Ilustrasi : Edi Wahyono
Kamis, 18 April 2024Jauh dari kerabat dan keluarga besar, Bagus merasa beruntung bisa mendapatkan cuti ayah selama 15 hari kerja. Setelah bekerja selama enam tahun di perusahaan startup ‘decacorn’ Malaysia bercabang di Singapura, Bagus bahkan bisa menambah cuti ayahnya dengan lima hari cuti emergency leave, yaitu cuti darurat ketika ada keluarga yang sakit.
“Syarat mengambilnya cuma (bilang) mau menemani istri melahirkan, kadang-kadang bisa diambil satu minggu sebelumnya. Atau mau diambil mendadak juga bisa,” ungkap Bagus kepada detikX.
Selama mengambil cuti ayah tersebut, ternyata Bagus dan istrinya mesti menghadapi hal di luar dugaan. Seusai persalinan, anak pertamanya harus bolak-balik dua kali ke instalasi gawat darurat (IGD). Bagus dan istrinya bergantian berjaga di rumah sakit ketika putranya harus rawat inap.
Kendati demikian, Bagus mengakui mulanya sempat bingung bagaimana cara menemani istri setelah melahirkan dengan memanfaatkan waktu cuti yang telah diberikan. Dibantu oleh orang tuanya, Bagus belajar apa saja yang ia bisa lakukan untuk membantu perawatan anaknya.
“Cuma ya itu, saya juga bingung gimana cara nemenin is
Aku disarankan oleh dokter untuk tidak mengemudi (mobil) selama enam minggu, tidak membungkuk untuk memandikan bayi. Sehingga suamiku mengambil tugas itu serta hal lainnya yang bisa dia lakukan untuk membantu saya mengurus bayi dan rumah tangga. Jadi, kupikir dua minggu terlalu singkat, apalagi jika menjalani operasi caesar.”
Lambat laun Bagus menyadari pentingnya peran suami untuk mendukung istrinya. Istrinya sempat didiagnosis postpartum depression atau depresi setelah melahirkan. Dari sini Bagus mulai belajar peka untuk memperhatikan kebutuhan istrinya selama proses terapi tersebut. “Cari konseling untuk meminimalisir efek samping dari postpartum itu. Sama cari-cari info-info lagi gimana caranya supaya lebih sensitif (sebagai suami),” terang Bagus.
Bagus cukup kaget ketika mendengar bahwa di Indonesia, menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan, hak cuti ayah yang diperoleh hanya dua hari. “Apalagi misalnya nggak ada yang bantuin ya. Misalnya orang ini nggak bisa minta tolong ibunya membantu, itu susah banget ya. Jadi dua hari menurut saya sih gimana ya, bakal stres sih,” ujar laki-laki berusia tiga puluhan tersebut.
Tak terbayangkan jika seandainya Bagus hanya mendapat cuti beberapa hari. Sebab, untuk mengurus administrasi, seperti akta, paspor, serta visa anak, paling minimal setidaknya membutuhkan tujuh hari kerja. Belum lagi seperti keadaannya jika ada kondisi anak yang membutuhkan perawatan lebih di rumah sakit.
Meski bagus merupakan karyawan asing, perusahaan tempatnya bekerja memberlakukan peraturan yang merujuk pada peraturan negara setempat. Cuti ayah di Malaysia dan di Singapura telah diatur oleh Undang-Undang Ketenagakerjaan masing-masing. Setiap perusahaan bisa memberikan cuti ayah lebih lama dari yang sudah ditetapkan.
Di Malaysia, cuti ayah yang wajib diberikan adalah tujuh hari. Ini merupakan aturan terbaru yang berlaku sejak 2023. Sebelumnya, cuti ayah di Malaysia hanya tiga hari. Sedangkan di Singapura dua minggu atau 14 hari. Cuti tersebut dibayar oleh pemerintah Singapura seperti yang tertulis pada laman Kementerian Ketenagakerjaan Singapura.
Namun baru-baru ini Singapura memperbarui aturan tentang cuti ayah. Anak-anak Singapura yang lahir pada atau setelah 1 Januari 2024, ayahnya dapat mengambil cuti yang dibayar pemerintah (government-paid paternity leave) selama empat minggu, naik dua minggu dari sebelumnya. Tambahan dua minggu tersebut akan diberikan secara sukarela oleh pemberi kerja, yang tambahan itu akan mendapat penggantian upah dari pemerintah.
Di Asia, cuti ayah terpanjang dimiliki oleh Jepang dan Korea Selatan, yakni mencapai 52 minggu lamanya. Meski terdengar menggiurkan, kenyataannya, menurut Kyodo News, karyawan laki-laki Jepang mengambil cuti mengasuh anak kurang dari tiga bulan selama setahun terakhir. Ada kekhawatiran pelambatan karier jika mengambil cuti lebih lama.
Bagaimana dengan Cuti Ayah di Eropa?
Belen Wilson baru-baru ini membagikan ingatannya menyoal cuti ayah yang diperoleh suaminya dalam cuitannya di media sosial. Pada 2007 lahir anak pertamanya melalui operasi caesar, suaminya memperoleh cuti selama dua minggu. Meski demikian, Belen merasa itu jauh dari ideal.
“Aku disarankan oleh dokter untuk tidak mengemudi (mobil) selama enam minggu, tidak membungkuk untuk memandikan bayi. Sehingga suamiku mengambil tugas itu serta hal lainnya yang bisa dia lakukan untuk membantu saya mengurus bayi dan rumah tangga. Jadi, kupikir dua minggu terlalu singkat, apalagi jika menjalani operasi caesar,” kata Belen, yang tinggal di Inggris, kepada detikX.
Sejak 2007, cuti ayah selama dua minggu cukup lumrah diberikan oleh perusahaan di Inggris. Sebab, regulasi dari pemerintah mengatur mengenai cuti ayah berbayar selama dua minggu dengan beberapa syarat yang ditentukan.
Ternyata, hingga 2024 kini, tak ada banyak perubahan menyoal lama cuti ayah di Inggris. Pemerintah Inggris memang menaikkan upah yang mereka bayarkan kepada karyawan yang mengambil cuti ayah setelah 6 April 2024, tapi lama waktu yang diperoleh masih dua minggu saja.
Sebelum 6 April, cuti ayah dibayarkan maksimal 172,48 pound sterling per minggunya atau sekitar Rp 3,4 juta. Setelah 6 April, terdapat kenaikan upah yang dibayarkan menjadi 185,03 pound sterling per minggu atau sekitar Rp 3,7 juta.
Mengutip BBC News, seorang ayah di Inggris, Sean Craig, dan istrinya, Bethany Lee, memutuskan tidak mengambil cuti ayah berbayar di Inggris selama dua minggu. Jika mengambil cuti ayah, Sean tidak akan memperoleh bayaran penuh seperti jika ia bekerja pada hari normal. Ia mengantisipasinya dengan mengambil cuti tahunan, sehingga upah mingguan yang diperolehnya merupakan upah normal.
“(Gaji saat cuti ayah) itu bahkan bukan gaji dua shift saya dalam seminggu,” kata Sean. "Saya tidak akan mampu membayar sewa tempat tinggal saya (dengan gaji sebesar itu),” lanjutnya.
Lebih beruntung dari Sean, Tom Mills bekerja di bank online Inggris, perusahaannya memberikan hak cuti ayah yang melampaui peraturan pemerintah Inggris. Tom Mills diberi cuti kerja selama 13 minggu dengan gaji penuh.
“Ini memberi saya kesempatan untuk menjadi ayah yang lebih baik,” kata Tom.
Uni Eropa menetapkan undang-undang cuti minimal 14 minggu bagi ibu dan, sejak 2022, dua minggu bagi ayah. Pada 1990-an, Norwegia menjadi negara pertama yang memberikan empat minggu cuti berbayar kepada ayah, disusul Swedia dua tahun kemudian. Setelah itu, setiap negara Uni Eropa mulai melakukan hal yang sama dengan durasi cuti ayah yang berbeda-beda.
Baca Juga : Cuti Ayah 40 Hari untuk Tebus Kewajiban

Ilustrasi ayah dan anak.
Foto : iStockphoto
Sampai saat ini, Swedia dinobatkan menjadi negara tertinggi ayah mengambil hak cuti merawat anak mereka. Sebuah studi yang diterbitkan pada 2023 oleh Swedish Social Insurance Inspectorate menyebutkan bahwa hanya 18 persen ayah yang memiliki anak yang lahir pada 2017 belum menggunakan tunjangan cuti orang tua apa pun.
Memberikan hak cuti yang cukup untuk mendukung kesehatan dan keseimbangan pengasuhan anak antara perempuan dan laki-laki dipercaya oleh International Labour Organization (ILO) sebagai bentuk investasi bidang perawatan yang berdampak pada pengentasan masyarakat dari kemiskinan.
Selain menyoroti pentingnya perlindungan dan hak cuti berbayar bagi perempuan, ILO juga menyoroti masih rendahnya lama cuti ayah yang diberikan dan bayaran selama cuti ayah yang digelontorkan. Ini menyebabkan rendahnya karyawan laki-laki yang mengambil hak tersebut.
Dampaknya, terdapat kesenjangan cuti gender yang besar. Artinya, ada kemungkinan perempuan mesti mengorbankan karier mereka.
“Kita perlu memikirkan kembali cara kita memberikan kebijakan dan layanan pengasuhan sehingga membentuk sebuah kontinum pengasuhan yang memberikan awal yang baik bagi anak-anak, mendukung perempuan untuk tetap bekerja dan mencegah keluarga atau individu jatuh ke dalam kemiskinan,” kata Manuela Tomei, Direktur Departemen Kondisi Kerja dan Kesetaraan ILO.
Reporter: Ani Mardatila
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Luthfy Syahban