Prahara Dokter Ahli Autis

Gara-gara Blog, Remisi Ahli Autis dr Rudy Sutadi Dihapus

- detikNews
Jumat, 31 Agu 2012 15:56 WIB
ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta - Drama kasus dokter ahli autis dr Rudy Sutadi belum berakhir. Mantan istrinya, dr Lucky Aziza Bawazier, kembali menggugat remisi yang dikantongi dr Rudy untuk tahun 2011. Majelis mengabulkan gugatan ini sehingga remisi selama 8 bulan yang dr Rudy kantongi selama 2011 harus dihapus.

Seperti dilansir website Mahkamah Agung (MA) yang dikutip detikcom, Jumat (31/8/2012), gugatan ini bermula saat Menteri Hukum dan HAM (Menkum HAM) memberikan remisi Kemerdekaan RI selama 6 bulan dan remisi hari raya Idul Fitri selama 2 bulan.

Mendapati remisi ini, dr Lucky Aziza Bawazier tidak terima dan menggugat remisi tersebut. Apa alasan dr Lucky menggugat remisi tersebut?

"Rudy Sutadi tidak berkelakuan baik selama menjalani pidana," itulah alasan yang tertulis di berkas putusan PTUN Jakarta halaman 10.

Bukti kelakuan yang tidak baik tersebut yaitu adanya blog 'Mari Bela Dokter Rudy Sutadi'. Dalam alamat http://mari-bela-dokter-rudy-sutadi.blogspot.com/ banyak tulisan-tulisan kasus dr Rudy Sutadi, kronologi kasus, berkas perkara, surat terbuka untuk Presiden SBY dan sebagainya.

"Hemat majelis hakim, Rudy Sutadi telah melakukan teror melalui blog/milis/website dari dalam LP Klas I Cipinang dengan tujuan memfitnah, menjelek-jelekkan atau mencemarkan nama baik dr Lucky Aziza Bawazier," demikian bunyi pertimbangan majelis hakim yang diketuai oleh I Nyoman Harnanta.

Untuk meyakinkan majelis hakim, penggugat menghadirkan mantan Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra dan ahli JMT Simatupang. Mereka menyatakan seseorang yang membuat tulisan-tulisan di blog/milis/website melalui orang lain dengan tujuan untuk memfitnah, menjelek-jelekkan atau mencemarkan nama baik orang lain, maka tanggung jawab tetap berada pada narasumber dari orang yang menyuruhnya tersebut.

"Apabila seseorang narapidana sedang menjalani masa pidana, seharusnya menjadi orang yang insyaf, menyadari kesalahannya dan tidak mengulangi perbuatannya selama menjalani pidana di LP. Sebelum narapidana tersebut belum menyadari kesalahannya, maka narapidana tersebut belum berkelakuan baik dan tidak berhak mendapat remisi," ujar pertimbangan hakim PTUN Jakarta.

Atas pertimbangan tersebut, majelis hakim yang beranggotakan Basuki Santoso dan Andry Asani mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya.

"Mewajibkan Menteri Hukum dan HAM mencabut remisi tanggal 12 Agustus 2011 dan remisi tanggal 16 Agustus 2011," tandas putusan yang diketok pada 3 Juli 2012 lalu. Dengan dihapuskannya remisi 2011 ini, maka total remisi yang diterima dr Rudy selama 42 bulan atau 3,5 tahun pun dihapus.

Kasus tersebut bermula dari kedatangan dr Lucky Aziza Bawazier (istri pertama Rudy) ke Klinik Intervensi Dini Autisme (KID-Autis) di Jalan Otista Raya No 82, Jakarta Timur, pada 26 Agustus 2004. Versi Rudy, dialah yang dianiaya oleh pihak Lucky. Sedangkan versi Lucky, malah sebaliknya, Rudy-lah yang menganiaya.

Akhirnya, dr Lucky mempolisikan mantan suaminya tersebut dengan berbagai laporan. Silang sengketa tersebut harus berakhir di PN Jakarta Timur.

Rudy didakwa dengan 3 kasus sekaligus yaitu penganiayaan (pasal 351 KUHP) dengan putusan 2 tahun penjara. Lalu dijerat juga dengan dakwaan pemalsuan surat (Pasal 263 KUHP) dengan putusan 6 tahun penjara. Serta terakhir dengan dakwaan penggelapan (372 KUHP) dengan putusan 5 tahun penjara.

dr Rudy Sutadi juga dikenai hukuman 2 tahun 3 bulan atas kasus pencemaran nama baik oleh PN Jaksel. Belum cukup, Rudy juga diganjar oleh MA sebanyak 4 tahun penjara untuk kasus pencemaran nama baik sehingga total hukuman dr Rudy Sutadi yang diterima adalah 19,3 tahun penjara.

Dalam putusan MA yang terakhir, majelis hakim menganulir putusan PN Jaksel dan menghapus hukuman 2 tahun 3 bulan. Sehingga total hukuman dr Rudy selama 17 tahun.

Berdasarkan peraturan, negara memberikan remisi masa pidana 2004-2009 dengan total 22 bulan. Namun, oleh Lucky remisi ini minta dibatalkan ke PTUN Jakarta dan dikabulkan. Pembatalan remisi ini pun dikabulkan oleh MA.

(asp/nrl)