SPOTLIGHT

Ahli Hama, Terjerat Korupsi, Masuk Penjara

Dadan bukan ahli gizi, melainkan ahli tanaman dan hama yang dipercaya Prabowo Subianto untuk memimpin program prioritas Makan Bergizi Gratis. Sepanjang masa pendidikannya, ia dianggap berprestasi.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 9 Juni 2026

Nanang Wiriatno tahu betul bahwa sahabat semasa sekolahnya, Dadan Hindayana, ditunjuk sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Meski Dadan tak punya kompetensi sebagai ahli gizi, modal yang dimilikinya adalah prestasi semasa sekolah. Dadan tergolong anak yang aktif dan cerdas. Posisi itu dianggap ‘bayaran’ yang pantas atas apa yang sudah dilakukannya sejak masa sekolah.

“Di OSIS (organisasi siswa intrasekolah) dia Wakil Ketua OSIS. Di Pramuka, apa namanya, dia Pradana, saya Kerani. Di PKS, Patroli Keamanan Sekolah, saya komandan, dia anggota. Jadi memang aktif di kelas itu,” kata Nanang, mengingat masa-masa SMA-nya dulu, kepada detikX pekan lalu.

Nanang dan Dadan sama-sama bersekolah di SMA Negeri Cimindi—sekarang bernama SMAN 13 Bandung. Keduanya satu kelas selama hampir tiga tahun di kelas Ilmu Pengetahuan (IPA) V, mulai semester II kelas satu sampai lulus.

Kelas ini merupakan kelas bagi murid-murid berprestasi di SMAN Cimindi ketika itu. Mereka yang mendapat peringkat 1-6 pada semester pertama sekolah digabungkan dalam kelas ini.

Di antara murid-murid berprestasi ini, Dadan tidak kalah bersaing. Dia masih bisa mendapatkan peringkat empat dari sekitar 40 murid.

Prestasi akademiknya juga berjalan seiring dengan prestasi nonakademik. Dadan pernah ditunjuk sebagai salah satu anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Cimahi. Dia pandai bermain gitar dan tergabung dalam grup vokal SMA bersama teman seangkatannya yang kini menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Agus Subiyanto

“Kalau Pak Dadan, plus olahraga voli sama badminton, dia jago,” kata Nanang.

Tidak mengherankan, ketika lulus SMA pada 1986, Dadan langsung diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Semasa kuliah, Dadan sempat menjabat Wakil Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Pertanian IPB pada 1989-1990.

Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, saat resmi ditahan oleh Kejaksaan Agung. 
Foto : Andhika Prasetia/detikFoto

Pada masa kuliah ini, Nanang terputus hubungan dengan Dadan. Namun dia mendengar kabar Dadan lulus sebagai lulusan terbaik di IPB pada 1990 dan melanjutkan program penyetaraan di Universitas Rheinische Friedrich-Wilhelms Bonn di Jerman pada 1995-1997. Lalu mendapat gelar doktor spesialis entomologi terapan dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover pada 2020.

Keduanya baru kembali bertemu pada 2015. Dadan sudah bekerja sebagai dosen di IPB sekaligus rektor di Sekolah Tinggi Pertanian Kelautan (STPK) Banau, Halmahera Barat. Dia menjemput Nanang di rumahnya di kawasan Ciomas. Keduanya sama-sama berkunjung ke kawasan Sentul, Bogor, mengunjungi kawan-kawan lama.

Dalam perjalanan, mereka banyak bercerita soal pendidikan dan kegiatan akademik Dadan. Rupanya, waktu itu, nama Dadan sudah cukup beken di kalangan akademisi, khususnya para entomolog.

Berdasarkan akun Google Scholar-nya, tidak kurang dari 66 riset dikembangkan Dadan selama 1996-2025. Salah satu judul studi yang pernah digarapnya adalah ‘Nisbah kelamin tikus sawah (Rattus argentiventer) pada beberapa fase pertumbuhan padi di lahan sawah irigasi’. Dalam studi ini, Dadan meneliti rasio kelamin tikus jantan dan betina di hamparan sawah irigasi di Subang.

Setelah pertemuan itu, Nanang dan Dadan lama tidak bertemu lagi. Sebab, Nanang sudah sibuk dengan bisnis propertinya dan Dadan dengan dunia akademiknya. Hanya sesekali Nanang mendengar kabar tentang Dadan.

“Terus terakhir-terakhir saya cuma mendengar dia itu aktif dengan semacam pengajiannya Pak Prabowo (Prabowo Subianto),” ungkap Nanang.

Januari lalu, keduanya baru kembali bertemu, ketika SMAN Cimindi menggelar reuni akbar. Dadan duduk bersebelahan dengan Panglima TNI Agus Subiyanto. Keduanya dikawal ketat oleh sejumlah anggota TNI. Tidak banyak ruang bagi Nanang untuk berbicara dengan sahabat lamanya ketika itu.

“Kemudian saya berubah pikiran, nggak jadi ngobrolin masalah itu karena banyak sekali sepertinya rekan-rekan saya yang ingin aktif di MBG,” tambang Nanang.

Nanang beruntung karena batal membicarakan soal pembukaan SPPG kepada Dadan. Sebab, lima bulan setelah pertemuan itu, Dadan rupanya dicokok Kejaksaan Agung (Kejagung) lantaran dugaan korupsi. Dadan diduga memanfaatkan posisinya sebagai Kepala BGN untuk menunjuk yayasan pengelola SPPG yang terafiliasi dengannya.

Direktur Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus Kejagung Syarif Sulaeman Nahdi mengatakan yayasan-yayasan yang ditunjuk mengelola SPPG ini juga diduga terafiliasi dengan Dadan dan dua wakilnya, yaitu Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung. Ketiganya diduga melakukan pengaturan verifikasi pada Portal Mitra BGN dengan memberi catatan khusus atau atensi untuk SPPG tertentu agar diloloskan.

“Yayasan tersebut mendapatkan insentif miliaran rupiah setiap hari dan yayasan tersebut terafiliasi di antaranya dimiliki oleh Saudara DH (Dadan Hindayana), Saudara SS (Sony Sonjaya), dan Saudara LP (Lodewyk Pusung),” terang Syarief pada Rabu, 3 Juni 2026.

Dua hari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Dadan lebih dulu dipecat dari jabatannya. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pencopotan Dadan dilakukan setelah Presiden melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama 1,5 tahun.

Dalam evaluasinya, kata Pras, Presiden Prabowo Subianto menerima sejumlah catatan terkait masalah kedisiplinan dalam menjalankan standard operating procedure (SOP) pelaksanaan program MBG. Selain itu, ada juga masalah dalam sistem tata kelola BGN.

"Termasuk kedisiplinan di dalam menjaga kualitas dari makanan yang seharusnya sudah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional," ujar Pras pada Selasa, 2 Juni 2026.

Prabowo mengaku sangat berat mencopot Dadan dari posisinya. Namun dia juga mengaku begitu kecewa atas apa yang telah Dadan lakukan.

Potret Dadan Hindayana saat menjabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang tengah menjalin kerja sama dengan Kejaksaan Agung untuk pengawasan program MBG, Jakarta, Selasa (17/3/2026). 
Foto : Gilang Faturahman/detikfoto

Sembari menghela napas panjang, Prabowo mengungkit penghargaan Bintang Jasa Utama yang diberikannya kepada Dadan pada Februari 2026. Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk rasa terima kasih negara atas jasa dan pengabdian Dadan terhadap kemajuan bangsa melalui program MBG.

Namun kini Dadan seolah merusak citra penghargaan itu lantaran dugaan kasus korupsi yang menjeratnya. Bagi Prabowo, itu sama saja seperti melecehkan negara.

“Saya tidak mau bahwa Pemerintah Republik Indonesia tidak dihormati. Saya tidak mau uang rakyat dicuri,” pungkas Prabowo di hadapan 12 ribu penggerak dan mitra MBG di Sentul, Bogor, pada Rabu, 3 Juni lalu.

Setelah pencopotan dan penetapan tersangka itu, Dadan sempat buka suara. Dia menghormati keputusan Presiden atas pencopotannya itu. Namun dia belum memberikan sepatah kata pun terkait dengan penetapannya sebagai tersangka.

Kepada reporter detikX, Dadan pernah mengklaim sudah cukup berhasil melaksanakan program prioritas Presiden ini. Dia memulainya dari nol, sejak 6 Januari 2025. Hingga April 2026, sudah ada total 26.600 SPPG yang berdiri.

“Jadi, perkembangannya cukup pesat dalam waktu 1 tahun 4 bulan dan sekarang sudah mencakup hampir 79 persen dari total penerima manfaat yang akan kita layani,” kata Dadan, dua bulan sebelum dia ditetapkan sebagai tersangka korupsi tata kelola MBG.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE