Muda dan Menginspirasi

Aksi Heroik dr Riny Sari Bachtiar Sang 'Dokter Terbang'

Bagus Prihantoro Nugroho - detikNews
Senin, 13 Jul 2015 08:04 WIB
Foto: dok. pribadi dr Riny
Foto: dok. pribadi dr Riny
Jakarta - Sudah biasa kita takjub menyaksikan aksi para superhero dalam cerita fiksi buatan Hollywood. Dalam cerita-cerita itu ada tokoh seperti Superman hingga Iron Man yang bisa terbang, tetapi mereka itu fiksi dan bukan dokter 'heroik' seperti dr Riny Sari Bachtiar.

dr Riny menggeluti dunia kesehatan sejak tahun 2012 dan sejak tahun 2014 bergerak untuk aksi medis yang bersifat sosial. Hingga akhirnya tahun ini dia menjadi inisiator dari 'dokter terbang'.

"Awal mula muncul ide dokter terbang atau flying doctor itu karena kami di doctorSHARE sudah punya program dokter apung. Tetapi program itu lebih sering ditujukan untuk masyarakat pesisir di selurus Indonesia. Suatu saat kita ke Papua dan melihat masyarakat pesisir di sana bukan penduduk asli Papua, kebanyakan adalah pendatang dari pulau-pulau sekitar," tutur dr Riny saat berbagi kisah inspiratif dengan detikcom, Jumat (10/7/2015).

Riny dan kawan-kawan ingin sekali menyentuh masyarakat asli Papua. Mulailah mereka mengumpulkan informasi mengenai masyarakat asli yang hingga kini masih mengenakan koteka dan tak tersentuh fasilitas medis.

Info demi info dikumpulkan dan akhirnya tertuju pada satu titik yang letaknya 2.200 dari permukaan laut. Terletak di Kabupaten Intan Jaya yang posisinya amat sulit dijangkau angkutan reguler.

"Karena kita sudah punya 'dokter apung', kenapa tidak sekalian kita buat 'dokter terbang' saja?" kata Riny.

Masalah muncul kemudian ketika hampir tak ada yang mau angkut mereka ke lokasi itu. Belum lagi soal birokrasi yang mengharuskan lapor ke sana dan ke sini.

Pasalnya adalah mereka harus memakai pesawat untuk terbang ke titik itu. Sementara izin penerbangan domestik di Papua memang harus melewati serangkaian birokrasi.

"Padahal kita kan mau mengobati, tetapi kenapa harus ribet di birokrasi? Kalau hanya ke satu pintu sih tidak masalah, tapi ini benar-benar ribet kalau menurut saya," imbuh dia.

Bukan 'superhero' namanya kalau tak bisa putar otak untuk mencari solusi. Mulailah mereka menggandeng perusahaan pariwisata setempat yang seharusnya mengantongi izin.

"Awalnya kami hanya bawa 8 orang, 4 tenaga medis dan 4 media. Kemudian kloter kedua kami bawa 6 tenaga medis dan 2 media. Kenapa kita bawa media? Karena kami butuh dokumentasi dan sekaligus memberi tahu orang-orang di luar sana kalau di Indonesia masih ada masyarakat yang kondisinya seperti ini," tutur Riny yang mengambil program profesi dokter di Universitas Pelita Harapan ini.

Mungkin benar jika dr Riny tak terbang seperti Superman atau pun Iron Man, tetapi aksi heroiknya dilakukan di dunia nyata. Riny pun berencana akan kembali lagi ke Intan Jaya hingga mereka benar-benar terjamin kesehatannya. (bag/rvk)