Kisah Yuda, Bocah 2 Tahun Penderita Jantung Bocor

Purwo S - detikNews
Minggu, 05 Jan 2014 13:00 WIB
Yuda dalam gendongan ibunya/Purwo S
Pacitan -

Mata bocah laki-laki itu terlihat sayu. Tubuhnya yang kerempeng semakin melengkapi kesan memelas bagi siapapun yang melihat. Sesekali dia berusaha larut dalam keceriaan dunia anak-anak. Tapi kelainan fisik membuatnya tak setangguh anak lain seusianya.

Itulah kondisi Yuda Adi Pratama, bocah berusia 2 tahun asal Pacitan yang saat ini tengah menderita kelainan jantung.

"Mudah capek dan kalau terlalu banyak gerak jadi mudah sakit," ujar Megawati (20), ibu Yudi Adi Pratama.

Saat lahir, lanjut Megawati, anak pertamanya tidak menunjukkan adanya kelainan. Bocah berambut lurus itu juga minum ASI dan mengonsumsi makanan tambahan. Anehnya, meski asupan gizi cukup namun pertumbuhan fisiknya tergolong lamban.

Puncaknya, saat berusia 15 bulan Yuda mendadak demam. Tidak itu saja, si bocah kemudian mengalami diare. Khawatir terjadi hal terburuk, keluarga langsung melarikannya ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan dokter barulah diketahui Yuda mengalami kelainan jantung.

"Katanya jantungnya bocor gitu lho. Kami kaget sekali mendengarnya," tutur Megawati sambil menyeka pelupuk yang basah oleh air mata.

Sepulang dari RSUD, Megawati pun tak sabar menyampaikan kabar sedih itu kepada suaminya, Wahyu Adi Anggara (18). Pria muda warga Nawangan itu belakangan merantau ke Kalimantan. Alih-alih menengok kondisi darah dagingnya, Wahyu yang menikahi Megayanti saat sama-sama masih sekolah seakan hilang ditelan bumi.

Ibarat sudah jatuh, masih pula tertimpa tangga. Di saat harus berjibaku mengejar kesembuhan si buah hati, Megawati dan kedua orang tuanya masih harus menanggung kecewa akibat perilaku Wahyu, ayah Yuda.

Sejak itu, berbagai cara ditempuh keluarga untuk kesembuhan Yuda. Apa daya semua upaya terbentur keterbatasan ekonomi. Padahal untuk menangani kasus seperti yang dialami Yuda, dibutuhkan biaya tidak ringan. Ironisnya lagi, nama keluarga Megawati luput dari pendataan Jaminan Kesehatan Masyarakat (jamkesmas).

Tak patah arang. Keluarga pun gigih memperjuangkan biaya pengobatan Yuda melalui segala lini, bahkan hingga ke Kementerian Kesehatan RI. Rekomendasi menkes akhirnya turun. Hanya saja, keluarga masih harus bersabar menunggu hingga kamar untuk rawat inap tersedia.

"Tentu saja pemerintah daerah siap membantu melalui mekanisme yang ada, yaitu BPJS yang sekarang sudah berlaku," kata Indartato, Bupati Pacitan usai melihat kondisi Yuda di Kelurahan Pucangsewu, Minggu (5/1/2013) siang.

(bdh/bdh)