EEOC memastikan seseorang tidak boleh didiskriminasi karena agama, ras, SARA. Kalau ini terjadi maka kita wajib melaporkan ke lembaga ini untuk memastikan tidak akan terjadi lagi," jelas Ranti.

Selama menunggu kasusnya masuk persidangan, Ranti sempat bekerja di beberapa klinik. Ranti berpindah-pindah karena klinik tempatnya bekerja tak lagi sesuai dengan nilai yang dipegangnya, cenderung komersil, menghalalkan segala cara dibanding mengutamakan perawatan pasien yang benar.

Dari hasil kerjanya, Ranti menabung untuk mengembangkan diri dan bersekolah lagi di sekolah kedokteran gigi bergengsi The Dawson Center. Di sini Ranti mempelajari perawatan gigi secara menyeluruh. Hingga akhirnya, hasil gugatannya ke pengadilan melalui EEOC keluar.

"Di pengadilan bisa berdamai. Walaupun mereka tak mengakui, tapi mereka menyelesaikan ini secara damai di pengadilan," tutur Ranti yang selama wawancara ditemani sang suami, Richard Bennett Jr.

Selama menghadapi diskriminasi SARA di Angkatan Udara AS (US Air Force/USAF) dan dunia sipil, dukungan Rich, panggilan akrab Richard Bennett, suami Ranti setia mendukungnya. Bahkan, Ranti mengatakan sejak awal pernikahan, Rich rela berkorban dengan meninggalkan pendidikan dan karirnya yang moncer.

Rich meninggalkan pendidikan PhD bidang ekonomi di Cornell University saat menikahi Ranti, keluar dari 2 perusahaan pialang saham di Wall Street New York karena menuntutnya melakukan perdagangan ilegal, hingga menjadi tukang bungkus di salah satu toko kelontong saat menemani Ranti pindah bekerja di USAF.

Selama 16 tahun menikah, Rich yang sudah masuk Islam 7 tahun sebelum bertemu Ranti selalu mendukungnya. Semua perlakuan terhadap istrinya itu, baginya kuncinya satu, bagaimana mengelola hati dengan baik.

"Anda selalu akan menemukan kontradiksi. Di Indonesia ada 280 juta umat Islam, tapi juga banyak korupsi, ini kontradiksi. Di Amerika juga punya masalah yang sama, ada kontradiksi itu. Masalahnya adalah hatimu, bukan masalah di mana tempatmu. Hatimu yang menentukan semua kontradiksi ini, bagaimana mau menjalani hidup berdasarkan baik atau buruknya hati ini," kata Rich.

Rich menambahkan, dirinya dan istrinya bisa saja marah, kecewa dan mengeluh atas semua perlakuan diskriminasi ini. Alih-alih memilih kecewa dan marah, dirinya lebih memilih bersyukur, menerima dan menghadapinya.

"Mengalami diskriminasi, ada sesuatu yang salah dalam hati, marah, balas dendam, kecewa, mengeluh. Semua itu penyakit hati dan itu tidak konsisten dengan iman. Jangan lari, harus dihadapi," tegas Rich yang lahir di Fayetville, North Caroline, 22 September 2964 ini.

Ranti menambahkan, dalam menghadapi masalah diskriminasi yang dialaminya ini, dirinya dan Rich menghadapi dengan sikap dan ahklak terbaik.

"Dengan cara akhlah terbaik selesaikan maslaahnya dan di dalam kita melakukan isntropeksi diri. Itu bagian dari usaha dunia kita, sementara dalam hati kita berserah diri kepada Allah, bahkan keadilan sekalipun," tutur Ranti.

Setelah berpindah dari satu klinik ke klinik lain, Ranti dan suaminya akhirnya berhasil mendirikan klinik dokter gigi sendiri. Orchid Dental yang terletak di Bala Cynwyd, Pennsylvania sejak tahun 2009 dengan Ranti sebagai dokternya dan Rich sebagai dental hygienist atau asisten dokter gigi.

"Rich pada 20 tahun lalu pernah bersekolah di dental hygiene dan kreditnya bisa ditransfer untuk bersekolah lagi dengan mengambil lisensi," kata Ranti.

Jadilah, pasangan suami-istri ini kini bahu membahu melayani pasien di kliniknya. Dengan pendidikan dan keahlian yang dimiliki Ranti yang menguasai perawatan gigi lengkap, tak cuma merawat gigi melainkan semua sistem pengunyahan, Ranti sempat menjadi dokter gigi terbaik di AS pada tahun 2011.

Penghargaan itu diterimanya saat salah satu yayasan konsumen melakukan survei pada warga AS tentang dokter gigi terbaik. Dengan membuka klinik sendiri, Ranti relatif tak mengalami diskriminasi seperti yang dialaminya di AU AS maupun saat berpraktek di klinik gigi orang lain. Ranti bahkan jarang menerima pertanyaan dari pasiennya mengenai jilbab yang dikenakannya. Mereka sangat menghargai kemampuan profesional Ranti.

"Orang-orang di AS sangat educated ya, sebelum mereka memeriksakan diri ke saya, mereka mencari-cari dulu melalui Google, mengenai jilbab saya rasa mereka juga mencari sendiri apa itu jilbab. Mereka sangat menghargai saya, bahkan saya pernah merawat pasien perempuan Yahudi dan dia menganggap saya adalah pasangan dokter-pasien baginya," tutur Ranti.

(nwk/rmd)