Laporan dari Leiden

Historun: PPI Belanda Napak Jejak Bapak Pendiri Bangsa

- detikNews
Minggu, 12 Mei 2013 19:41 WIB
Bekas Kediaman A. Soebardjo di Leiden (PPI Belanda)
Leiden - Belajar di Negeri Belanda memiliki nilai keistimewaan tersendiri, antara lain dekat dengan sumber dan ruh sejarah Indonesia dan perjalanan hubungan bilateral selanjutnya antara Indonesia-Belanda.

PPI Leiden bekerjasama dengan Presidium PPI Belanda memanfaatkan peluang istimewa tersebut dengan menginisiasi kegiatan Historun menyasar lokasi-lokasi bersejarah di kota Leiden, Sabtu (11/5/2013).

Historun berjalan kaki menyusuri jejak-jejak Bapak Bangsa di kota Leiden ini diikuti oleh 80 peserta, termasuk Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Retno Lestari Priansari Marsudi dan Atase Pendidikan Bambang Hari Wibisono.

Sebagian peserta datang dari Jerman dan Prancis. Peserta paling senior adalah Pak Min (Mintardjo), salah satu sesepuh masyarakat Indonesia di Leiden dari generasi tua, yang usianya 70 tahun lebih namun masih kuat berjalan kaki jarak jauh.

"Diharapkan melalui acara ini dapat menggelorakan kembali jiwa dan semangat kebangsaan kita," jelas Jajang Nurjaman selaku perwakilan dari PPI Leiden saat menyampaikan sambutan pembukaan.

Ada sekitar 10 spot dipilih, beberapa di antaranya rumah di mana pertama kali dicetuskan Indische Vereeniging (1908), yakni organisasi pelajar cikal bakal sebelum menjadi Indonesische Vereeniging (1922), selanjutnya Perhimpunan Indonesia (1925) dan kini Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI).

Titik tujuan selanjutnya adalah kediaman Achmad Soebardjo (Noordeinde 32), salah satu pengurus Perhimpunan Indonesia, yang bersama Ketua Hatta menjadi wakil Indonesia pada konferensi internasional Liga Anti Imperialisme dan Penindasan Kolonial yang pertama di Brussel, Belgia (1927). Achmad Soebardjo kelak menjadi Menteri Luar Negeri RI pertama.

Kemudian ke Monumen Indie, tak jauh dari Kincir Angin tempat kerja ayah maestro pelukis Rembrandt, seterusnya museum Koninklijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV), kediaman Snouck Hurgronje (Rapenburg 61), dan kediaman Hoesein Djajaningrat (Papengracht 17). Hoesein, murid Hurgronje, lulus cum laude dengan disertasi Tinjauan Kritis Sejarah Banten, kelak menjadi Menteri Pengajaran, Kesenian dan Ilmu Pengetahuan (1948).

Beberapa nama seperti Parlindoengan Loebis, R.M. Sosrokartono, R. Soemitro dan Soetan Casejangan Soripada mungkin cukup asing karena tidak terlalu mendapat banyak porsi di dalam historiografi Indonesia. Namun mereka ternyata pernah berjuang demi terbentuknya konsep Indonesia.

Dua lokasi tak kalah istimewa adalah puisi dalam aksara dan bahasa Bugis dan puisi pujangga Ranggawarsita dalam aksara dan bahasa Jawa yang terpampang di area publik dan menjadi salah satu daya pikat Kota Leiden.

"Perjalanan seperti ini dapat membuka mata bagi kita semua mengenai sejarah kita dan sekaligus kita mengharapkan rasa nasionalisme pelajar akan meningkat lebih tinggi dan mereka lebih mencintai bangsanya, bangsa Indonesia," ujar Dubes RI untuk Kerajaan Belanda Retno Marsudi kepada detikcom di sela-sela kegiatan Historun ini.

Dubes yang juga alumnus Belanda menilai Historun inisiatif PPI ini sangat positif, dalam artian ada upaya para pelajar untuk mengetahui beberapa bagian dari sejarah Indonesia yang ada di Belanda terutama di Leiden.

"Mereka ini adalah anak-anak muda Indonesia yang kreatif, rasa keingintahuan dan intelektualnya tinggi, sekaligus sangat kritis namun tetap santun dan berpegang pada akar budaya Indonesia," terang Dubes.

Sementara itu Atase Pendidikan Bambang Hari Wibisono, yang baru sepekan tiba di Negeri Belanda merasa mendapat kejutan dengan kegiatan Historun ini.

"Banyak pelajaran dari perjalanan Historun ini. Ke depan kita ingin memfasilitasi PPI untuk tetap dapat menyelenggarakan berbagai macam kegiatan baik akademik maupun non-akademik, yang semuanya dalam rangka membangun semangat kebangsaan dan menyiapkan generasi emas 2045," pungkas Hari.

Acara diakhiri di De Burch, yang merupakan salah satu bangunan tertua dan titik tertinggi di kota Leiden.

"Diharapkan acara yang dirintis di Leiden ini dapat menjadi stimulus bagi rekan-rekan PPI kota lainnya untuk mencari jejak dan kepingan puzzle Indonesia yang masih tercecer di seantero Belanda," pesan Ketua Divisi Media, Informasi dan Komunikasi PPI Belanda Ryvo Octaviano.


(es/es)